Opini
Fenomena Self-Diagnose Kesehatan Mental di TikTok
Isu tentang kesehatan mental sedang sangat naik dan menjadi topik yang sering muncul di berbagai media sosial termasuk TikTok
Pola seperti inilah yang menunjukan bahwa kecenderungan melakukan self-diagnose sudah ada sebelum era digital, hanya saja kemasannya yang berbeda.
Kini, kepercayaan tradisional itu sekarang berubah menjadi bentuk baru yang tampil di media sosial yang dikemas lebih modern, namun pola pikirnya masih sama.
Fenomena naiknya tren self-diagnose ini meningkat drastis sejak pandemi COVID-19.
Pada masa pandemi, banyak orang yang mengalami perubahan di hidupnya.
Pembelajaran dilakukan secara online di rumah, aktivitas luar ruangan dibatasi ketat, dan interaksi sosial yang berkurang drastis dapat menjadi faktor-faktor yang membuat banyak orang mengalami perubahan besar di hidupnya.
Kondisi inilah yang membuat banyak remaja merasa kesepian, cemas, dan tertekan.
Media sosial terutama TikTok yang kemudian menjadi tempat pelarian sekaligus tempat untuk mencari pemahaman diri.
Ketika seseorang melihat konten yang mirip dengan apa yang terjadi di diri mereka, muncullah perasaan terhubung dan tervalidasi.
Hal inilah yang membuat kecenderungan diri mereka untuk melakukan self-diagnose yang akhirnya terus berlanjut sampai sekarang meskipun pandemi telah berakhir.
Beberapa faktor utama yang membuat self-diagnose begitu mudah untuk diakses adalah meningkatnya kesadaran tentang kesehatan mental yang tidak diiringi dengan akses layanan psikologis yang memadai.
Selain itu, masih ada stigma bahwa seseorang yang pergi ke psikolog dianggap “tidak normal”, sehingga banyak orang yang mencari jawaban sendiri atau internet.
Baca juga: Sebaran Psikolog Klinis di Kalimantan Timur, Ini Daerah dengan Jumlah Terbanyak
Influencer juga berperan besar dalam membentuk persepsi publik.
Banyak pembuat konten besar yang menceritakan tentang pengalaman pribadi mengenai ADHD, anxiety, atau gangguan kepribadian lainnya dengan cara pembawaan yang emosional sehingga dapat menarik para penonton.
Cerita mereka biasa seringkali dikemas dengan estetis sehingga mudah dipercaya oleh para penonton, walaupun tidak semua informasi mereka memiliki dasar ilmiah yang kuat.
Algoritma media sosial terutama TikTok juga sering kali memerangkap pengguna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20251212_Zahira-Rachmawati-mahasiswi-jurusan-Psikologi-di-Universitas-Muhammadiyah-Malang.jpg)