Jumat, 29 Mei 2026

Opini

Gubernur, "Silakan Hak Angket!", Gestur Wagub dan Sekda, “Saya Ikut Bertanggung Jawab!”

"Silakan Hak Angket!" Kalimat itu pendek. Tapi menghentak ruang diskusi Aksi 21 Mei di Ruang Kantor Gubernur Kaltim, Jl Gajah Mada, Samarinda.

Tayang:
Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/Raynaldi Paskalis
TEMUI MASSA 215 - Gubernur Kaltim Rudy Mas'ud didampingi Wakil Gubernur Seno Aji dan Sekda Sri Wahyuni menemui perwakilan massa aksi 215 di ruang pertemuan Kantor Gubernur Kaltim, Jl Gajah Mada, Samarinda, Kamis (21/5/2026). 

Ia akan bersandar jauh ke belakang untuk menciptakan jarak aman (proxemic distancing).

Baca juga: Jalan Gajah Mada Lumpuh Total, Massa APMK Bakar Ban di Depan Kantor Gubernur Kaltim

Ia akan menyilangkan tangan di dada. Atau ia akan menundukkan kepala demi menghindari konfrontasi visual langsung dengan massa dan media.

Sebaliknya, Gubernur Kaltim melakukan manuver yang radikal. Badannya mencondong tegas ke depan, menguasai meja rapat, bergerak mendekat ke arah perwakilan massa.

Dalam kinesika forensik, ini simbol proklamasi visual dari sikap pasang badan dan mengambil tanggung jawab mutlak.

Beliau memotong jarak komunikatif untuk menyerap seluruh hantaman psikologis dan amarah di dalam ruangan ke pundaknya sendiri.

Gubernur maju menjadi tameng bagi jajaran di sekelilingnya.

Ada penggalan gestur, Gubernur menyimak pernyataan perwakilan massa dengan tangan kanan terangkat bertumpu di dagu dengan jari-jari merapat, sementara tangan kiri mengepal kuat di atas meja.

Ini merupakan Evaluative-Critical Pose. Pemimpin yang sombong atau abai akan memalingkan muka atau menunjukkan mikroekspresi muak (contempt).

Gestur bertumpu di dagu ini justru menandakan tingkat konsentrasi penuh.

Beliau menyimak, menganalisis, dan menguji bobot argumen hukum demonstran dengan kepala dingin.

Tangan kiri yang mengepal di atas meja bertindak sebagai jangkar emosi untuk memastikan dirinya tetap stabil dan tidak terprovokasi.

Puncaknya ada pada arah tatapan mata. Beliau tidak menunduk gelisah atau menunjukkan gerakan mata berputar.

Matanya menatap lurus, tajam, mengunci lensa kamera. Kamera menjadi representasi dari mata publik.

Melalui daya ilokusioner dari tatapan yang kokoh itu, beliau mengirimkan efek perlokusi yang jantan kepada khalayak: "Saya ada di sini, saya tidak bersembunyi, dan saya berani mempertanggungjawabkan kebijakan kolektif ini langsung di hadapan rakyat."

Jadi, ini bukan arogansi. Ini merupakan standar baku dari sebuah kehadiran pemimpin.

Gestur ini sekaligus mengontraskan mentalitas eksekutif dengan sikap parlemen yang selama ini melempar isu Hak Angket dari balik meja ruang sidang atau narasi media.

Makna Kebijakan Kolektif dan Teori Brinkmanship

Benar-benar visual yang mahal. Iya, mahal. Tangkapan kamera dengan menyandingkan tiga pilar kepemimpinan secara telak mengacaukan skenario komunikasi politik yang ditiupkan oleh sebagian pihak.

Skenario narasi yang sengaja mengarahkan Hak Angket sebagai peluru tunggal yang didesain secara personal untuk merobohkan wibawa Gubernur seolah ia berdiri sendiri tanpa sekutu.

Namun, formasi duduk sebaris lurus menghadapi massa aksi menjadi sebuah strategi pembalikan sinyal yang benderang.

Formasi ini memancarkan pesan tentang Akuntabilitas Kolektif Eksekutif.

Kehadiran Gubernur yang diapit langsung oleh Wakil Gubernur dan Sekdaprov telah menegaskan bahwa tidak ada celah faksionalisme.

Kebijakan yang digugat merupakan produk institusi yang sah, bukan keputusan personal.

Baca juga: Penyanyi Dangdut Academy 7 Hibur Massa Aksi Demo 215 di Depan Kantor Gubernur Kaltim Samarinda

Tantangan terbuka lewat kalimat "Silakan Hak Angket!" yang disorong oleh formasi visual sebaris ini sesungguhnya merupakan penerapan dari teori Political Brinkmanship.

Sebuah strategi komunikasi politik tingkat tinggi yang mendorong situasi hingga ke batas paling ekstrem untuk memaksa lawan menghitung ulang risikonya.

Eksekutif tidak sedang menggertak. Mereka sedang membongkar skenario teater politik.

Dengan posisi duduk sebaris yang kokoh, eksekutif menantang untuk sama-sama melompat ke jurang ketidakpastian.

Jika Angket dipaksakan hanya demi ego elektoral, roda pemerintahan Benua Etam terancam lumpuh.

Publik pun bisa saja mencatat dengan tebal fraksi mana saja di DPRD yang dianggap menjadi aktor utama penghambat pembangunan daerah.

Apresiasi untuk Massa Aksi

Di era keterbukaan informasi ini, publik jangan lagi terjebak dalam pelabelan emosional, subjektif, dan dangkal.

Analisis linguistik forensik dan komunikasi politik membuktikan bahwa formasi duduk sebaris itu adalah sebuah ‘pernyataan bersama tanpa kata’.

Di seberang meja, kita patut mengapresiasi kedewasaan massa aksi.

Mereka telah bergerak secara tertib, damai, dan bermartabat dalam menyuarakan amanah publik tanpa sedikit pun menodai ruang demokrasi dengan anarkisme.

Kesadaran visual dan kedewasaan lapangan ini harusnya menampar kesadaran kolektif psikologis kita.

Gerakan murni rakyat rawan ditunggangi oleh syahwat politik tak kasatmata yang sengaja memelihara kegaduhan demi bongkahan keuntungan.

Saatnya seluruh pihak di Bumi Etam menyadari bahwa ruang tutur publik harus diisi oleh kritik yang konstruktif, bukan manuver destruktif.

Jangan sampai kegaduhan ini menjadi kepasrahan kolektif untuk berjalan bersama menuju gerbang kehancuran. Siapa yang rugi, ya kita sendiri.

Bagi legislatif maupun eksekutif, yuk turunkan tensi, melipat gengsi, dan kembali duduk bersama merajut masa depan dalam ruang gagasan.

Perseteruan dalam tragedi sosiopolitik tidak akan pernah ada pemenang sejati. Dalam kegaduhan yang destruktif akan membawa kembali pada petuah leluhur.

Kalah hanya akan menjadi abu dan menang pun hanya akan menjadi arang. Apakah siap? Pak Gubernur dan Wakil Gubernur tentu tidak menginginkan. Semoga.  (*)

*Opini pandangan pribadi dan tidak mewakili kebijakan lembaga

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved