Banjir di Berau

BPBD Berau Belum Pastikan Kerugian Setelah Banjir

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau masih melakukan pendataan atas kerugian yang dialami korban banjir di 4 Kecamatan.

Penulis: Renata Andini Pengesti | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/RENATA ANDINI
Kondisi pascabanjir di Berau, Kalimantan Timur, Minggu (23/5/2021). Sebagian banjir di kampung telah surut, kerugian pasca banjir masih dalam pendataan. 

TRIBUNKALTIM.CO, TANJUNG REDEB – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau masih melakukan pendataan atas kerugian yang dialami korban banjir di 4 Kecamatan.

Hingga kini BPBD Berau masih menunggu data yang pasti dari 4 kecamatan tersebut.

Data dari BPBD Berau, terdapat 2.507 Kepala Keluarga (KK) yang rumahnya tenggelam akibat banjir pada 13 Maret 2021 lalu.

BPBD Berau yang dibantu oleh relawan Kabupaten Berau masih terus berupaya memberikan penyaluran bantuan kepada korban banjir.

Baca Juga: Tangani Masalah Banjir, Dipasang Jaring Tangkap Sampah di Sungai Karang Mumus Samarinda

Pemerintah Kabupaten dan BPBD Berau juga mencatat ada 4 Kampung di Kecamatan Segah, 4 Kampung di Kecamatan Kelay, 5 Kampung di Kecamatan Sambaliung dan 1 Kampung di Kecamatan Teluk Bayur yang terendam banjir.

“Masih proses pendataan, belum selesai untuk mengetahui kerugian yang ditimbulkan akibat banjir,” jelasnya kepada Tribunkaltim.co, Minggu (23/5/2021).

Sementara itu, sesuai arahan Bupati, nanti SKPD bersangkutan akan melakukan inventarisasi, termasuk juga BPBD Berau, Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Perkebunan, Rumah Sakit dan Dinas Kesehatan.

Tentunya dengan masing-masing metode serta diharapkan tetap berkoordinasi bersinergitas untuk melakukan perhitungan kerugian tersebut.

“BPBD sekarang lebih fokus ke penanganan bencana nya dulu, dengan mendistribusikan sembako atau bantuan-bantuan lain, kalaupun ada hal-hal yang perlu kita evakuasi dan lain lain akan kita lakukan,” jelasnya.

Baca Juga: Wabup Kukar Rendi Solihin Tinjau Lokasi Banjir dan Longsor di Sangasanga Kutai Kartanegara

Selain pendataan, pihaknya juga melakukan pemantauan, jika mereka mendapatkan angka pasti barulah dapat disimpulkan apakah dapat dikategorikan darurat bencana atau tidak.

Sementara itu, banyak warga yang terkena banjir sendiri sebagian besar berprofesi sebagai petani dan pekebun. Aset-aset pertanian dan hasil perkebunan juga banyak yang terdampak dan hilang.

“Jadi saya pikir kesimpulannya, kita tidak bisa sepihak mengeluarkan data kerugian. Dan harus berkoordinasi dulu dengan opini terkait lainnya,” tutupnya. 

Antisipasi Banjir Susulan

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, Thamrin, mengakui pihaknya masih siaga terkait bencana banjir yang menggenangi 15 kampung di 4 Kecamatan.

Karena itu, sampai sekarang ini, BPBD Berau tetap pasang kewaspadaan adanya banjir susulan.

Dia jelaskan, antisipasi dan sikap siaga itu dilakukan pihaknya, lantaran BMKG Berau memperkirakan curah hujan tinggi masih akan berlangsung hingga bulan Juni nanti.

Begitu juga musim kemarau di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, mundur.

Baca Juga: Wabup Kukar Rendi Solihin Tinjau Lokasi Banjir dan Longsor di Sangasanga Kutai Kartanegara

“Sekarang sudah surut, tapi masih ada genangan air di beberapa kampung,” jelasnya kepada Tribunkaltim.co, Sabtu (22/5/2021).

Sejumlah titik tersebut meliputi, Kampung Tumbit Melayu, Tumbit Dayak, Bena Baru, Pegat Bukur juga Long Lanuk.

Sisa lainnya, ungkap Thamrin, diyakini sudah kembali aman.

Thamrin juga mengatakan, bantuan sejatinya masih dikeluhkan oleh warga setempat, terutama untuk bantuan pangan instan.

Baca Juga: Malam Ini Tanjung Selor Banjir Air Luapan Sungai Kayan, Berikut Jalan yang Terkena Dampak

Pihaknya meminta sinergi kepada masyarakat maupun pihak perusahaan untuk ikut serta membantu, kendati bala bantuan sebagian besar sudah tersalurkan.

Harapnya agar tidak terjadi lagi hujan deras di hulu, agar tidak kembali lagi banjir susulan yang dikhawatirkan akan tambah merugikan masyarakat.

“Tentu saja kita berharap tidak akan ada lagi banjir susulan, sudah lebih dari 2.000 KK yang terdampak,” harapnya.

Sementara itu, terkait dana penanggulangan bencana pasca banjir belum bisa dikatakan berapa besaran yang dibutuhkan Pemkab Berau.

Baca Juga: BKSDA Selamatkan Owa-owa dari Bencana Banjir Berau, Jenis Satwa Dilindungi Berusia Satu Tahun

Untuk sekarang pihak pemerintahan sudah cukup terbantu oleh berbagai pihak.

“Belum ada perhitungan lagi, masih proses perhitungan. untuk bantuan korban banjir kan tak hanya datang dari pemerintah, ada perusahaan, komunitas, hingga masyarakat sendiri,” tutupnya.

Biang Kerok Banjir di Berau

Berita sebelumnya. Hujan deras yang melanda Kabupaten Berau sejak 12 Mei lalu, membuat Sungai Kelay dan Sungai Segah meluap.

Akibatnya, jalan Kampung Bena Baru terputus, dan rumah-rumah warga terendam banjir.

Bencana banjir ini disebut yang terbesar dalam kurun waktu 20 tahun terakhir.

Baca Juga: Banjir di Berau, Kepala BPBD Sebut Tersisa 5 Kampung yang Masih Terendam

Baca Juga: Belasan Kampung Terendam Banjir di Berau, Wabup Bantah akibat Tanggul Perusahaan Batubara Jebol

Berdasarkan data yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Berau, sebanyak 2.308 KK yang terdampak dari banjir yang terjadi bersamaan dengan momen Hari Raya Idul Fitri 1442 H.

Luapan Sungai Kelay itu merembes hingga tanggul salah satu tambang batubara yang beroperasi di Berau mengalami tanggul jebol pada Minggu, 16 Mei.

Jebolnya tanggul batubara yakni PT RUB disinyalir ikut memperparah kerusakan yang ada, terutama bagi warga di kampung Bena Baru.

Baca Juga: Banjir di Berau, Hanya Rugi Benih, Kampung Tumbit Melayu Sudah Melewati Masa Panen

Baca Juga: Kondisi Terkini Banjir di Berau, Bupati Sri Juniarsih Sebut akan Fokus Penanganan Pasca Banjir

Meluapnya Sungai Kelai serta Sungai Segah oleh pemerintah Kabupaten Berau disebut-sebut sebagai banjir tahunan yang kerap dialami warga.

Jatam Kaltim melalui siaran persnya yang diterima Tribun Kaltim Rabu (19/5/2021) menyebutkan, pemerintah tampak bersembunyi di balik narasi fenomena alam yang normal dan terjadi sepanjang tahun.

Tetapi abai dengan sejumlah fakta penting ihwal kerusakan bentang alam di Kabupaten Berau.

Terutama alih fungsi lahan menjadi konsesi tambang batubara di kawasan hulu.

"Sepanjang daerah aliran sungai," ujar Dinamisator Jatam Kaltim Pradarma Rupang melalui siaran persnya.

Baca Juga: Sulitnya Mendapatkan Dokter Hewan untuk Rumah Potong Hewan di Berau

Baca Juga: Vaksinasi AstraZeneca di Berau Tidak Ada, Dinkes Sebut Hanya Jenis Sinovac Saja

Jatam Kaltim mendesak agar pemerintah segera lakukan audit lingkungan secara menyeluruh, terhadap semua perusahaan tambang yang beroperasi di Kabupaten Berau.

Selama proses audit berlangsung, bekukan seluruh aktivitas tambang, makukan langkah penegakan hukum yang tegas dan terbuka atas perusahaan tambang yang bermasalah.

"Segera pulihkan seluruh kerusakan lingkungan yang terjadi akibat aktivitas tambang batubara di Kabupaten Berau," tutupnya. 

Berita tentang Tambang Ilegal

Berita tentang Banjir di Berau

Berita tentang Berau

Penulis Renata Andini | Editor: Budi Susilo

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved