Berita Paser Terkini
Kancapem Bulog Tanah Grogot Harap Petani Lokal Manfaatkan Fleksibilitas Harga Beras
Kantor Cabang Pembantu (Kancapem) Badan Urusan Logistik (Bulog) Tanah Grogot tengah melakukan penyerapan beras lokal
Penulis: Syaifullah Ibrahim | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO, TANA PASER - Kantor Cabang Pembantu (Kancapem) Badan Urusan Logistik (Bulog) Tanah Grogot tengah melakukan penyerapan beras lokal.
Penyerapan tersebut menyasar dua wilayah yaitu Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara (PPU), dengan target 700 ton beras, Selasa (4/6/2024).
Asisten Manajer Kancapem Bulog Tanah Grogot, Lucky Ali Akbar mengatakan serapan beras lokal yang dilakukan mengalami fleksibilitas harga hingga Rp11.000 per kilogram.
"Sebelumnya Rp.9.950 untuk kelas beras medium, kami mengimbau kepada gabungan kelompok tani (Gapoktan) di Paser dan PPU untuk bekerjasama dengan Bulog setelah mengalami fleksibilitas harga sejak April hingga Juni," terang Lucky.
Baca juga: Tingkatkan Kualitas Beras Lokal, Distanak Berau Bakal Hibahkan Vertical Dryer untuk Buyung-Buyung
Baca juga: Penyebab Produksi Beras Lokal di Kutai Timur Menurun 50 Persen
Dengan adanya fleksibilitas harga tersebut, dapat dijadikan peluang bagi petani lokal dalam meraup keuntungan lebih banyak.
"Hanya saja kondisinya, petani menginginkan harga beli beras yang lebih tinggi lagi," tambahnya.
Seperti halnya yang terjadi di Kabupaten PPU, ada ratusan ton beras yang tidak terserap lantaran petani menginginkan harga beli Rp12.000 per kilogram.
"Bukan berarti Bulog tidak menyerap beras lokal, ada persyaratan maupun aturan yang harus ditaati dan dipenuhi. Itulah yang membuat kami terbatas, dalam hal melakukan serapan beras petani lokal," ungkapnya.
Lucky mengaku tidak bisa berbuat banyak terkait permasalahan tersebut, namun pihaknya sudah mencoba melakukan komunikasi kepada Bapanas.
Terlebih, harga serapan beras lokal tersebut sudah ditetapkan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas).
"Dasar penentuan harga itu dari peraturan Bapanas, Bulog sebagai operator dan regulator Bapanas. Jadi yang menentukan harga itu Bapanas bukan Bulog, dan harga ini berlaku merata secara nasional," ungkap Lucky.
Dengan berlakunya harga skala nasional, kondisi geografis di masing-masing wilayah di Indonesia menentukan hasil panen dengan ukuran sawah dan modal yang sama.
Baca juga: Cara Tingkatkan Kualitas Beras Lokal di Berau, Andalkan Kampung Buyung-Buyung
Hal tersebut dikarenakan, hasil panen antara Pulau Jawa dan Sulawesi memiliki perbedaan dengan wilayah di Pulau Kalimantan Timur.
"Satu hektar di Jawa dan Sulawesi beda hasilnya dengan satu hektar di Kaltim, karena rendeman. Dengan modal yang sama, satu hektar di Jawa mendapatkan 8 ton, sedangkan di Kaltim hanya mencapai 5 ton dan itu sudah hebat karena rata-rata berkisar 3,5 sampai 4 ton," pungkas Lucky. (*)
Ikuti berita populer lainnya di Google News Tribun Kaltim
Ikuti berita populer lainnya di saluran WhatsApp Tribun Kaltim
Kideco Run 2025, Ribuan Pelari Sumbang 4.100 Pohon untuk Paser |
![]() |
---|
APBD Paser Berpotensi Terdampak, BKAD Tunggu Kepastian Dana Transfer ke Daerah |
![]() |
---|
DPRD Paser Apresiasi Pembangunan IPA di Batu Sopang, Tekankan Pengelola Teliti dalam Distribusi |
![]() |
---|
32 Ribu Warga Paser Akan Rasakan Air Bersih dari Instalasi Pengelolaan Air yang Dibangun Kideco |
![]() |
---|
Alasan Pemerintah Kecamatan Muara Paser Luncurkan Inovasi Pembuatan Peta Indikatif Desa |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.