Opini
Menjalankan Amanah Sebagai Koordinator Widyaiswara
Musyawarah Widyaiswara BPSDM Kaltim menetapkan kepengurusan baru 2026 demi penguatan kualitas pelatihan ASN
Bersyukur saya dibantu Mas Muhammad Deny Syachroni sebagai Wakil Koordinator Widyaiswara. Jabatan ini baru terbentuk untuk Kepengurusan Tahun 2026. Itupun juga atas usulan rekan-rekan Widyaiswara sebelum pemilihan pengurus.
Sepertinya kawan-kawan tidak mau kalah dengan konsep pemikiran Presiden Prabowo, terkait dengan pemekaran kementerian. Tapi tunggu dulu, jika membandingkan dengan konsep pemikiran presiden tentu "tidak apple to apple", karena di kepengurusan widyaiswara sama sekali tidak menggunakan anggaran daerah, apalagi anggaran negara. Para pengurus tidak diberikan tunjangan pengurus atau insentif apapun. Mereka dengan suka rela berhikmat untuk menjalankan amanah yang diberikan rekan-rekan widyaiswara.
Mas Roni ini sarjananya bidang Tafsir Hadist dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogjakarta dan Magister Manajemen Universitas Islam Indonesia (UII) Yogjakarta.
Karena memiliki basis keagaman yang kuat, maka tidaklah mengherankan jika Mas Roni juga diberi amanah sebagai Ketua Takmir Masjid "Tarbiyatul Muttaqiin, BPSDM Kaltim.
Ia sangat hafal dengan berbagai aturan kewidyaiswaraan. Orangnya lucu. Apalagi kalau saya satu Tim mengajar materi Outbound, wah senang banget. Banyak game-game yang bisa dimainkan, membuat suasana menjadi hidup, tanpa mengurangi makna dan tujuan permainan.
Ia juga satu-satunya pengajar "Anti Korupsi" dalam berbagai pelatihan, setelah satu orang kawan saya, Imbran, dipromosikan menjadi Pejabat Administrator pada Biro Pengadaan Barang dan Jasa Setda Prov. Kaltim.
Bersyukur juga saya dibantu "Bunda Surmi", sebagai Sekretaris Widyaiswara. Sebutan "Bunda" ini baru saja diberikan di Bulan Januari ini oleh Mbak Endang, Widyaiswara Ahli Muda.
Sahabat saya "Bunda Surmi" ini orangnya cekatan. Lulusan S1 Sastra Inggris dari Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, dan S2 Manajemen Sistem Informasi Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta.
Di samping tugas pokoknya, ia juga sebagai dosen STMIK Borneo Internasional, Balikpapan. Selain itu, sebagai tenaga pengajar Bahasa Inggris pada Madrasah Aliyah Darul Ulum, Penajam.
Kalau bekerja "satset-satset". Tidak banyak bicara, tapi bukan berarti pendiam. Semua tugas dikerjakan dengan teliti. Termasuk membuat notulen hasil rapat dan menjadi narahubung dengan pejabat struktural maupun fungsional di BPSDM Kaltim.
Sebagai Widyaiswara Ahli Pertama, Bunda Surmi cepat melakukan penyesuaian dan menguasai serta menyintai profesi yang diemban. Demikian juga 4 (empat) Widyaiswara Ahli Pertama yang lain, yaitu Novi Satria, Fauziah, Hermi dan Muhammad Ridwan. Semuanya tipe pembelajar.
Tentu tidak mudah mengkoordinir Widyaiswara yang memang memiliki kemampuan akademik dan pengalaman yang tinggi. Dari 16 orang widyaiswara, 25 persen di antaranya memiliki gelar akademik tertinggi, yaitu doktor (S-3), 6,25 persen kandidat doktor, 6,25 persen memiliki dua gelar S-2. Selebihnya 62,50 persen bergelar S-2, baik dari dalam maupun luar negeri.
Di luar tugas kedinasan, kawan-kawan juga ada yang diminta menjadi dosen di Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta, serta ada juga yang diminta menjadi dosen di Luar Negeri.
Moga amanah yang diberikan kawan-kawan dapat saya laksanakan dengan penuh tanggungjawab, dan menjadi amal kebajikan kelak di Hari Akhir. Aamiin. (*)
| Pertamax Naik, Pukulan Telak Bagi Masyarakat Kelas Menengah |
|
|---|
| Memahami Modus Operandi Begal via Teori Pilihan Rasional dan Aktivitas Rutin |
|
|---|
| Membaca Pikiran Anderiy Syachrum: Kejutan Gerbong Baru, Kabinet Ramping, dan Formula Menuju PON 2028 |
|
|---|
| Benalu di Balik Jubah Suci |
|
|---|
| Koperasi Merah Putih: Jangan Terjebak pada Gedung, Bangunlah Ekosistemnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260126_Jauhar-Efendi-Koordinator-Widyaiswara.jpg)