Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Kesaksian Abad: Sumber Daya Alam, Kesultanan dan Republik

Pertemuan Presiden dan Sultan Kutai menjadi pengingat bahwa pembangunan tak bisa dipisahkan dari sejarah dan kearifan lokal

Tayang: | Diperbarui:
HO/DOK PRIBADI
Abdul Rachim, HKA Bambang Oeban. 

Namun apa boleh buat, nasi sudah jadi bubur, dan bubur tak perlu dimaki, cukup diberi kecap agar bisa ditelan dengan bijak.

Apakah kita harus menghujat? Memaki? Membakar emosi di linimasa? 

Tidak.

Karena kemarahan tak pernah menyelesaikan kelalaian administratif. 

Yang Mulia Sultan Kutai pun
pasti memaklumi. Bukan karena lemah, tetapi karena arif. Karena beliau tahu, niat buruk dan niat lalai adalah dua hal berbeda. 

Banyak yang sudah mengingatkan: melalui surat, tulisan media, hingga video. Namun sejarah memang sering kalah cepat oleh agenda protokoler. 

Janganlah peristiwa ini menjadi pemicu ketidakharmonisan anak bangsa. Karena harmoni lebih mahal daripada ego institusi. 

Kami yakin, semua pihak sudah saling menegur. Bukan untuk mempermalukan, melainkan untuk kebaikan bersama. 

Sebab, kehati-hatian adalah kewajiban setiap kali Yang Mulia Presiden hadir, bukan hanya soal pengamanan fisik, tetapi juga pengamanan makna. 

Sebab, akar Pancasila adalah budaya, bukan beton, bukan baja, bukan spreadsheet. Ia tumbuh dari nilai, adat, dan kearifan lokal yang tak bisa dipindahkan dengan satu klik. 

Maka mari kita berdamai dengan saudara kita yang lalai akan masa lalu. Bukan dengan memaafkan tanpa belajar, tetapi dengan mengingatkan tanpa menyakiti.

Karena bangsa besar bukan bangsa yang tak pernah salah, melainkan bangsa yang mau belajar dari kesalahan bersama.

Jangan pernah berhenti saling mengingatkan tentang cerita leluhur. Bukan untuk hidup di masa lalu, tetapi agar masa depan tak kehilangan arah. Supaya NKRI tetap utuh dan kuat, bukan hanya di peta, tetapi di hati. 

Dan kelak, ketika anak cucu kita menyambut Indonesia Emas, mereka tidak hanya mewarisi gedung-gedung tinggi, tetapi juga kesadaran sejarah yang matang. 

Karena peradaban sejati bukan soal siapa berdiri di depan, melainkan siapa yang tidak dilupakan di belakang. (*)

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved