OPINI
Refleksi Hari Pemasyarakatan: Warga Binaan Terus Meningkat
Ketika seseorang menyebut Lembaga Pemasyarakatan, apa yang terbayang di benak pikiran pembaca? Tempat yang seram dan menakutkan.
Mereka menyampaikan data dan menceritakan, bahwa beberapa residivis ada yang sudah masuk ke Lapas dua kali dan bahkan tidak sedikit pula ada yang sudah bolak-balik masuk sampai tiga kali.
Informasi ini menunjukkan masih adanya kegagalan dalam pembinaan warga binaan. Mestinya setelah menjadi warga binaan di Lapas, muncul kesadaran mereka untuk tidak mengulangi lagi tindak pidana, sehingga dilabelkan kepada diri mereka sebagai residivis.
Saya menyakini sepenuhnya jika ada kegagalan dalam pembinaan kepada warga binaan, faktornya pastilah bukan faktor tunggal.
Banyak para pihak yang harus ikut bertanggungjawab terhadap warga binaan setelah dikembalikan kepada masyarakat. Misalnya, faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap masa depan mantan napi setelah dikembalikan ke masyarakat.
Demikian juga halnya dengan masyarakat sekitar rumah di mana para mantan warga binaan yang telah menjalani hukuman dan pembinaan dikembalikan kepada masyarakat.
Adanya sikap acuh tak acuh, sikap sinis dan tidak mau menerima kehadiran mantan napi, tentu saja sangat mempengaruhi kejiwaan mantan napi, dan bisa berakibat fatal untuk melakukan kembali tindak pidana.
Makanya tidak mengherankan jika ada mantan napi yang berulah kembali dan akhirnya masuk lagi sebagai penghuni Lapas dua hingga tiga kali.
Sebenarnya upaya untuk memberikan pembekalan keterampilan bagi warga binaan di Lapas sudah cukup banyak dilakukan oleh pihak Lapas, bekerjasama dengan berbagai pihak.
Pelbagai jenis pelatihan, baik di bidang pertanian, peternakan, jasa boga, UMKM dan lain-lain. Tetapi ketika diaplikasikan di lapangan masih banyak kendala yang dihadapi.
Mulai dari faktor permodalan, maupun stigma negatif yang diberikan oleh masyarakat terhadap mantan napi. Demikian pula upaya pembinaan mental spiritual yang rutin dilakukan oleh pihak Lapas.
Sekedar informasi untuk bahan pembanding, kalau di Indonesia jumlah penghuni Lapas semakin lama bukan semakin menurun, tetapi malah semakin meningkat tajam.
Banyak kasus penghuni Lapas di Indonesia dari generasi muda yang terlibat kasus narkoba. Sementara di luar negeri, terutama di negara Belanda, banyak Lapas yang kosong dan ditutup, karena kekurangan tahanan.
Sejak Tahun 2013, fakta menunjukkan ada 28 penjara di Belanda ditutup. Penutupan penjara terus berlangsung hingga saat ini, karena sepi tahanan. Sekedar informasi, tingkat kejahatan di Belanda sejak Tahun 1980 termasuk rendah.
Baca juga: Keluarga Warga Binaan Lapas Balikpapan Terima Bantuan Gerobak Usaha, Diharapkan Dongkrak Ekonomi
Tapi bukan berarti di Belanda tidak ada kejahatan. Kejahatan tetap ada, tetapi karena kebijakannya berbeda, maka hasilnya juga berbeda.
Di Belanda, orang yang kena kasus penyalahgunaan narkoba ringan nggak dipenjara, tapi direhabilitasi. Hukuman pendek diganti dengan denda/kerja sosial. Di Belanda sejak tahun 2008 diterapkan “electronic monitoring”, sehingga napi tidak numpuk dalam satu sel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20260429-Dr-Drs-Moh-Jauhar-Efendi-MSi-CHPs-Widyaiswara.jpg)