Minggu, 19 April 2026

Virus Corona

Resesi yang Dialami Indonesia Lebih Baik, Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Terbaik di Bawah Tiongkok

Resesi yang dialami Indonesia masih lebih baik, proyeksi pertumbuhan terbaik di bawah negara Tiongkok

Editor: Budi Susilo
SHUTTERSTOCK
Ilustrasi grafik pertumbuhan ekonomi. Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan Rionald Silaban mengatakan, berbagai indikator menunjukkan resesi yang dialami Indonesia masih lebih baik. 

TRIBUNKALTIM.CO, JAKARTA - Resesi yang dialami Indonesia masih lebih baik, proyeksi pertumbuhan terbaik di bawah negara Tiongkok.

Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan Rionald Silaban mengatakan, berbagai indikator menunjukkan resesi yang dialami Indonesia masih lebih baik.

Laporan terbaru Dana Moneter Internasional atau IMF bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun ini diproyeksi minus 4,4 persen.

"Beberapa negara maju seperti Singapura, Amerika Serikat, dan Inggris bahkan berpotensi mengalami kontraksi yang sangat mendalam berkisar minus 10 persen hingga minus 40 persen," kata Rioland.

Baca juga: IDAI Khawatir Risiko Tinggi Lonjakan Kasus Corona Kala Ada Pembelajaran Tatap Muka di Sekolah

Baca juga: Soroti Perkembangan Penanganan Corona di Indonesia, Jokowi Sebut Semuanya Memburuk

Baca juga: Kasus Covid-19 Terus Meningkat di PPU, Hari Ini Seorang Pelajar Ikut Terpapar Corona

"Sebaliknya Indonesia memiliki tingkat resiliensi yang cukup baik dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi di akhir tahun 2020 hanya minus 1,5 persen," tambahnya.

Sebagai catatan di antara anggota G-20, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut merupakan yang terbaik kedua setelah Republik Rakyat China (RRC).

Menurutnya, hal tersebut buah upaya dari pemerintah yang terangkum dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Melalui Peraturan Pemerintah Nomo 23 tahun 2020, pemerintah telah menetapkan empat langkah strategis yaitu Penyertaan Modal Negara (PMN), penempatan dana, investasi pemerintah, dan atau penjaminan," kata  pria yang juga Komisaris PT Bank Mandiri (Persero) Tbk ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami inflasi di November 2020 sebesar 0,28 persen secara bulanan (month to month).

Baca juga: Doni Monardo: Tidak Semua Masyarakat Mengerti Istilah Asing Dalam Penanganan Covid-19

Baca juga: Kemendibud dan Satgas Covid-19 Luncurkan Pedoman Perilaku Protokol Kesehatan 3M Dalam 77 Bahasa

Baca juga: Pelaksanaan Pilkada di Masa Pandemi Covid-19, Ombudsman Kaltara Cek Kesiapan APD Untuk Pencoblosan

Deputi Bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Setianto mengatakan, untuk tahun kalender yaitu November 2020 dibandingkan Desember 2019 itu mengalami inflasi 1,23 persen.

"Kalau kita bandingkan November 2020 dengan November 2019 ini juga masih menunjukkan inflasi sebesar 1,59 persen," ujarnya saat konferensi pers virtual, Selasa (1/12).

Sementara dari 90 kota Indeks Harga Konsumen (IHK) yang BPS observasi, sebagian besar menunjukkan kenaikan harga atau inflasi. Ada 83 kota yang mengalami inflasi, sisanya 7 kota mengalami deflasi yaitu Kendari Ambon Tarakan, Tanjung pandan, Meulaboh Pare-pare dan Maluku.

"Ketujuh kota ini mengalami deflasi. Sementara, inflasi tertinggi berada di Kota Tual yaitu sebesar 1,15 persen," kata Setianto.

Dia menjelaskan, inflasi di Kota Tual merupakan andil dari kenaikan harga komoditas perikanan dan dari bahan bakar rumah tangga.

Selain inflasi tertinggi di Kota Tual, kita juga mencatat deflasi tertinggi yaitu terjadi di Kendari sebesar minus 0,22 persen.

Baca juga: GAWAT Kecamatan Jempang Sumbang Angka Tertinggi Kasus Covid-19 di Kubar, Total Capai 63 Orang

Baca juga: Tim Satuan Tugas Bontang Mewaspadai Gelombang Penyebaran Covid-19 Jelang Perayaan Tahun Baru

Baca juga: KPU Samarinda Sudah Siapkan Petugas Cadangan Jika Ditemukan Ada Anggota KPPS yang Positif Covid-19

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved