Kasus Korupsi Autis Centre Bontang Rugikan Negara Rp 7 Miliar, Makelar Tanah Divonis 7 Tahun Penjara

Bahkan kasus pengadaan lahan Rp 18,5 miliar tahun 2012 tersebut telah menyelesaikan persidangan terhadap ketiganya dengan vonis yang berbeda

Kasus Korupsi Autis Centre Bontang Rugikan Negara Rp 7 Miliar, Makelar Tanah Divonis 7 Tahun Penjara
TribunKaltim.Co/HO Kasi pidsus
Sidang kasus korupsi lahan autis centre dengan agenda mendengarkan keterangan saksi di Pengadilan Tipikor Samarinda. Tiga terdakwa telah divonis bersalah namun JPU menyatakan banding karena tak sesuai dengan tuntutan jaksa 

898 Napi Dapat Remisi HUT Kemerdekaan, Termasuk 2 Orang Napi Kasus Korupsi

Capaian Pencegahan Korupsi 82 Persen, Pemprov Kaltara Urutan Ke-3 Nasional

Sementara itu, saat sidang untuk tersangka Sayid, Kepala Seksi Pidana Khusus (Pidsus)Kejari Bontang, Yudo Adiananto mengatakan terdakwa dituntut karena melanggar Pasal 2 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi.

Yudo menjelaskan, dasar pertimbangan tuntutan kepada terdakwa setelah mencermati fakta-fakta persidangan.

Terungkap, terdakwa Sayid melakukan perbuatan yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 6,7 miliar dari kegiatan pengadaan lahan ini.

“Di samping merugikan keuangan negara, perbuatannya juga bertentangan dengan upaya pemerintah memberantas Tipikor,” ujar Yudo.

Ia menambahkan, denda uang pengganti bersifat wajib dibayarkan oleh Sayid kurun 1 bulan. Apabila terdakwa tak membayar,

maka akan dilakukan proses penyitaan aset atau barang milik terdakwa untuk selanjutnya dilakukan pelelangan.

KASI PIDSUS KEJARI BONTANG— Yudo Adiananto.
KASI PIDSUS KEJARI BONTANG— Yudo Adiananto. (TribunKaltim.Co/Ichwal Setiawan)

Kemudian, dari hasil lelang tersebut akan disetorkan ke kas negara sebagai bentuk pemulihan atau pengembalian keuangan negara.

“Jika terdakwa tidak sanggup membayar uang pengganti dan harta yang disita tidak ada atau mencukupi dari jumlah uang pengganti,

yang dibebankan pada terdakwa maka terdakwa wajib menjalani pidana tambahan yaitu pidana penjara selama 5 tahun,” ungkap Yudo.

Setelah berjalannya persidangan akhirnya, Sayid divonis  7 tahun 6 bulan serta denda Rp 200 juta dan uang pengganti Rp 4,6 miliar kepada terdakwa.

Menurut JPU vonis yang diberikan kepada terdakwa terlalu ringan dari tuntutan jaksa.

Sebelumnya, Jaksa menuntut Sayid Husen Assegaf dengan pidana 10 tahun dan denda Rp 1 miliar.

Kasi Pidsus Kejari Bontang Yudo Adiananto mengatakan hasil konsultasi dengan pimpinan diputuskan agar mengajukan banding atas vonis tersebut.

“Kita sudah layangkam nota banding kepada pengadilan tinggi melalui pengadilan negeri kemarin,” ujar Kasi Pidsus Kejari Bontang Yudo Adiananto kepada tribun saat dikonfirmasi, Jumat (23/8/2019).

Lebih lanjut, Kasi Pidsus Kejari Bontang Yudo Adiananto menilai putusan hakim kepada terdakwa terlalu ringan.

Sebab, akibat dari perbuatan terdakwa negara telah merugi sebesar Rp 7 miliar.

Untuk itu, di dalam tuntutan jaksa meminta agar terdakwa mengembalikan uang pengganti sebesar Rp 6,7 miliar.

Namun, vonis yang dijatuhkan lebih ringan dari tuntutan jaksa.

Bangunan Autis Cantre Hanya Diisi 12 Anak Berkebutuhan Khusus

Bangunan Autis Centre di Jalan Tennis, Kelurahan Api-Api, Kecamatan Bontang Utara hanya diisi 12 pelajar Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). 

Bangunan yang sedianya diperuntukkan untuk perawatan ABK bagi masyarakat Bontang ini,  terlihat sepi saat hari-hari kerja. Namun , Dinas Pendidikan (Disdik) mengaku aktivitas masih berjalan hari-harinya. 

 Sekretaris Disdik Kota Bontang, Dwi Indriyani mengatakan, sejauh ini fasilitas layanan Autis Centre masih dikelola oleh Disdik saja.  Padahal seharusnya fasilitas ini melibatkan dua instansi lainnya, yakni Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan. 

Pengelolaan layanan fasilitas ini rencananya bakal membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) agar layanan bisa berfungsi efektif. 

 “Sementara ini belum maksimal, karena harus mengantre untuk jadwal pelayanan karena terbatas SDM dan jadwal,” ujar Dwi kepada tribunkaltim.co, saat ditemui di ruangan kerjanya, Rabu (22/5/2019). 

 Dwi menjelaskan, baru-baru ini Autis Centre menambah jumlah terapis untuk meningkatkamn layanan di sana. Namun penambahan ini belum mampu memenuhi kebutuhan ideal jumlah terapis di tempat ini. 

GEDUNG AUTIS CENTRE — Kondisi Autis Centre kini hanya diisi oleh 12 anak berkebutuhan khusus (ABK). Fasilitas bagi ABK dibangun sebagai pusat layanan secara gratis bagi masyarakat Bontang.
GEDUNG AUTIS CENTRE — Kondisi Autis Centre kini hanya diisi oleh 12 anak berkebutuhan khusus (ABK). Fasilitas bagi ABK dibangun sebagai pusat layanan secara gratis bagi masyarakat Bontang. (TribunKaltim.Co/Ichwal Setiawan)

 Sementara ini, layanan autis dibuka secara periodik. Kelompok ABK mendapatkam layanam secara parsial, tahap pertama mereka diberi waktu perawatan selama 3 bulan. Kemudian menyusul kelompok kedua untuk mengikuti tahap pertama. 

 Setelah selesai, kelompok pertama kembali mengikuti program 3 bulan kedua. Begitu pun dengan kelompok selanjutnya. “Jadi bergiliran karena terbatas terapisnya,” ujarnya. 

Untuk itu, rencananya pengelolaan fasilitas ini bakal dibentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) supaya pengelolaanya lebih efektif dan optimal. Tahun depan, pemerintah berencana membentuk UPT sebagai pengelola fasilitas ini. 

 Autis Centre secara perdana mulai digunakan sejak 2016 lalu sejak kasus korupsi pengadaan lahan bangunan ini mulai mencuat. 

 Korupsi pengadaan lahan ini sudah menjerat 3 orang terdakwa, 2 diantaranya merupakan pejabat  di lingkungan Pemkot Bontang sementara 1 orang lainnya merupakan makelar. 

 Pantauan tribunkaltim, Rabu (22/5) petang lokasi diisi dengan kegiatam keagamaan. Pengunjung tiba menggunakan baju muslim, mereka bersiap berbuka puasa sama-sama. 

 Sementara itu, taman di halaman gedung terlihat banyak ditumbuhi tanaman liar. Sedangkan pos keamanan di depan bangunan terlihat berdebu.

“Rencananya kami mau pugar buat taman di depan makanya akhir-akhir ini tidak tersentuh, nanti juga bakal ada penjaga keamanannya,” pungkas Dwi. (*)

Penulis: Samir Paturusi
Editor: Doan Pardede
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved