OPINI
Kemewahan, Kekuasaan, dan Sensitivitas Sosial
Di era media sosial, pengalaman telah berubah menjadi pernyataan sosial. Liburan tidak sekadar jeda dari rutinitas, tetapi juga simbol identitas.
Menurut laporan BPS, rasio Gini Indonesia pada 2024 tercatat sekitar 0,379 menunjukkan adanya jurang sosial antara kelompok berpenghasilan tinggi dan rendah.
Rasio Gini di atas 0,3 umumnya dipandang sebagai tanda ketimpangan yang material dalam distribusi pendapatan.
Baca juga: Objek Wisata di Berau Siap Hadapi Lonjakan Wisatawan saat Libur Lebaran 2026
Ketimpangan ini tidak hanya berdampak pada peluang ekonomi, tetapi juga pada persepsi sosial tentang keadilan, akses terhadap layanan dasar, dan peluang mobilitas sosial.
Dalam konteks ini, konsumsi simbolik termasuk pariwisata luxury (mewah) tidak bisa dipisahkan dari latar sosial di mana konsumsi itu terjadi.
Kajian empiris menunjukkan bahwa tanpa mekanisme distribusi nilai yang kuat, pertumbuhan pariwisata bisa menginjak ketimpangan.
Misalnya, studi Hasan, (2025) menggunakan data panel provinsi Indonesia menunjukkan hubungan positif antara kinerja pariwisata dengan peningkatan ketimpangan, jika nilai ekonomi dari pariwisata tidak menyebar secara luas ke ekonomi rumah tangga di berbagai tingkatan pendapatan.
Para ahli ekonomi dan sosiologi telah lama memetakan bagaimana konsumsi bisa menjadi bahasa status.
Dalam bukunya berjudul The Theory of the Leisure Class: An Economic Study of Institutions, 1899 Thorstein Veblen menciptakan istilah conspicuous consumption, konsumsi yang dipertunjukkan untuk menunjukkan status sosial.
Dalam masyarakat yang stratifikasi sosialnya masih kuat, konsumsi bukan sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi menjadi simbol identitas dan posisi dalam struktur sosial. Dalam era experience economy yang dikemukakan oleh B. Joseph Pine II dan James H. Gilmore,1998, pengalaman itu sendiri menjadi komoditas.
Liburan premium, layanan eksklusif, dan perjalanan luxury berubah menjadi bentuk konsumsi simbolik.
Bukan hanya “apa yang saya nikmati”, tetapi “apa yang saya representasikan”. Hotel bintang lima, resort privat di pulau terpencil, hingga itinerary mewah bukan lagi sekadar pilihan liburan, ia menjadi tanda dari akses dan kemampuan tertentu simbol yang dipakai untuk menunjukkan status sosial.
Yang menarik adalah ketika simbol simbol itu dipertunjukkan oleh pejabat publik.
Pejabat dan Wisata Mewah
Dalam era digital, unggahan media sosial pejabat yang menunjukkan liburan mewah mulai dari akomodasi premium hingga pengalaman wisata eksklusif bukan terjadi dalam ruang privat.
Setiap posting menjadi konsumsi publik. Unggahan semacam itu, di tengah ketimpangan yang masih nyata, berpotensi memperkuat citra jarak sosial.
Publik tidak sekadar melihat destinasi, ia membaca narasi tentang akses yang berbeda terhadap kenyamanan yang mahal.
| Pertamax Naik, Pukulan Telak Bagi Masyarakat Kelas Menengah |
|
|---|
| Memahami Modus Operandi Begal via Teori Pilihan Rasional dan Aktivitas Rutin |
|
|---|
| Membaca Pikiran Anderiy Syachrum: Kejutan Gerbong Baru, Kabinet Ramping, dan Formula Menuju PON 2028 |
|
|---|
| Benalu di Balik Jubah Suci |
|
|---|
| Koperasi Merah Putih: Jangan Terjebak pada Gedung, Bangunlah Ekosistemnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Syahrul-Poltekba.jpg)