Opini
Usulan Raperda 'Batang Sawit' yang Kebablasan
Awal Tahun 2026, DPRD Provinsi Riau mengusulkan Raperda tentang pengenaan pajak Rp 1.700 per batang pohon sawit per bulan bagi perusahaan sawit.
Pertama, dianggap diskriminatif.
Kedua, sulit untuk diterapkan tentang bagaimana penghitungannya.
Kalau pohon kelapa sawit ditanam di tanah datar, agak mudah menghitungnya, tetapi kalau ditanam di tanah yang berbukit-bukit tentu saja agak sulit menghitung jumlah pohon yang ditanam.
Ketiga, berpotensi membebani petani.
Memang sepertinya usulan pajak 1.700 rupiah per batang per bulan nampak kecil, tapi kalau dihitung per tahun jumlahnya menjadi menjadi 20.400 rupiah.
Kalau per hektar di lahan tanah datar, dengan jarak tanam menggunakan segitiga sama sisi, yaitu 10 m x 10m x 10m, dengan asumsi bibit yang ditanam jenis pelepah panjang, maka jumlah pohon sawit 116 batang.
Tetapi jika asumsi bibit yang ditanam jenis pelepah pendek, maka penghitungan jarak tanam 9m x 9m x 9m. Dengan demikian jumlah pohon sawit yang ditanam sebanyak 143 batang.
Dengan asumsi jumlah pohon sawit per hektar sebanyak 116 batang, berarti petani harus membayar pajak sebanyak 116 x Rp 20.400 = Rp 2.366.400.
Tetapi jika jumlah pohon sawit yang ditanam per hektar sebanyak 143 batang, berarti petani sawit harus membayar sebesar Rp 2.917.00 atau hampir 3 juta rupiah per hektar.
Baca juga: Perusahaan Sawit di Kutai Barat Kucurkan Rp2,2 Miliar Perbaiki Jalan Nasional
Inilah beban yang harus ditanggung oleh petani sawit.
Memang kebutuhan air untuk pohon sawit lebih besar jika dibandingkan dengan pohon kelapa.
Kalau pohon sawit (elaeis guineensis) pada vegetatif/pertumbuhan (0-3 tahun) membutuhkan air antara 120-150 liter/hari per batang.
Sementara kebutuhan air pohon kelapa (cocos nucifera) pada fase vegetatif/pertumbuhan (0-5 tahun) pada kisaran 100-150 liter/hari per batang.
Sedangkan pada fase produksi (4-25 tahun) kebutuhan air untuk pohon sawit pada kisaran 200-250 liter/hari per batang.
Pohon kelapa pada fase produksi (6-60 tahun) antara 150-200 liter/hari per batang.
Untuk diketahui, bahwa kebutuhan air bervariasi tergantung pada pada faktor iklim, tanah dan umur pohon.
| Pertamax Naik, Pukulan Telak Bagi Masyarakat Kelas Menengah |
|
|---|
| Memahami Modus Operandi Begal via Teori Pilihan Rasional dan Aktivitas Rutin |
|
|---|
| Membaca Pikiran Anderiy Syachrum: Kejutan Gerbong Baru, Kabinet Ramping, dan Formula Menuju PON 2028 |
|
|---|
| Benalu di Balik Jubah Suci |
|
|---|
| Koperasi Merah Putih: Jangan Terjebak pada Gedung, Bangunlah Ekosistemnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Jauhar-Efendi-terbaru.jpg)