Nelayan

Puluhan Nelayan di Pulau Maratua dan Derawan Kekurangan BBM

Pasalnya, selama ini para nelayan pun terpaksa mengantre BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Puluhan Nelayan di Pulau Maratua dan Derawan Kekurangan BBM
Tribunkaltim.co, Geafry Necolsen
Para nelayan di wilayah pesisir, Kabupaten Berau 

TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Bahan Bakar Minyak, selama ini memang masih menjadi kendala bagi para nelayan.

Pasalnya, selama ini para nelayan pun terpaksa mengantre BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Bersama warga yang antre mengisi BBM mobil dan sepeda motor.

Nelayan di Pulau Maratua dan Derawan misalnya, mereka harus membeli BBM di SPBU yang ada di Kampung Tanjung Batu.

Poltekba Latih Nelayan Balikpapan Tingkatkan Hasil Tangkapan dan Pengolahan Kuliner Ikan

Nyamar Jadi Pelajar STM Lalu Demo, Nelayan Ini Menyesal dan Ungkap Sosok yang Ajak, Imbalan Rp10ribu

 

Kepala Bidang Penangkapan Dan Pelayanan Usaha, Dinas Perikanan Berau, Jen Mohamad membenarkan, ketersediaan BBM untuk nelayan di Kabupaten Berau memang masih kurang.

Disebutkannya, ada 3.469 kapal yang berhak mendapat BBM bersubsidi, sementara kuota BBM sebanyak 1.006.140,57 liter per bulan, hanya mampu memenuhi 40 persen kebutuhan nelayan. “Jadi antara kuota BBM dan jumlah kapal masih kurang sekali," ujarnya.

Persoalan ini, menurutnya juga pernah disampaikan kepada Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Lagi, Nelayan Temukan Penyu Jantan yang Sudah Mati di Pantai Lamaru Balikpapan

Lagi, Pemprov Gelontorkan Bantuan, Bibit untuk Pembudidaya dan Peralatan untuk Nelayan Tangkap

Namun APMS dan SPBU, kata Jen Mohammad, tidak dapat berbuat banyak. Karena APMS dan SPBU hanya mendapat jatah atau kuota sesuai kapasitas tempat penyimpanan BBM yang mereka miliki.

Penggunaan BBM bersubsidi untuk nelayan, kata Jen Mohammad, diatur berdasarkan kapasitas mesin kapal yang digunakan, kemudian dihitung berdasarkan lamanya nelayan melakukan aktivitas di laut.

"Contohnya begini, dengan kapasitas mesin 24 PK, itu biasanya menghabiskan 238 liter BBM per bulan. Jadi sudah ada standarnya," kata Jen.

Karena keterbatasan kuota ini, pihaknya pun harus melakukan pengawasan dengan ketat. Untuk mengantisipasi oknum nakal yang menyalahgunakan BBM bersubsidi.

Apalagi menjual BBM bersubisidi dengan harga industri, per kapal bisa mendapat lebih dari 200 liter, tentu akan memberikan keuntungan yang menggiurkan.

Kabut Asap Masih Tebal, Sebagian Nelayan di Tarakan Tetap Melaut, Diimbau Wajib Pakai Pelampung

Lagi, Seekor Penyu Sangkut di Jaring Nelayan Manggar Balikpapan, Begini Kondisinya

"Karena ada kemungkinan BBM yang didapat itu untuk dijual kembali, bukan digunakan untuk melaut. Jika kami temukan, akan dicoret namanya dan tidak akan mendapat jatah BBM bersubsidi lagi," tegasnya.

Karena itu, pihaknya juga mengingatkan para nelayan, agar tidak ‘bermain’ dengan BBM bersubsidi. “Pergunakan BBM bersubsidi ini dengan sebaik-baiknya. Karena kuotanya juga terbatas,” tandasnya. (gef)

Editor: Martinus Wikan
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved