Virus Corona di Balikpapan

Akademisi Sebut Vaksin tak Berarti Bebas Covid, Prokes Tetap Dijalankan, PDB Diprediksi Tumbuh 3%

Penulis: Heriani AM
Editor: Rahmad Taufiq
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

Vaksin Covid-19 buatan Sinovac yang didistribusikan PT Bio Farma tiba di Kaltim belum lama ini. TRIBUNKALTIM.CO/DWI ARDIANTO

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN- Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah menerima 25.520 vaksin covid-19 pada 5 Januari 2021 lalu.

Tahap awal, usai mendapatkan izin edar Badan POM, vaksin tersebut akan diberikan kepada 12.760 tenaga kesehatan di 10 kabupaten dan kota di Kalimantan Timur.

Keberadaan vaksin adalah upaya untuk menekan angka kasus covid-19 yang kian meningkat di Kaltim.

Pemberian vaksin adalah langkah yang dinilai paling jitu untuk mengurangi jumlah kasus infeksi covid-19.

Baca juga: Tak Kantongi IMB, Pemkot Balikpapan Didesak Hentikan Pembangunan PT KRN di Teluk Waru

Baca juga: 350 Orang Dimakamkan Secara Protokol Covid-19 di Samarinda, Satgas Minta Warga tak Anggap Sepele

Baca juga: Efektivitas Rapid Test Antigen di Balikpapan, 97,16 Persen Pelaku Perjalanan Udara Gunakan PCR

Namun demikian, menurut pengamat ekonomi dan akademisi di Balikpapan, Dr Didik Hadiyatno, seyogyanya vaksin bukan pusat atensi saat ini.

Masyarakat tetap harus menjalankan protokol kesehatan yang ada.

"Vaksin ini, jumlahnya masih terbatas untuk tenaga kesehatan. Vaksin pun bukan suatu obat. Sifatnya untuk mencegah," ujar Dr Didik Hadiyatno, Selasa (12/1/2021).

Menurutnya, masyarakat sendiri harus tetap proaktif menjalankan protokol kesehatan, sudah divaksinpun, bukan berarti sebebas-bebasnya.

Masyarakat masih tetap harus membiasakan diri dengan 3 M saat keluar rumah.

"Namun dengan keberadaan vaksin, dampak akan Virus Corona akan jauh terkurangi," tuturnya.

Sebelumnya, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI ) menegaskan, perbaikan perekonomian bergantung pada kecepatan pemerintah dalam melakukan program vaksinasi nasional.

Menurut Kepala Pusat Penelitian Ekonomi (P2E) LIPI, Agus Eko Nugroho, program vaksinasi nasional akan mendorong ekspektasi sektor konsumsi.

LIPI, lanjutnya, telah membuat simulasi pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 2021 berdasarkan capaian program vaksinasi.

Menurutnya, bila tahun depan berjalan tanpa vaksin, PDB hanya akan tumbuh di kisaran 1,57 persen - 2,07 persen.

Namun, bila vaksinasi telah dilakukan sebanyak 30 persen, pertumbuhan ekonomi akan tumbuh 2,99 persen - 3.49 persen.

Kemudian bila proses vaksinasi telah mencapai 50 persen, pertumbuhan PDB diprediksi tumbuh 3 persen - 3,7 persen.

Namun demikian, apabila pemerintah mampu mengupayakan keberadaan vaksin bisa mencapai 4 persen saja bisa menjadi suatu prestasi.

(TribunKaltim.co/Heriani)