TribunKaltim/

Bocah Ini Tewas Dianiaya Ibu Kandung Sendiri, saat Masih Hidup Gurunya Sering Temukan Luka

Novi Wanti (26), ibu yang menganiaya anaknya sendiri GW (5) hingga tewas, kerap dipanggil oleh pihak sekolah di mana GW bersekolah

Bocah Ini Tewas Dianiaya Ibu Kandung Sendiri, saat Masih Hidup Gurunya Sering Temukan Luka
WARTA KOTA/PANJI BHASKARA RAMADHAN
Balita laki-laki berinisial GW diduga dianiaya hingga tewas oleh ibu kandungnya sendiri, yakni Novi Wanti (25), di sebuah kontrakan di Jalan Asem Raya No 1, RT 06/08, Duri Kepa, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (11/11/2017). 

TRIBUNKALTIM.CO - Novi Wanti (26), ibu yang menganiaya anaknya sendiri GW (5) hingga tewas, kerap dipanggil oleh pihak sekolah di mana GW bersekolah.

Pihak sekolah seringkali menemukan kejanggalan di tubuh GW saat masuk sekolah.

Luka cakaran, hingga luka lebam yang diderita GW saat itu, membuat pihak sekolah GW di wilayah Jakarta Barat ini, seringkali memanggil sang ibu.

Baca: Serangan Brutal Oknum Guru kepada Siswa, Begini Kronologi Versi KPAI Terkait Video Kekerasan

"Jadi, guru-guru di sekolah ini miris sekali mas melihat GW ya. Karena guru-guru sekolah yang di sini seringkali melihat GW ini kesakitan. Ada guru lihat punggung GW dipenuhi luka cakaran dan lebam-lebam. Wajahnya anak ini bengkak-bengkak, benjolan di kepala. Lukanya banyak," kata Merry selaku Kepala Sekolah yang enggan sebutkan nama sekolah dan yayasannya, pada Senin (13/11/2017).

Melihat luka-luka yang diderita GW, membuat sejumlah guru di sekolah bertanya-tanya, dan GW sering menjawab "Luka jatuh".

"Guru suruh buka baju, ternyata penuh cakar. Setiap ditanya kenapa, pasti alasannya jatuh terus yang terakhir itu ditutupin lukanya pakai baju lengan panjang," ujarnya.

Baca: Korban Penyekapan akan Mendapat Pendampingan, Ini Peristiwa Kekerasan yang Dialami Sumiati

Namun kata Merry, GW tidak pernah mengeluh kepada guru mengenai kondisinya.

"Kami coba panggil orangtuanya, tapi tidak ada respon yang baik. Bahkan pernah selama dua hari GW minta makan karena memang saat itu dia lapar. Ternyata tidak dikasih makan ibunya selama dua hari. Jujur kami sulit menghubungi orangtuanya," jelasnya.

Selain luka-luka yang diderita, prilalu GW lama kelamaan berubah.

Baca: Pasca Demo Ricuh, Muncul Petisi Melawan Banjir, Melawan Kekerasan

Pasalnya, bocah laki-laki di sekolah setiap hari periang sebelum tragedi penganiayaan dialaminya.

"Pernah dianya (GW) itu tidak masuk selama seminggu dengan alasan pergi ke Bangka ya Kepulauan Riau. Itu ibunya juga yang bilang. Tetapi ketika ditanya mengenai kondisi sang anaknya, sering menghindar. Dulu anaknya itu ceria, periang, semenjak kami temukan luka-luka ditubuhnya di saat itu lah anak tersebut ya seringkali murung dan takut pulang," katanya.

(Warta Kota/Panji Baskhara Ramadhan)

Editor: Ayuk Fitri
Sumber: Warta Kota
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About us
Help