Upah Tak Kunjung Dibayar, Buruh Pabrik Plywood di Samarinda Geruduk Kantor Perusahaan
Upah Tak Kunjung Dibayar, Buruh Pabrik Plywood di Samarinda Geruduk Kantor Perusahaan
Penulis: Christoper Desmawangga | Editor: Rita Noor Shobah
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Upah Tak Kunjung Dibayar, Buruh Pabrik Plywood di Samarinda Geruduk Kantor Perusahaan
Buruh pabrik PT RRL kembali menuntut hak-haknya.
Kali ini buruh mendatangi kantor utama perusahaan yang terdapat di Jalan P Antasari, Samarinda Ulu, Selasa (29/10/2019).
BACA JUGA
Kisah Selingkuh Ibu Kepala Sekolah dengan Wakil, Lebih Muda 8 Tahun, Ekspresi Suami Ngamuk di Hotel
Detik-detik Perwira Wanita TNI AD Dianiaya di dalam Mobil Usai Berbelanja, Polisi Cium Aroma Dendam
Minum Air Mentimun Setiap Hari, Jangan Kaget, Inilah 9 Manfaat yang Akan Terjadi di Tubuh Anda!
Tersangka Arnelia Putri Wulandari Peragakan Cara dan Kronologis Pembunuhan Bayinya Sendiri
Bahkan, dari informasi yang didapatkan, para buruh telah berada di kantor perusahaan sejak Senin (28/10/2019) kemarin.
"Sejak kemarin kita sudah di sini, bahkan kita menginap.
Buruh sudah cukup bersabar dengan kondisi seperti ini,
kami ingin perusahaan bertanggung jawab," tegas Ketua SBSI Hukatan Kukar, Malijanus Baharuddin, Selasa (29/10/2019).
Ketua DPC PS Kahutindo Kukar, Mustain menambahkan, sesuai dengan hasil mediasi yang dilakukan Disnaker Kaltim bersama buruh dan pihak perusahaan beberapa waktu lalu,
tanggal 29 Oktober 2019 pihak perusahaan akan melakukan pembayaran upah bulan September.

BACA JUGA
Sweeping Pakai Patroli Motor, Operasi Zebra di Samarinda Polisi Kejar Pengendara yang Coba Kabur
Sebesar Inilah Jumlah Dukungan yang Harus Dipenuhi Bagi Calon Independen Maju di Pilkada Samarinda
Buruh mulai melunak dengan fokus pada tuntutan pembayaran upah.
Padahal, permasalahan lain terkait dengan pemenuhan hak-hak karyawan, seperti iuran BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan juga tidak dibayarkan perusahaan,
termasuk penggantian uang berobat buruh, walaupun setiap bulannya upah buruh selalu dipotong.
"Kita konsentrasi diupah dulu, padahal masalah BPJS juga ada.
Upah yang belum dibayarkan dua bulan, September dan Oktober," katanya.
"Kita tunggu keseriusan perusahaan, termasuk Pemerintah yang memediasi kami, kita komunikasi terus dengan mereka,
tentu harapan kami para buruh, agar pembayaran dapat dilakukan hari ini," katanya.
Dirinya menjelaskan, ada sekitar 1.170 buruh pabrik yang nasibnya belum jelas karena pembayaran upah yang tidak kunjung diberikan.
BACA JUGA
BPJS Kesehatan Sosialisasikan Penyesuaian Program JKN KIS di UWGM Samarinda
Pengumuman Pendaftaran Seleksi CPNS di Samarinda Kaltim akan Disampaikan November Ini
Gagal di Pemilihan Gubernur dan DPR RI, Rusmadi Ingin Maju di Pilwali Samarinda, Ini Alasannya
Saat ini aktivitas pabrik lumpuh total, disebabkan karena rusaknya power pembangkit listrik.
"Aktivitas terhenti, sepekan kedepan mungkin bisa normal lagi," tuturnya.
Sementara itu, Florida (52) salah satu buruh mengaku, dirinya butuh uang bukan janji-janji.
Pasalnya, wanita empat anak itu butuh untuk membayar sewa rumah dan biaya kuliah anaknya.
"Kami butuh duit, mau bayar rumah, kuliah anak dan makan.
Tolong dibantu, kami ini hanya buruh kecil. Kalau tidak terealisasi hari ini,
kami tidak percaya lagi sama Gubernur," ucapnya yang telah bekerja selama 16 tahun di perusahaan produksi plywood tersebut.
Selain upah yang tidak kunjung dibayarkan,
dirinya juga mempertanyakan kemana uang hasil pemotongan gaji mereka yang harusnya dibayarkan untuk BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.
BACA JUGA
Tunggu Pembeli di Pinggir Jalan Daerah Samarinda, Buruh Ini Diamankan Beserta Ribuan Pil Double L
Video Viral di Facebook, Wanita Mabuk Buka Baju di Jalan dan Pukul Lelaki, di Samarinda Juga Ada
Daftar Harga Eceran & Grosir Komoditi Pangan di Pasar Tradisional Samarinda Hari Senin (28/10/2019)
"BPJS dan JHT juga tidak dibayarkan, kemana uang kami yang selalu dipotong perusahaan.
Keluarga kami mau berobat kesulitan, bahkan ada yang tidak bisa pulang karena tidak ada biaya," tuturnya.
Massa aksi hingga saat ini masih berada di sekitar kantor utama PT RRL, menunggu pembayaran upah para buruh. (*)