Sejak Subuh, Berta Guru Honor di Samarinda Susuri Jalan Sejauh 5 Km Selama 11 Tahun, Ini Imbalannya

Pagi-pagi benar saat arah jarum jam menunjukkan pukul 03.30 Wita. Seorang guru honorer di Kota Samarinda Kalimantan Timur, Berta Bua’dera sudah bangu

Editor: Mathias Masan Ola
KOMPAS.com/ZAKARIAS DEMON DATON
Berta Bua’dera saat berjalan kaki menyusuri jalan setapak yang ia lintasi selama 11 tahun sejak 2009 di Kampung Berambai Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Kaltim, Rabu (28/10/2020). (KOMPAS.com/ZAKARIAS DEMON DATON) 

Menuju sekolah, Berta mengaku butuh waktu satu setengah sampai dua jam jalan kaki. Ia biasanya berangkat dari rumah pukul 04.30 Wita dan tiba di sekolah pukul 07.30 Wita.

Baca juga: BREAKING NEWS Polresta Samarinda Bongkar Sindikat Prostitusi Online Gadis Remaja

Baca juga: Lengkap, Sikap Resmi MUI Soal Pernyataan Presiden Perancis Terhadap Islam, Beri Peringatan ke Umat

Mengajar Tiga Kelas

Di sekolah itu, Berta mengajar murid Kelas I, II dan III. Jumlah murid tiga kelas ini tujuh orang.

Di antaranya Kelas I, tiga orang, Kelas II, satu orang dan Kelas III, tiga orang.

Murid tiga kelas ini digabung dalam satu ruang kelas dan Berta ditunjuk sebagai wali kelas.

Sementara, tiga kelas lainnya, IV, V dan VI wali kelas, Herpina (27).

Sekolah ini hanya punya dua guru honor, yakni Berta dan Herpina dengan jumlah 17 murid.

Karena gedung sekolah hanya punya dua ruang kelas, masing-masing ruang ditempati tiga kelas.

Tempat duduk para murid dipisah berdasarkan tingkatan kelas.

Melihat kondisi sekolah tempat Berta mengajar jauh dari kesan layak.

Terlihat seng atap ruang kelas yang penuh karat ditambah keramik dan pondasi bagian belakang gedung yang sudah retak.

Bangunan berusia 25 tahun ini, jadi satu-satunya bangunan beton di kampung ini.

Sekolah ini induknya di SDN 004 di Kota Samarinda. SD Filial dibangun Pemkot Samarinda untuk kegiatan belajar mengajar anak-anak di kampung ini.

Sebab, letak kampungnya jauh dari sarana pendidikan.

Jarak Samarinda menuju kampung ini sekitar 25 kilometer. Kampung yang dihuni sejak 1982, memiliki luas sekitar 11 hektare.

Kini, sudah ada 64 kepala keluarga yang bermukim di kampung ini yang rata-rata berprofesi bertani dan berkebun.

Tahun 2000-an, Pemkot Samarinda memasukkan kampung jadi wilayah administrasi Samarinda karena beberapa RT dinilai lebih dekat.

Pemkot Samarinda juga membuka jalan penghubung menuju kampung ini dari Samarinda melewati jalur Batu Besaung.

Namun, belakangan proyek semenisasi jalan disetop mucul tarik ulur perebutan wilayah dengan Pemkab Kutai Kertanegara.

Konfik berakhir pada 2012 setelah Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak kala itu mengeluarkan SK Nomor 136/590/BKPW-C/I/2012 tentang kepemilikan wilayah oleh Pemda Kutai Kertengara.

Keputusan ini memberi konsekuensi nasib SDN Filial. Gedung sekolah aset punya Pemkot Samarinda tapi lahan milik Pemkab Kutai Kertanegara.

Sampai saat ini kasus ini masih menggantung. Pemkot Samarinda mengaku khawatir perbaikan gedung sekolah karena aset berdiri di lahan Pemkab Kukar.

Terlepas dari polemik kepemilikan lahan, letak sekolah yang jauh dan akses masuk yang sulit membuat guru-guru yang mengajar di sekolah ini tidak bertahan lama.

Berta dan Herpina mengakui dua alasan tersebut. Berta mengajar di sekolah ini lebih dahulu empat tahun dari Herpina.

Herpina sendiri merupakan alumni di SDN Filial. Karena kekurangan guru, dia diminta mengajar pada 2015 saat masih berstatus mahasiswa.

Tahun lalu, Herpina sudah wisuda dan menyandang status sarjana strata satu pendidikan.

Nasib Herpina, tak sama dengan Berta. Herpina tinggal di Desa Bangun Rejo, lebih dekat menuju sekolah.

Tiap pagi Herpina menggunakan motor menuju sekolah. “Saya agak ringan ketimbang nasib Bu Berta, jalan kaki berkilo-kilo,” ungkap Herpina kepada Kompas.com.

Selain jalan kaki ke sekolah, Berta juga hanya berijazah Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Sekolah tersebut zaman dulu setingkat dengan SMA.

Karena itu, ia tak bisa berharap banyak dari pemerintah soal peningkatan status.

“Mau tes PNS umur sudah tua. Tidak ada kesempatan lagi, jadi jalani saja saat ini,” ungkap Berta pasrah.

Menjelang siang tiba saat jam pulang sekolah, Berta kembali bersiap jalan kaki menyusuri hutan menuju rumahnya.

Bekal nasi yang ia bawa kadang dimakan langsung di sekolah setelah jam pulang.

“Kalau jalan sudah terlalu capek kadang lapar, saya makan di perjalanan. Istirahat sebentar makan dulu, baru lanjut jalan lagi,” tutur Berta.

Jika ia berangkat pukul 12.00 atau 13.00 Wita, Berta tiba di kediamannya sekitar pukul 16.00 bahkan sampai 17.00 Wita.

“Karena jalan siang itu lebih cepat capek, ketimbang pagi hari. Karena itu sampai rumah agak lambat,” tutur Berta.

Begitu tiba di rumah Berta mengaku langsung tertidur karena lelah.

Ia sudah tak sempat membantu suami di kebun ataupun mengurusi dapur. “Setelah bangun baru masak-masak,” ucap Berta.

Dipinjamkan Pondok Lebih Dekat Sekolah

Tabah menjalani rutinitas ini bertahun-tahun, membuat warga yang memiliki kebun di lokasi tersebut ibah.

Pada 2017, seorang warga pemilik kebun menawarkan pondoknya untuk ditinggali Berta dan suami.

Hal itu bertujuan agar jarak lebih dekat dengan sekolah.

“Dia kasihan lihat saya jalan kaki,” kata Berta.

Sejak itu, Berta bersama suami memutuskan pindah ke pondok tersebut.

Suaminya meninggalkan kebun di rumah sebelumnya dan membuka kebun baru di lokasi pindahan.

Jarak pondok ini menuju sekolah sebenarnya masih jauh sekitar satu setengah sampai dua kilometer.

Tak ada listrik di rumah ini, keduanya menggunakan penerangan lampu pelita di malam hari.

“Sebenarnya masih jauh juga, tapi daripada lima kilo, lebih baik satu kilo lebih," tutur Berta.

Pondok yang kini ditempati Berta bersama suaminya terbuat dari kayu.

Kompas.com tiba di pondok ini Rabu sore tampak banyak anjing peliharaan.

Anjing-anjing tersebut, kata Berta, penjaga pondok.

Suami Berta membuka kebun ubi-ubian di sekitar pondok.

Menuju pondok ini, Berta masih menyusuri jalan yang sama, hanya saja lebih dekat dari jarak sebelumnya.

Dia memotong jalan melintasi bukit bebatuan, menuruni tanjakan dan melintasi beberapa kebun warga.

“Di tempat yang batu-batu itu ada ular. Sepertinya berada di lubang-lubang batu. Saya pernah lihat besar sekali. Saya paling takut lewat di situ, tapi itu cuma satu-satunya jalan,” terang Berta saat kami melintas di bukit bebatuan ini.

Beratnya medan ini kadang membuatnya putus asa.

Berta mengaku sempat terlintas dibenaknya ingin berhenti mengajar dan fokus membantu suami menjual hasil kebun di pasar.

Namun, saat membayangkan wajah anak muridnya, Berta kembali luluh. Ia tak tega meninggalkan anak-anak di sekolah tersebut.

“Saya kadang capek jalan kaki. Makin tua, sudah tidak kuat lagi, saya hampir menyerah, tapi kasihan anak-anak,” kenang Berta.

Karena alasan itu, Berta bertahan mengajar hingga saat ini, meski tiap hari harus berjalan kaki menuju sekolah.

Gaji Pertama Rp 150.000

Berta mengaku menerima gaji pertama Rp 150.000 saat menjadi guru honor di SD Filial tahun 2009 lalu.

Cerita bermula saat ia terkena PHK dari salah satu perusahaan kayu di Samarinda tahun 2005.

Perusahaan ini tutup, semua karyawan dirumahkan, termasuk Berta.

Sejak itu, ia mengganggur, sedangkan suaminya bekerja buruh bangunan.

Keduanya tak mampu bayar kontrakan di Samarinda.

“Daripada bayar kontrakan. Kami pindah ke kebun di sini (dekat Kampung Berambai). Kebetulan ada ipar yang juga berkebun di sini. Dia panggil kami ke sini,” kenang Berta.

Setelah pindah, Berta sempat bantu suaminya mengurusi kebun selama empat tahun.

Namun, pada 2009, dia mendengar kabar SD yang terletak di Kampung Berambai butuh tenaga pengajar.

Meski jarak sekolah dan tempat tinggalnya jauh, Berta tetap melamar dan akhirnya diterima mengajar.

Dua tahun kemudian upah yang diterimanya naik menjadi Rp 400.000. “Sampai sekarang gaji saya Rp 1 juta per bulan,” tutur wanita asal Toraja, Sulawesi Selatan, ini.

Dengan penghasilan segitu, Berta mengaku tak cukup meng-cover kebutuhan hidup keluarga, terlebih biaya sekolah anak.

Namun, dia berusaha mencari penghasilan tambahan dengan menjual hasil kebun di pasar malam.

“Setiap malam Senin saya jualan sayur, ubi-ubian, pisang, lombok di pasar malam di Desa Bangun Rejo (desa tetangga). Kalau makan ada saja, enggak ada beras bisa makan ubi, tapi biaya anak sekolah ini agak sulit,” keluhnya.

Kondisi ini dipersulit sejak ada pandemi Covid-19. Berta kembali memutar otak sebab pasar malam pun ditutup. Terpaksa ia harus menjual hasil kebun ke sejumlah pasar tradisional di Samarinda dan Tenggarong.

Dengan kondisi demikian, Berta berharap ada perhatian pemerintah bagi para guru honor yang mengabdi di pelosok-pelosok negeri, termasuk dirinya.

“Yang kami sulit itu menyekolahkan anak-anak. Kalau makan, apa saja bisa kami makan dari hasil kebun,” tuturnya.

Kendati dengan kisah sedihnya, Berta tak berharap belas kasihan. Ia mengaku ikhlas menjalani profesinya sebagai guru demi mencerdaskan generasi bangsa.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Kisah Guru Honorer di Samarinda, 11 Tahun Jalan Kaki Susuri Hutan Demi Mengajar"

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved