Ini Alasan PBB Berikan Equator Prize untuk Komunitas Adat Dayak Benuaq
Komunitas ini mempertahankan lingkungan hidup mereka dari ‘rampasan’ korporasi seperti HPH, sawit dan tambang sejak puluhan tahun silam
Hingga kini, masyarakat Muara Tae, terus berupaya mempertahankan sisa hutan di wilayah sengketa. Mereka membangun pondok-pondok jaga di dalam hutan, pemetaan kawasan adat, menginventasir kekayaan hayati dan pembibitan pohon lokal.
Dua lagi dari Indonesia
Selain Komunitas Adat Muara Tae, ada dua kelompok lagi yang mendapatkan penghargaan ini dari Indonesia. Yakni, Kelompok Peduli Lingkungan Belitung dan Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi, komunitas lintas negara, Indonesia-Malaysia.
Equator Prize diberikan kepada mereka yang berada di garis depan dalam upaya global melindungi hutan, satwa liar, lanskap pertanian, sumber daya alam dan hak atas tanah.
Mereka ini, kelompok masyarakat yang berhasil menangani tantangan iklim, lingkungan dan kemiskinan baik dari pembalakan liar, konflik lintas batas untuk mega proyek, seperti bendungan di sudut-sudut terpencil dunia.
Pemenang akan mendapatkan penghormatan pada upacara penghargaan tingkat tinggi Senin (7/12/15) di Paris, Perancis bersamaan dengan Konferensi Perubahan Iklim PBB.
Para pemenang ini diambil dari 1.461 nominasi dari 126 negara. Sebanyak kelompok atau komunitas dari 19 negara, termasuk Indonesia, mendapatkan penghargaan ini. Yakni dari Afghanistan, Belize, Bolivia, Brazil, Kamboja, Tingkok, Kolombia, Kongo, Ethiopia/Kenya (lintas batas), Guyana, Honduras, Iran, Madagascar, Malaysia/Indonesia (lintas batas), Papua New Guinea, Tanzania dan Uganda.(*)
Sumber: Mongabay.co.id
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/petrus-asuy_20150924_053330.jpg)