Senin, 27 April 2026

Virus Corona

Berbeda dengan Indonesia, Thailand Campur Vaksin Sinovac dan AstraZeneca, WHO: Berbahaya

Badan Kesehatan Dunia ( WHO) menegur keras Pemerintah Thailand karena mencampur vaksin Covid-19 pada program vaksinasi nasional untuk warganya

STR / AFP
Ilustrasi, Foto yang diambil pada 30 Maret 2021 ini menunjukkan seorang anggota staf medis bersiap untuk memberikan dosis vaksin virus Corona Covid-19 Sinovac di sebuah universitas di Qingdao di provinsi Shandong timur China. Berbeda dengan Indonesia, Thailand campur vaksin Sinovac dan AstraZeneca, WHO: Berbahaya 

Pihak berwenang berusaha meningkatkan vaksinasi untuk mengurangi tingkat rawat inap dan kematian, karena lonjakan infeksi baru membanjiri sistem kesehatan masyarakat negara itu.

Covid-19 Thailand dilaporkan mencatat 11.784 kasus baru pada Senin (19/7/2021), peningkatan satu hari tertinggi sejak pandemi dimulai.

Peningkatan infeksi terjadi ketika hotspot di negara itu memasuki minggu kedua tindakan pembatasan Covid-19 paling ketat dalam lebih dari setahun.

Baca juga: Terbukti Ampuh Cegah Covid-19, Singapura Ikuti Indonesia, Akui Warganya yang Gunakan Vaksin Sinovac

Strategi vaksin terbaru Thailand ini menyimpang dari rencana awalnya yang hanya mengandalkan vaksin AstraZeneca, yang diproduksi secara lokal oleh Siam Bioscience Ltd., untuk memberikan 10 juta suntikan per bulan.

Dengan dua pertiga dari produksi lokal AstraZeneca yang dijadwalkan untuk ekspor, Thailand diperkirakan hanya menerima sekitar lima juta dosis per bulan.

Alhasil para pejabat terpaksa menemukan cara untuk meningkatkan pasokannya, termasuk diskusi tentang pembatasan ekspor.

Langkah pemerintah Thailand memunculkan reaksi keras di dalam negeri.

Partai oposisi menilai pemerintah tidak memiliki rencana untuk mengurangi risiko atau mengantisipasi ketidakpastian.

Baca juga: Antibodi Vaksin Sinovac Punya Nilai Tinggi Lawan Covid-19, Tapi Turun Setelah 6 Bulan, Benarkah?

“Pemerintah telah bekerja berdasarkan asumsi berdasarkan skenario kasus terbaik dan meremehkan situasi,” kata Wiroj Lakkhanaadisorn, anggota parlemen dari partai oposisi Move Forward melansir .

“Kematian dan kerugian ekonomi dapat dihindari dengan perencanaan dan manajemen yang lebih baik,” tambahnya.

Para pejabat sebelumnya membatasi penggunaan suntikan vaksin Sinovac untuk perawatan kesehatan dan pekerja garis depan.

Tetapi kemudian, penggunaan vaksin buatan China itu diperluas untuk daerah dengan wabah, atau dengan rencana untuk dibuka kembali untuk turis.

Menurut data Kementerian Kesehatan Thailand, sampai saat ini negara tersebut telah memiliki 14,2 juta dosis, cukup untuk menutupi sekitar 10 persen dari populasinya.

Komposisinya, vaksin Sinovac mencapai 53 persen, diikuti oleh AstraZeneca sebesar 44 persen, dan Sinopharm sebesar 3 persen. (*)

Berita Virus Corona

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved