Mengenal Takahe Burung Prasejarah yang tak Bisa Terbang, Sempat Dibilang Punah, Kini Ditemukan Lagi

Takahe, burung yang mudah dikenali di antara pegunungan di Selandia Baru dengan penampakan bulu biru-hijau

Editor: Budi Susilo
Wikimedia Commons/Pseudopanax
Bukan hanya keajaiban biologis, munculnya takahe menghidupkan kembali komitmen suatu bangsa untuk melestarikan keanekaragaman hayati yang unik. (Wikimedia Commons/Pseudopanax) 

TRIBUNKALTIM.CO, SELANDIA BARU - Mengenal Takahe, burung prasejarah yang tidak bisa terbang.

Satwa mungil ini sempat dibilang punah, namun kini ditemukan lagi.

Takahe, burung yang mudah dikenali di antara pegunungan di Selandia Baru dengan penampakan bulu biru-hijau mencolok dan tubuh besar. 

Sayangnya, burung bernama Latin Porphyrio hochstetteri ini sempat menghilang hingga dinyatakan punah oleh para ahli biologi pada 1898.

Selama puluhan tahun, manusia pun meyakini tidak akan dapat menjumpai spesies takahe di mana pun. 

Baca juga: Diskusi Tematik dan Panggung Kreasi, Rayakan Hari Satwa , Membahas Pentingnya Jaga Ekosistem

Tidak disangka, burung ini mampu bertahan hidup, tersembunyi di lembah-lembah pegunungan terpencil.

Penemuan kembali pada 1948 bak anugerah bagi suku Maori, penduduk Selandia Baru, yang menganggapnya sebagai taonga atau harta karun. 

Bukan hanya keajaiban biologis, munculnya takahe menghidupkan kembali komitmen suatu bangsa untuk melestarikan keanekaragaman hayati yang unik. Resolusi Tahun Baru dari Kerasnya Dunia Kurir ”Upstream” 

Takahe yang punah ditemukan kembali berkat jejak kaki Dilansir dari Forbes, Minggu 22 Desember 2024, selama hampir setengah abad, burung takahe diyakini telah punah dari permukaan bumi. 

Populasi takahe yang memang sudah berkurang menjadi musnah oleh kedatangan hewan pendamping pemukim Eropa, seperti cerpelai, kucing, musang, dan tikus.

Namun, pada 1948, serangkaian petunjuk misterius, seperti suara burung tidak dikenal dan jejak kaki tidak biasa di dekat Danau Te Anau, Selandia Baru, kembali menghidupkan harapan.

Baca juga: Satwa Langka Orangutan Kalimantan Masih Banyak Diekspolitasi

Geoffrey Orbell, seorang dokter medis yang memiliki minat pada sejarah alam pun mulai membentuk tim kecil untuk menyelidiki. 

Pada 20 November 1948, dia dan timnya memulai ekspedisi menantang ke Pegunungan Murchison yang terjal dan terpencil.

Layaknya pegunungan yang keras, lokasi tersebut diliputi lembah curam serta vegetasi yang lebat.

Berbekal sedikit naluri dan beberapa alat, mereka menjelajahi medan yang sangat terpencil sehingga jarang atau bahkan belum pernah dijajaki.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved