Opini
Kesaksian Abad: Sumber Daya Alam, Kesultanan dan Republik
Pertemuan Presiden dan Sultan Kutai menjadi pengingat bahwa pembangunan tak bisa dipisahkan dari sejarah dan kearifan lokal
Demi meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya, Sultan Aji Muhammad Sulaiman pernah membuka pintu kerja sama.
Bukan menjual negeri, bukan menggadaikan martabat, tetapi membaca zaman dengan kecerdasan seorang pemimpin adat.
Fakta tak bisa dipungkiri: Pertamina, yang dulu bernama BPM Belanda, diizinkan menambang minyak di Balikpapan.
Kontraktornya? Mathilda dan J.H. Menten, di Sanga-Sanga, tahun 1898.
Angka-angka ini bukan gosip, bukan hoaks media sosial, melainkan data sejarah yang terlalu lama tidur di lemari arsip.
Tahun 1886, konsesi batu bara diberikan kepada Oost Borneo Maatschappij (OBM) di Loa Kulu, mensuplai batu bara untuk pembangkit listrik di Tenggarong dan Samarinda.
Listrik menyala, peradaban bergerak, dan sejarah mencatat tanpa perlu tepuk tangan.
Bidang perkebunan karet, pertanian, dan kayu, dikelola oleh NVD - BPM.
Lagi-lagi, bukan cerita baru, hanya cerita lama yang jarang diulang.
Lalu 1968, lahirlah Pertamina, integrasi dari Pertamin dan Permina, anak kandung republik yang darah sejarahnya juga mengalir dari bumi Kalimantan Timur.
Masih banyak kisah tersembunyi, yang tak sempat jadi buku teks, yang tak sempat jadi museum, yang hanya hidup dalam ingatan segelintir orang yang menolak lupa.
Maka jika hari ini terjadi kelalaian, jangan buru-buru menunjuk satu jari, karena empat jari lain mengarah ke diri sendiri.
Ketidaktahuan adalah ibu dari kelalaian, dan kelalaian sering lahir secara berjamaah.
Antara KSP, Pertamina, protokol Pemprov, dan Pemkot, semua sibuk dengan jadwal, sibuk dengan rundown, sibuk dengan posisi berdiri, hingga lupa posisi sejarah.
Tak satu pun mampu sepenuhnya menangkap alam pikir Yang Mulia Presiden. Padahal kita tahu, RI 1 bukan pemimpin ecek-ecek, bukan pembaca cepat tanpa pemahaman, ia dikenal sangat menghargai sejarah dan pemangku budaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260114_Abdul-Rachim-HKA-Bambang-Oeban.jpg)