Lansia Tewas Saat Kebakaran di Samarinda

Kronologis Tragedi Kebakaran yang Tewaskan Tuan Rumah di Pelita 7 Samarinda

Tragedi kebakaran yang merenggut nyawa di Perumahan Sambutan Indah Permai Pelita 7, Kelurahan Sambutan, Kecamatan Sambutan masih menjadi perbincangan.

Penulis: Rita Lavenia | Editor: Aris
TRIBUNKALTIM.CO/RITA LAVENIA
kondisi di dalam rumah pasca terjadi kebakaran pada Minggu (3/10/2022) sore kemarin di Jalan Pelita 7 Samarinda. (TRIBUNKALTIM.CO/RITA LAVENIA) 

TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA - Tragedi kebakaran yang merenggut nyawa di Perumahan Sambutan Indah Permai Pelita 7, Kelurahan Sambutan, Kecamatan Sambutan masih menjadi perbincangan warga Kota Samarinda.

Untuk menggali informasi lebih dalam, Tribunkaltim.co mencoba mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) yang tepatnya berada di Jalan Pipit, RT 35 tersebut, Senin (03/10/2022).

Pukul 14.20 WITA langkah ini tiba di TKP yang dimaksud.

Nampak sebuah bangunan bercat hijau lumut dengan atap genteng hitam yang mulai pudar menandakan rumah tersebut telah berumur menyambut pandangan pewarta ini.

Baca juga: BREAKING NEWS Kebakaran di Pelita 7 Samarinda, Seorang Lansia Meninggal Dunia

Pecahan kaca nampak memenuhi area teras rumah. Mengintip ke dalam area yang telah terpasang police line, terlihat bangunan nyaris masih utuh.

Hanya saja seluruh bagian plafon dan barang yang ada nampak sudah habis terbakar. Hanya bagian ruang tamu ini yang habis terbakar.

Nampak juga sebuah coretan stabilo pink bekas olah TKP dan identifikasi oleh Unit Inafis Satreskrim Polresta Samarinda terlihat menandai posisi terakhir Iskanah (60) pemilik rumah sekaligus korban dalam musibah kebakaran yang terjadi pada Pukul 16.25 WITA, Minggu (02/10) kemarin.

Ya, tubuh malang perempuan lanjut usia (lansia) ini ditemukan tengah terbakar di pojok ruang tamu rumahnya.

Baca juga: Komisi II DPRD Samarinda Ingin Pemkot Lakukan Komunikasi dengan PKL yang Ditertibkan

Dari keterangan Ida (38) salah seorang tetangga, korban memang hidup sebatang kara semenjak ditinggal untuk selamanya oleh sang suami.

"Dia (korban) dari Jawa Timur. Tidak ada sanak family di Samarinda kecuali anak tirinya, itupun tidak serumah," jelas Ida bersama dua tetangga lainnya.

Selain itu, ungkapnya, korban memang sudah menderita stroke sejak 10 tahun lalu.

Oleh sebab itu untuk beraktivitas sehari-hari korban hanya bisa merangkak dari tempat satu ke ruang lainnya.

Baca juga: Ratusan Guru di Samarinda Demo, Tolak Surat Edaran Penyelarasan Insentif Guru dan Tenaga Pendidik

"Ada yang urus (asisten rumah tangga) itu dibayar anak tirinya. Untuk makan juga dari anak tirinya itu,

Tapi tidur sendiri. Memang almarhum yang tidak mau ditemani tidur. Jadi yang bantu (ART) bulak balik aja," jelas Ida lagi.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved