Berita Samarinda Terkini

Ojek Online Ingin Pemerintah Kembali Buka Peluang BBM Turun, Termasuk Tarif Biaya Sewa Aplikasi

Kenaikan Bahan Bakar Minyak bersubsidi jenis Pertalite dari Rp7.650 menjadi Rp10.000 dianggap memberatkan para pekerja sektor transportasi ojek online

Penulis: Mohammad Fairoussaniy | Editor: Aris
TRIBUNKALTIM.CO/MUHAMMAD FAIROUSSANIY
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gabungan Aksi Roda Dua (DPD Garda) Kaltim, Fadhel Balher saat ditemui disela kegiatannya. (TRIBUNKALTIM.CO/MUHAMMAD FAIROUSSANIY) 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Kenaikan Bahan Bakar Minyak bersubsidi jenis Pertalite dari Rp7.650 menjadi Rp10.000 dianggap memberatkan para pekerja sektor transportasi ojek online (ojol) di Provinsi Kaltim.

Tak hanya karena BBM, faktor tarif sewa aplikasi juga turut dikeluhkan mitra pengemudi ojol yang juga dianggap malah membuat sepi orderan juga menimbulkan gejolak.

Meski tak bisa berbuat banyak, para perwakilan ojol terus menyuarakan dan melakukan diskusi ke pihak-pihak terkait agar keluhan merekan segera didengar.

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Gabungan Aksi Roda Dua (DPD Garda) Kaltim, Fadhel Balher mengungkapkan bahwa rekan-rekan ojol di Kabupaten/Kota Kaltim sangat merasakan dampakndari kenaikan BBM ini.

Baca juga: Anggota Komisi IV DPRD Samarinda Sebut Perda Anjal Gepeng Tidak Berjalan Baik

Dari yang semula jika mengisi Pertalite Rp 30-35 ribu/ per harinya, kini harus merogoh kocek Rp40 ribu, ini pun juga belum full pada tanki kendaraan bermotor para pekerja ojol.

"Teman-teman tentu terbebani biaya operasional, begitu naiknya harga BBM sangat terbebani sekali, karena naiknya 50 persen. Sebaiknya kalau kami jangan naiklah, karena terbukti juga 10 bahan pokok juga ikut naik, termasuk BBM sangat vital untuk ojol ya," harapnya, Rabu (28/9/2022).

Fadhel juga menyinggung soal penyesuaian tarif oleh pihak aplikator yang memang secara keekonomian bisa menaikkan pendapatan mitra pengemudi.

Tetapi, tarif sewa yang kini masih jadi polemik para mitra pengemudi juga dianggapnya bisa beriimbas bagi pendapatan.

Baca juga: Pelatih Baru Borneo FC Samarinda Andre Gaspar Komentari Terkait Laga Jelang Melawan Madura United

Tidak hanya aplikator, dalam jangka panjang pemotongan biaya sewa aplikasi ini akan berdampak pada berkurangnya insentif mitra pengemudi.

Akan ada efek domino, dari berkurangnya insentif untuk mitra pengemudi, turut berkurangnya program marketing untuk konsumen yang pastinya bisa merugikan ekosistem bisnis ojol.

"Memang ada kenaikan tarif ojol, tetapi menurut kami tidak signifikan, pihak aplikasi juga kami minta agar menurunkan per order itu 10-15 persen, ini (tarif sewa) juga menimbulkan polemik di lapangan," ungkapnya.

Secara gerakan nasional, Garda Kaltim juga turut berkomunikasi ke Kementerian Perhubungan RI. Serta Presiden RI melalui KSP.

Baca juga: Oknum Staf Kelurahan di Samarinda Protes Biaya SKCK, Ini Penjelasan Kapolresta Samarinda

"Tetapi kami juga menekankan (ke Presiden) untuk aplikasi agar menurunkan biaya sewa (aplikasi) juga," sebut Fadhel.

Penyesuaian tarif juga diminta agar bisa ditetapkan sesuai dengan daya masyarakat dalam menggunakan jasa transportasi ojol ini.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved