Breaking News:

Virus Corona di Penajam

Dampak Pandemi Covid-19 di Penajam, Literasi dan Numerasi Pendidikan Tertinggal 6 Bulan

Akibat dari situasi pendami Covid-19 yang terjadi hampir dua tahun ini berdampak buruk bagi kemajuan belajar siswa di Kabupaten Penajam Paser Utara

Penulis: Dian Mulia Sari | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/DIAN MULIA SARI
Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Kemendikbudristek, Jumeri saat berkunjung ke Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa (23/11/2021). Jelaskan soal dampak pendemi Covid-19 bagi dunia pendidikan.┬áTRIBUNKALTIM.CO/DIAN MULIA SARI 

TRIBUNKALTIM.CO, PENAJAM - Akibat dari situasi pendami Covid-19 yang terjadi hampir dua tahun ini berdampak buruk bagi kemajuan belajar siswa di Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur.

Penerapan sekolah daring yang terjadi selama satu tahun lebih itu mengakibatkan siswa-siswi kehilangan kemajuan dalam melaksanakan pembelajaran.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Kemendikbudristek, Jumeri saat kunjungannya di SMPN 1 Penajam Paser Utara (PPU).

Dia mengungkapkan bahwa akibat pandemi Covid-19, membuat kemajuan belajar siswa cenderung tertinggal setara enam bulan setalah melakukan kegiatan belajar di rumah hampir dua tahun.

Baca juga: Program Sekolah Penggerak di Penajam Paser Utara, Tata Cara Belajar Sangat Berbeda

Baca juga: Konsep Sekolah Penggerak di Penajam Paser Utara, Diterapkan pada 12 Titik

Baca juga: Kadisdikbud Jafar Sidik Wajibkan Kepsek di Tana Tidung Ikut Program Sekolah Penggerak

Literasi dan numerasi kita tertinggal sekitar enam bulan. Ada masa ketika hampir dua tahun siswa siswi belajar di rumah.

"Itu tetap ada hasil hanya saja dibandingkan dengan keadaan normal itu tertinggal enam bulan," ujar Jumeri, Selasa (23/11/2021).

Sehingga, dikatakan Jumeri, Kemendikbudristek memberikan program pemulihan pembelajaran.

Yaitu kurikulum darurat, dimana dalam kurikulum tersebut tidak memberikan banyak konten pembelajaran sehingga siswa-siswi tidak terlalu terbebani.

Baca juga: Gara-gara 2 Program Prioritas Ini, PPU Terpilih Sebagai Sekolah Penggerak Bersama 500 Kabupaten/Kota

Sekarang ada program pemulihan pembelajaran. Kalau berikan kurikulum yang sama kurikulum2013 denga beban yang berat siswa-siswi akan kesulitan.

"Makanya beban diturunkan supaya yang hal-hal essentials kita ajarkan yang lainnya dipelajari sendiri supaya beban tidak terlalu berat," ujarnya.

Dikatakannya, dengan menerapkan kurikulum darurat tersebut, terbukti bahwa sekolah yang menetap kurikulum darurat mampu mengurangi ketertinggalan pembelajaran

Ternyata terbukti yang sekolah sekolah yangg menerapkan kurikulum darutatkecepatan ketertinggalannya tidak terlalu besar.

"Dibandingkan dengan yang melaksanakan kurikulum normal," jelasnya. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved