OPINI
Milenial Berpotensi Terpapar Radikalisme
KATA radikal makin sering dibicarakan dalam forum diskusi dan kehidupan seharihari, setelah adanya serangan WTC di Manhattan, Amerika Serikat (AS)
Mencantumkan organisasi Islam terbesar di negeri ini di teks bacaan buku Sekolah Dasar tentu ada unsur lain dibalik tersebut. Setidaknya, ada upaya untuk mengenalkan gerakan radikal yang salah kaprah di sekolah.
Kejelian para pendidik tentu sangat dibutuhkan agar informasi yang disampaikan tidak salah dan menyesatkan pemahaman siswa.
Apalagi yang dididik adalah siswa sekolah dasar yang baru saja mengenal istilah radikal, dan bila tidak segera diluruskan tentu akan menancap di memorinya hingga dewasa bahkan masa tua.
Kini menyebaran informasi tentang radikalisme baik yang berhubungan dengan agama berbalut politik, makin marak di media sosial.
Media sosial memang menjadi ladang subur bagi kelompok radikalis untuk menarik perhatian para remaja dan anakanak di kalangan milenial.
• Ajak Milenial Disiplin di Jalan
Media sosial dengan beragam versi dan turunannya, memberi ruang terbuka dan bebas untuk menyampaikan paham radikal.
Generasi milenial dibidik mengingat generasi ini memiliki sikap skeptis dan hemat serta perseptif (Pew research, 2013). Sikap ini memberi angin segar pada kelompok radikal untuk membidiknya menjadi sasaran untuk menarik menjadi kader, dan mendidiknya melalui media online.
Adapun media sosial yang cukup efektif, menurut para ekstrimis untuk menyebarkan paham radikal, yakni youtube, twitter dan game.
Mengapa facebook ditinggalkan oleh kaum radikal sebagai media untuk menyebarakan paham radikal, karena facebook memiliki perangkat yang cukup sensitive terhadap kata-kata atau muatan foto dan video yang mengandung unsur radikal.
Sensor pendeteksi ujaran kebencian sangat sensitif, sehingga banyak temuan para peneliti yang menyebutkan bahwa facebook relative aman dari pengaruh radikal.
Situs microblogging seperti Twitter menghadirkan lebih banyak keuntungan bagi kelompokkelompok ekstremis karena ketertelusuran identitas dan sumber tweet lebih sulit dicapai, sehingga meningkatkan potensi komunikasi untuk perekrut (Crettiez, 2011; Quilliam, 2014; Menkhaus, 2014).
Analisis feed Twitter yang dihasilkan oleh kelompokkelompok ekstremis brutal menunjukkan bahwa mereka sebagian besar digunakan untuk terlibat dengan oposisi dan pihak berwenang, dalam apa yang tampaknya merupakan tweetclash yang memobilisasi kedua belah pihak, dan juga digunakan untuk provokasi (Quilliam, 2014).
Selain twitter, youtube juga menjadi media yang efektif bagi kalangan radikal untuk memberikan tutorial kelompok radikal. The Quilliam Report (2014) menerbitkan analisis komprehensif tentang konten video ekstremis kekerasan Islamis yang diterbitkan di YouTube.
Ini menggambarkan bagaimana konten menargetkan audiens yang simpatik, dan fokus pada pendidikan dan memuji para martir, dengan konten kekerasan yang kurang jelas seperti bom bunuh diri.
Ini mungkin merupakan strategi implisit untuk menumbangkan label ekstremis yang dapat menyebabkan pemerintah memblokir atau menyensor, atau membuat YouTube bertindak secara proaktif dan menghapus konten yang melanggar pedoman penggunanya (Quilliam, 2014; Vergani & Zuev, 2015).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/dr-pitoyo.jpg)