Rabu, 29 April 2026

OPINI

Refleksi Hari Pemasyarakatan: Warga Binaan Terus Meningkat

Ketika seseorang menyebut Lembaga Pemasyarakatan, apa yang terbayang di benak pikiran pembaca? Tempat yang seram. Menakutkan

Tayang:
Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/HO
Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps., Widyaiswara 

Adanya sikap acuh tak acuh, sikap sinis dan tidak mau menerima kehadiran mantan napi, tentu saja sangat mempengaruhi kejiwaan mantan napi, dan bisa berakibat fatal untuk melakukan kembali tindak pidana. Makanya tidak mengherankan jika ada mantan napi yang berulah kembali dan akhirnya masuk lagi sebagai penghuni Lapas dua hingga tiga kali.

Sebenarnya upaya untuk memberikan pembekalan keterampilan bagi warga binaan di Lapas sudah cukup banyak dilakukan oleh pihak Lapas, bekerjasama dengan berbagai pihak. Pelbagai jenis pelatihan, baik di bidang pertanian, peternakan, jasa boga, UMKM dan lain-lain. Tetapi ketika diaplikasikan di lapangan masih banyak kendala yang dihadapi.

Mulai dari faktor permodalan, maupun stigma negatif yang diberikan oleh masyarakat terhadap mantan napi. Demikian pula upaya pembinaan mental spiritual yang rutin dilakukan oleh pihak Lapas.

Sekedar informasi untuk bahan pembanding, kalau di Indonesia jumlah penghuni Lapas semakin lama bukan semakin menurun, tetapi malah semakin meningkat tajam.

Banyak kasus penghuni Lapas di Indonesia dari generasi muda yang terlibat kasus narkoba. Sementara di luar negeri, terutama di negara Belanda, banyak Lapas yang kosong dan ditutup, karena kekurangan tahanan.

Sejak Tahun 2013, fakta menunjukkan ada 28 penjara di Belanda ditutup. Penutupan penjara terus berlangsung hingga saat ini, karena sepi tahanan. Sekedar informasi, tingkat kejahatan di Belanda sejak Tahun 1980 termasuk rendah. Tapi bukan berarti di Belanda tidak ada kejahatan. Kejahatan tetap ada, tetapi karena kebijakannya berbeda, maka hasilnya juga berbeda. 

Di Belanda, orang yang kena kasus penyalahgunaan narkoba ringan nggak dipenjara, tapi direhabilitasi. Hukuman pendek diganti dengan denda/kerja sosial. Di Belanda sejak tahun 2008 diterapkan “electronic monitoring”, sehingga napi tidak numpuk dalam satu sel.

Di hari Pemasyarakatan Indonesia pada tanggal 27 April yang lalu, ada baiknya semua pemangku kepentingan, baik pada level nasional maupun level daerah mulai memikirkan dan mengambil kebijakan yang strategis, sehingga jumlah warga binaan di Lapas semakin hari, semakin menurun. Bukan semakin meningkat. Masyarakat berharap tingkat kejahatan dari tahun ke tahun juga mengalami penurunan, sehingga tercipta rasa aman. Karena itu, perlu perubahan paradigma dari “menghukum”, menjadi “memperbaiki”.

Sangking banyaknya penjara yang kosong, maka Pemerintah Belanda sempat menyewakan penjaranya untuk 234 tahanan dari Norwegia. Tentu sebelumnya sudah dilakukan mekanisme kerjasama antara negara. Moga trend jumlah penghuni Lapas atau Rumah Tahanan di Indonesia semakin menurun seperti yang dialami oleh Negara Belanda.

Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps., Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim. Mantan Kepala Biro Humas dan Kepala Diskominfo, serta mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan mantan Pjs. Bupati Kutai Timur. 

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved