Rabu, 22 April 2026

OPINI

Kartini Masa Kini: Ketika Perempuan Memilih Berdiri di Atas Kakinya Sendiri

Jika dahulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan, maka perempuan masa kini menghadapi tantangan yang berbeda

|
HO//DOK PRIBADI
HARI KARTINI - Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd, Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Mulia Balikpapan. Ia menulis buah pikirannya soal peringatan Hari Kartini dan masa kini. 

Oleh: Dr. Linda Fauziyah Ariyani, S.Pd., M.Pd.

Dosen Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Mulia Balikpapan

HARI Kartini sering kali kita rayakan dengan kebaya dan seremoni.

Namun sesungguhnya, Kartini bukan tentang masa lalu—ia adalah tentang keberanian yang seharusnya terus hidup hari ini.

Jika dahulu Kartini memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan, maka perempuan masa kini menghadapi tantangan yang berbeda: Bagaimana menjadi mandiri, berdaya, dan mampu menentukan arah hidupnya sendiri.

Di tengah dinamika kehidupan yang semakin kompleks, kemandirian perempuan—terutama secara ekonomi—bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.

Perempuan yang mandiri memiliki ruang untuk mengambil keputusan, memiliki kekuatan untuk bertahan, dan memiliki keberanian untuk bangkit saat keadaan tidak berpihak. Ia tidak mudah runtuh, karena ia memiliki pijakan.

Namun, kemandirian tidak datang begitu saja.

Baca juga: 50 Ucapan Hari Kartini 2026, Inspiratif dan Penuh Makna untuk Caption Media Sosial

Ia lahir dari proses panjang: dari keberanian bermimpi, dari jatuh dan bangkit berkali-kali, dari keraguan yang dilawan dengan keyakinan.

Ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten—untuk terus belajar, untuk terus mencoba, dan untuk tidak menyerah.

Saya memahami itu bukan dari teori, tetapi dari perjalanan hidup saya sendiri.

Saya lahir dari keluarga sederhana, anak seorang buruh tani.

Pendidikan pernah terasa seperti kemewahan yang sulit dijangkau.

Saat krisis moneter melanda, saya hampir berhenti sekolah di jenjang SMP.

Pada titik itu, pilihan hidup terasa sangat sempit.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved