Jumat, 24 April 2026

Berita Bontang Terkini

Selama Pandemi Covid-19, Pedagang Olahan Laut Bontang Kuala Mendadak Melarat

Ia berprofesi sebagai pedagang olahan laut di Destinasi wisata Bontang Kuala, mendadak melarat sejak merebaknya virus corona

Penulis: Ismail Usman | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/ISMAIL USMAN
Salah satu pedagang olahan laut Bontang Kuala.TRIBUNKALTIM.CO/ISMAIL USMAN 

TRIBUNKALTIM.CO, BONTANG- Harun (56) hanya bisa meratapi nasibnya dalam hati.

Ia berprofesi sebagai pedagang olahan laut di Destinasi wisata Bontang Kuala, mendadak melarat sejak merebaknya virus corona yang disusul beberbagai kebijakan pembatasan aktifitas masyarakat.

Padahal dulunya, setiap akhir pekan dagangan nya kerap laris diborong wisatawan luar yang sedang berwisata di Bontang Kuala.

Kadang kalau pengunjung ramai dimusim liburan, omsetnya bisa mencapai Rp 500 ribu hingga satu juta.

Baca juga: Kasus Covid-19 tak Kunjung Turun, Walikota Balikpapan Sebut PPKM Kemungkinan Diperpanjang

Baca juga: Kebakaran Terjadi di Warung Makan Samarinda, Api Diduga Berasal dari Kompor yang Masih Menyala 

Baca juga: SAH, Pasangan Fahmi-Masitah Jadi Bupati dan Wakil Bupati Paser Terpilih

Bahkan di hari biasa kadang dapat Rp 300 ribu.

Namun sejak pandemi covid-19 mewabah, pandapatan mulai merosot.

Adanya kebijakan pembatasan khususnya ditempat wisata membuatnya harus kencangkan ikat pinggang.

Saban hari dagangannya nyaris tak laku. Padahal, usaha yang ditekuninya puluhan tahun itu jadi satu-satunya sumber pendapatan keluarga.

Meski begitu, ia tak sekalipun berencana menutup sementara dagangannya. Dirinya tak patah semangat menunggu berjam-jam di lapak yang berukuran 4x3 meter itu.

Sialnya, seharian menunggu, dagangan tak kunjung laku. Kalaupun ada kadang hanya satu. Hasilnya juga tak cukup untuk makan keluarga.

Baca juga: Gubernur Lantik 236 Pejabat di Lingkup Pemprov Kaltim, Isran Noor: Bekerja Sesuai Amanah

Baca juga: Kisah IRT Edarkan Uang Palsu di Balikpapan, Sudah Belanjakan Rp 800 Ribu, Terancam Dibui 15 Tahun

"Kadang seharian enggak dapat pembeli," terangnya saat disambangi lapaknya, Minggu (24/01/2021).

Pria tua tiga anak itu bercerita, jika dirinya hanya tinggal berdua dengan istrinya yang bermukim di Bontang Kuala. Syukurnya ketiga putranya tak lagi hidup serumah dengannya.

"Iya saya cuman berdua di rumah. Anak saya sudah nikah dan tinggal di rumahnya masing-masing. Sudah pada mandiri," terangnya.

Sehingga beban biaya hidup tak cukup banyak. Saat awal pandemi, ia merasa terbantu atas kebijakan jaring pengaman sosial yang berupa Bantuan Langsun Tunai (BLT) Rp 600 ribu dari Pemkot Bontang.

Ditambah lagi adanya kebijakan susulan yang menggeratiskan pembayaran listrik dan air selama tiga bulan.

Namun ia sesalkan, BLT serta penggeratisan pembayaran listrik dan air hanya bertahan tiga bulan. Usai itu ternyata prekonomian keluarga tak kunjung membaik.

Agar tetap bertahan hidup, Harun (56) kini harus berbagi porsi pekerjaan dengan sang istri.

Baca juga: Imbas Pandemi, Target PAD Bontang 2021 Kembali Menyusut

Baca juga: Main Game Berujung Penjara, Pemuda Loktuan Bontang Tega Bogem Rekanya Yang Masih di Bawah Umur

Dirinya terpaksa melaut menangkap ikan jenis belanak kecil, yang dijual untuk umpan para pemancing.

Sementara, sang istri harus jaga dagangan yang sejatinya jadi sumber pendapatan utama keluarga.

Hasilnya tak banyak, hanya 20 ribu. Kalau rejeki sedang bagus kadang bisa dapat 50 ribu per hari.

"Iya harus kerja sama dengan istri. Saya pergi cari ikan dilaut. Istri jaga dagangan," tuturnya.

Ia pun berharap, meski pandemi ini belum berakhir, namun setidaknya setiap kebijakan pemerintah tak semestinya mengorbankan sejumlah pengusaha kecil.

Khususnya para pedagang yang berada di destinasi wisata.

"Iya minimal, solusi mengenai masalah ekonomi kita juga harus dipikirkan," pungkasnya.

Penulis: Ismail Usman/ Editor: Samir Paturusi

Sumber: Tribun Kaltim
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved