OPINI
Mengapa Beberapa Anak yang “Nakal” di Sekolah Justru Berprestasi di Kemudian Hari?
Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana beberapa anak yang dulu sering dianggap “nakal” di sekolah, ternyata justru berprestasi di kemudian hari.
Ketika mereka mempertanyakan mengapa harus berpakaian seragam, atau mengapa aturan tertentu diberlakukan tanpa penjelasan yang masuk akal, mereka sebenarnya sedang mengasah kemampuan analitis dan evaluatif untuk memahami dan mungkin "mengakali" sistem yang mereka hadapi.
Pertanyaan-pertanyaan yang dianggap membangkang itu adalah bentuk awal dari skeptisisme intelektual, sebuah benih berpikir kritis.
Dalam konteks yang lebih ekstrem, ketika mereka merencanakan aksi membolos misalnya dengan memetakan pergerakan guru, mengidentifikasi titik lemah sistem keamanan sekolah, atau berkoordinasi dengan teman melalui kode rahasia, tanpa sadar mereka sedang melakukan perencanaan strategis, manajemen risiko, dan pemecahan masalah kompleks.
Proses kognitif ini sangat mirip dengan yang digunakan dalam dunia bisnis, rekayasa, atau penelitian. Penting untuk dicatat bahwa kecerdasan yang digunakan dalam aktivitas seperti ini tidak terukur oleh tes IQ konvensional.
Seperti ditegaskan oleh Farrington (2005) dalam penelitiannya tentang asal-usul perilaku antisosial, tidak ada hubungan langsung antara IQ rendah dan kenakalan.
Kecerdasan Praktis
Artinya, anak yang terlihat "nakal" bisa jadi memiliki kecerdasan praktis atau sosial yang tinggi. Kecerdasan untuk bertahan dan menemukan solusi dalam lingkungan yang menekan yang justru kurang dihargai dalam setting akademik formal.
Pengalaman berulang menghadapi konsekuensi dari kesalahan mereka sendiri juga membentuk suatu ketahanan mental yang unik, yang merupakan fondasi utama untuk adaptasi jangka panjang.
Setiap kali mereka dihukum, ditegur, atau gagal dalam aksinya, mereka dipaksa untuk bangkit, mengevaluasi ulang strategi, dan mencoba lagi dengan pendekatan yang berbeda.
Siklus trial and error ini, meski terlihat negatif di permukaan, melatih resilience, kemampuan untuk pulih dari kesulitan yang menjadi komoditas sangat berharga dalam dunia yang penuh ketidakpastian seperti sekarang.
Inilah esensi dari bertahan: kemampuan untuk bangkit setelah "terpukul" oleh kegagalan atau hukuman.
Penelitian oleh Ungar dkk. (2013) tentang ketahanan remaja menunjukkan bahwa remaja yang sering menghadapi kesulitan dan belajar mengatasinya justru mengembangkan mekanisme koping dan kemampuan adaptasi yang lebih kuat.
Baca juga: 10 Manfaat Mendapatkan Gelar di Bidang Psikologi untuk Karier Gemilang Jangka Panjang
Dalam perspektif psikologi perkembangan, Carol Dweck (2006) dalam bukunya Mindset menjelaskan bahwa anak-anak yang terbiasa menghadapi tantangan dan kegagalan tanpa sadar melatih mereka dan menjadi tempat mereka belajar untuk mengembangkan growth mindset, yang mana dalam pol aini Tony Buzan dalam buku Buku: The Power of Creative Intelligencepercaya bahwa Kecerdasan bukanlah sesuatu yang dimiliki.
Kecerdasan adalah sesuatu yang Anda lakukan. Hal ini yang jadi penopang kuat untuk prestasi jangka panjang dan merupakan pola pikir adaptif par excellence.
Lalu, di mana peran kita sebagai pendidik, orang tua, atau masyarakat? Memberi hukuman dan label negatif secara membabi-buta hanya akan mengubur potensi ini dan memperkuat siklus perilaku negatif, alih-alih membentuk adaptasi yang positif.
Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan mengakui dan mengalihkan energi serta keterampilan adaptif yang sudah mereka miliki ke saluran yang lebih konstruktif.
| Pertamax Naik, Pukulan Telak Bagi Masyarakat Kelas Menengah |
|
|---|
| Memahami Modus Operandi Begal via Teori Pilihan Rasional dan Aktivitas Rutin |
|
|---|
| Membaca Pikiran Anderiy Syachrum: Kejutan Gerbong Baru, Kabinet Ramping, dan Formula Menuju PON 2028 |
|
|---|
| Benalu di Balik Jubah Suci |
|
|---|
| Koperasi Merah Putih: Jangan Terjebak pada Gedung, Bangunlah Ekosistemnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Adnan-paliwa.jpg)