Berita Balikpapan Terkini

Transformasi Hijau Kalimantan Timur, Tantangan Ketergantungan Batu Bara di Tengah Tren Energi Global

Ketergantungan terhadap sektor batubara kini menjadi tantangan utama bagi provinsi tersebut di tengah tren global penurunan permintaan batubara

TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD ZEIN RAHMATULLAH
TRANSISI ENERGI - Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau, Dicky Edwin Hindarto, menyampaikan materi dalam pelatihan di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (4/6/2025). Dia mendorong Kaltim untuk segera melakukan transformasi ekonomi menyusul tren penurunan permintaan batubara global. (TRIBUNKALTIM.CO/MOHAMMAD ZEIN RAHMATULLAH) 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Kalimantan Timur dinilai memiliki potensi energi yang sangat besar. Namun, ketergantungan terhadap sektor batubara kini menjadi tantangan utama bagi provinsi tersebut di tengah tren global penurunan permintaan batubara.

Ketua Dewan Pembina Yayasan Mitra Hijau, Dicky Edwin Hindarto, mengungkapkan bahwa Kalimantan Timur memiliki ketersediaan energi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan di seluruh wilayahnya.

Namun, ia menyoroti peluang penurunan pendapatan daerah yang selama ini sangat bergantung pada sektor batubara pasca perkiraan penurunan permintaan global.

“Transformasi ekonomi harus dilakukan, menuju arah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tegas Dicky di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (4/6/2025).

Menurut Dicky, ketergantungan terhadap energi fosil, khususnya batubara, bukan hanya menjadi persoalan Kalimantan Timur, melainkan juga banyak daerah lain di Indonesia.

Baca juga: Permintaan Global Batubara Diprediksi Turun Tajam, Transisi Energi Jadi Solusi

Oleh karena itu, transformasi ekonomi dianggap sebagai langkah penting yang tidak dapat dihindari.

Proses transisi energi dan transformasi ekonomi yang berkeadilan, kata Dicky, tidak dapat terjadi secara instan.

Menurutnya, dibutuhkan pendanaan yang cukup, penguatan kapasitas pemangku kepentingan, serta regulasi yang mendukung dari pemerintah daerah.

Pernyataan Dicky tersebut sejalan dengan prediksi penurunan permintaan batubara global dalam beberapa dekade mendatang. 

Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa permintaan batubara akan menurun secara signifikan, terutama jika seluruh negara menjalankan komitmen iklim masing-masing.

Baca juga: Sampah Plastik Ancam Ekologi Samarinda, Wali Kota Andi Harun Tekankan Perubahan Budaya Masyarakat

Tiga skenario utama yang dipetakan IEA, yakni Stated Policies Scenario (STEPS), Announced Pledges Scenario (APS), dan Net Zero Emissions by 2050 Scenario (NZE), memperlihatkan tren penurunan konsumsi batubara di seluruh sektor pengguna.

Skenario NZE bahkan menunjukkan penurunan permintaan lebih dari 70 persen sebelum tahun 2050 dibandingkan dengan tingkat konsumsi tahun 2021.

Penurunan paling tajam terjadi pada sektor pembangkit listrik, yang selama ini menjadi konsumen utama batubara.

Pergeseran menuju energi terbarukan dan penggunaan teknologi rendah karbon mendorong terjadinya transisi ini secara global.

Kalimantan Timur pun disebut Dicky harus bersiap menghadapi pergeseran ini, dengan membangun ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Baca juga: Pama Baya Kerjasama dengan Koramil 0906-14, Beri Materi Wawasan Kebhinekaan di SMP SPT Separi Kukar

Dicky menekankan bahwa perubahan ini tidak hanya soal energi, tetapi juga soal keadilan sosial dan kesempatan ekonomi yang merata bagi seluruh masyarakat.

“Tanpa tata aturan yang memadai dan dukungan semua pihak, proses perubahan ini tidak akan berjalan optimal,” tegas Dicky. (*)

Ikuti berita populer lainnya di Google NewsChannel WA, dan Telegram.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved