Gunung Bugis Kampung Narkoba
Asa Gunung Bugis Bebas Narkoba
Gunung Bugis di Kota Balikpapan jadi sorotan setelah dilabeli sebagai Kampung Narkoba, bagaimana caranya agar daerah tersebut terbebas dari narkoba?
Penulis: Sumarsono | Editor: Christoper Desmawangga
Oleh: Sumarsono, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim/TribunKaltim.co
TIDAK ada warga yang bangga ketika kampung yang ditinggali mendapat stigma “kampung narkoba”.
Seperti yang dirasakan warga Gunung Bugis.
Ya, Kampung Gunung Bugis, Balikpapan Barat seperti berdiri di persimpangan.
Di satu sisi, terancam oleh peredaran narkoba dan terhukum oleh stigma negatif tersebut.
Baca juga: Satgas Bersinar Baru Ulu Gencarkan Sosialisasi Tekan Peredaran Narkoba di Gunung Bugis Balikpapan
Namun, di sisi lain, Kampung Gunung Bugis memiliki warga yang berjuang keras melindungi generasi penerusnya.
Stigma "kampung narkoba" tidak layak disematkan pada seluruh warga yang baik.
Saatnya aparat dan pemerintah bersama warga menjadikan pembersihan Gunung Bugis bukan sekadar target operasional, melainkan proyek pemulihan martabat kemanusiaan.
Kita harus bergerak bersama agar suatu hari nanti, Gunung Bugis dikenal bukan karena kampung narkoba, tetapi karena semangat warganya yang kompak melawan kejahatan dan stigma.
Baca juga: Residivis Narkoba Balikpapan Kembali Ditangkap, Polisi Temukan Sabu dan Sajam di Badan Pelaku
Seperti yang sering kita dengar, kita baca di media, salah satu kawasan Balikpapan Barat, tepatnya di Gunung Bugis, ada dua masalah yang saling berkelindan.
Yakni ancaman nyata peredaran narkoba dan stigma sosial yang merusak.
Bagi banyak warganya, julukan "kampung narkoba" terasa lebih menyakitkan dan sulit dihapus daripada kasus peredaran narkoba yang datang dari Samarinda.
Stigma ini bukan hanya melukai nama baik, tetapi juga memenjarakan harapan warga yang ingin anak-anaknya tumbuh normal, jauh dari lingkungan yang dicap busuk.
Baca juga: 7 Fakta Onadio Leonardo Ditangkap Terkait Narkoba: Istri Ikut Diamankan, Kronologi dan Barang Bukti
Sebagian besar warga Gunung Bugis terus berusaha keras menjaga keluarga dan lingkungan, bahkan ada yang menyekolahkan anak ke pesantren agar terhindar dari narkoba.
Mereka tidak ingin stigma “kampung narkoba” itu lahir dari perbuatan "satu dua orang yang salah," namun seluruh kampung yang menanggung akibatnya.
Meski fakta yang diungkap Kasat Resnarkoba Polresta Balikpapan menyatakan bahwa sekitar 90 persen kasus narkoba Balikpapan berasal dari Gunung Bugis.
Data ini menunjukkan Gunung Bugis adalah episentrum, namun pengedar kian licin menggunakan modus 'jejak' dan memanfaatkan dukungan masyarakat lokal.
Baca juga: 7 Fakta Onadio Leonardo Ditangkap Terkait Narkoba: Istri Ikut Diamankan, Kronologi dan Barang Bukti
Bisa jadi fakta itu benar.
Namun, kita tidak bisa serta merta menyalahkan masyarakat.
Seharusnya, ketika terungkap adanya peredaran narkoba di sebuah kawasan, aparat hukum bertindak tegas.
Menurut pengamat hukum, jika fenomena ini terus berlanjut, itu mencerminkan lemahnya komitmen dan pengawasan penegakan hukum di tingkat akar rumput.
Baca juga: Onadio Leonardo Viral Ditangkap karena Kasus Narkoba, Dulu Sempat Akui Kecanduan Obat Terlarang
Mengutip pernyataan Pakar Hukum Dr. Piatur Pangaribuan, SH, MHum, stigma ini tidak akan hilang jika aparat penegak hukum tidak menunjukkan keseriusan revolusioner.
Operasi dan razia rutin terbukti tidak signifikan. Jika narkoba masih bisa beredar—bahkan dikaitkan dengan pelajar, mahasiswa, hingga lingkungan penjara—berarti ada yang salah dalam sistem pengawasan dan integritas aparat itu sendiri.
Fokus pada penangkapan pelaku atau bandar semata hanya memberikan efek sementara.
Selama jaringan pemasok narkoba dari luar daerah, dan modus 'jejak' belum diputus tuntas, pengganti akan selalu muncul.
Baca juga: Rekam Jejak Onadio Leonardo, Eks Vokalis Killing Me Inside yang Tersandung Kasus Narkoba
Ini bukan hanya masalah hukum, tapi komitmen moral dan kemampuan membalikkan citra.
Aparat hukum selayaknya membalikkan citra buruk ini.
Caranya bukan hanya dengan deklarasi simbolik, tetapi dengan indikator berbasis data riil.
Aparat harus berani menindak siapa pun yang terlibat, termasuk oknum penegak hukum jika terbukti ada kelemahan atau kelalaian.
Baca juga: Pengamat: Stigma Gunung Bugis "Kampung Narkoba" Terbentuk karena Sering Terungkap Kasus Narkoba
Upaya lain adalah menyiapkan kawasan percontohan, seperti Satgas Bersinar Kelurahan Baru Ulu.
Aksi mereka yang fokus pada edukasi humanis dan mengubah cara pandang warga jauh lebih berkelanjutan daripada razia.
Pemerintah daerah harus memfasilitasi dan mendanai gerakan akar rumput ini.
Pemerintah dan aparat harus lebih sering turun tangan untuk pemulihan nama baik dan membangun kepercayaan, bukan hanya penertiban.
Asa kawasan Kampung Bugis bebas narkoba akan terwujud, semoga! (*)
| Satgas Bersinar Baru Ulu Gencarkan Sosialisasi Tekan Peredaran Narkoba di Gunung Bugis Balikpapan |
|
|---|
| Sekolah di Balikpapan Mendidik di Bawah Bayang Kampung Narkoba, Edarkan Pesan Singkat di Waktu Subuh |
|
|---|
| Fakta di Balik Julukan 'Kampung Narkoba' Balikpapan, Warga Gunung Bugis Berjuang Pulihkan Citra |
|
|---|
| Warga Gunung Bugis Balikpapan Berjuang Hapus Stigma Kampung Narkoba, 'Kami Juga Ingin Hidup Tenang' |
|
|---|
| Pengamat: Stigma Gunung Bugis "Kampung Narkoba" Terbentuk karena Sering Terungkap Kasus Narkoba |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250414_Sumarsono-Pemimpin-Redaksi-Tribun-Kaltim.jpg)