OPINI
Mengapa Beberapa Anak yang “Nakal” di Sekolah Justru Berprestasi di Kemudian Hari?
Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana beberapa anak yang dulu sering dianggap “nakal” di sekolah, ternyata justru berprestasi di kemudian hari.
Oleh: Muh Adnan Malewa
Mantan wartawan, sekarang menjabat Widyaiswara Kemendikdasmen di Kalimantan Utara.
TRIBUNKALTIM.CO - Pernahkah Anda memperhatikan bagaimana beberapa anak yang dulu sering dianggap “nakal” di sekolah, kurang disiplin, nilai pas-pasan, atau bahkan sering melanggar aturan ternyata justru berprestasi di kemudian hari.
Mereka tumbuh menjadi orang yang sukses, baik sebagai pengusaha, pemimpin, atau profesional yang dihormati? Fenomena ini bukanlah kebetulan belaka.
Ada dinamika psikologis dan sosial yang menarik di baliknya, yang jika dipahami dengan baik, dapat membantu kita mendidik anak dengan lebih holistik, tanpa terjebak pada stigma sempit.
Dalam kerangka yang lebih luas, kita bahkan bisa melihatnya melalui lensa evolusioner yang sederhana: bukan yang paling kuat atau paling patuh yang bertahan, melainkan yang paling mampu beradaptasi.
Prinsip adaptasi ini, yang sering dikaitkan dengan Charles Darwin, menemukan bentuknya yang menarik dalam konteks perkembangan anak.
Mereka yang disebut "nakal" ini, seringkali adalah ahli adaptasi dalam ekosistem sosial dan struktural yang kaku.
Anak-anak yang sering melanggar aturan atau terlihat kurang tertib dalam struktur sekolah sebenarnya sedang mengembangkan seperangkat keterampilan yang sering luput dari pengukuran akademik tradisional.
Baca juga: Cara Memantau Siapa yang Sering Chat dengan Anak di WhatsApp
Mereka mungkin tidak unggul dalam ujian tertulis, tetapi mereka terlatih dalam membaca situasi sosial, membangun jaringan, dan beradaptasi dengan cepat.
Dalam pergaulan mereka yang cair dan sering kali lintas kelompok, mereka belajar bagaimana bernegosiasi, mencari dukungan, dan bekerja sama bahkan jika itu untuk tujuan yang kurang positif seperti membolos atau menghindar dari tugas.
Namun, sisi positifnya, mereka tumbuh sebagai kolaborator alami, mereka beradaptasi dengan lingkungan sosialnya untuk bertahan dan berkembang.
Penelitian longitudinal selama 50 tahun oleh Damian, Spengler, Sutu, dan Roberts (2019) dalam Journal of Personality and Social Psychology menunjukkan bahwa sifat-sifat seperti berani menantang aturan (rule-breaking) pada masa remaja justru memiliki korelasi positif dengan pencapaian karier dan pendapatan yang lebih tinggi di usia dewasa.
Hal ini disebabkan, para penentang aturan ini sering kali lebih terbuka terhadap pengalaman baru, lebih berani mengambil risiko yang terukur, dan lebih terampil dalam navigasi sosial, semua kualitas yang sangat dibutuhkan dalam dunia inovasi dan kepemimpinan, dunia yang sangat menghargai kemampuan beradaptasi.
Lebih mendalam lagi, anak-anak ini juga kerap melatih pola pikir kritis dan pemecahan masalah tanpa disadari, yang merupakan bentuk lain dari adaptasi kognitif.
| Pengabdian Panjang di Titik Terakhir: Mundur dari Sekretaris YJI Kaltim setelah 24 Tahun Menjabat |
|
|---|
| Rupiah Bukan Sekadar Uang, Ini Makna Kedaulatan di Setiap Transaksi |
|
|---|
| Di Balik Pengangkatan Sekda Neneng Chamelia: Penerapan Manajemen Talenta untuk Promosi Jabatan |
|
|---|
| Catatan 40 Tahun Berkarir sebagai PNS: Merintis Camat Babulu hingga Dua Jabatan Kepala Dinas Baru |
|
|---|
| Menatap Masa Depan ASN Status PPPK: Imbas TKD Turun, Ancaman PHK pada 2027? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Adnan-paliwa.jpg)