Berita Balikpapan Terkini
Kenaikan Harga Bahan Bakar Rumah Tangga Picu Inflasi di Kota Balikpapan
Sementara secara tahunan, inflasi IHK Kota Balikpapan tercatat sebesar 1,93% (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional maupun Kalimantan
Penulis: Miftah Aulia Anggraini | Editor: Mathias Masan Ola
TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Kota Balikpapan kembali mengalami inflasi pada Oktober 2021 sebesar 0,05% (mtm).
Angka tersebut terhitung lebih rendah dibandingkan September 2021 yang mengalami inflasi sebesar 0,19% (mtm).
Sementara secara tahunan, inflasi IHK Kota Balikpapan tercatat sebesar 1,93% (yoy), atau lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional maupun Kalimantan Timur.
Inflasi pada bulan laporan disebabkan oleh kenaikan harga pada kelompok Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga.
Dengan andil 0,17% (mtm), didorong kenaikan harga komoditas bahan bakar rumah tangga khususnya LPG 3 kg di tingkat pengecer.
Baca juga: Sambut Ibu Kota Negara, Kabupaten Penajam Paser Utara akan Jadi Daerah Pencatat Inflasi Baru
Baca juga: Walikota Andi Harun Terima Kunjungan Pemkab Tanah Bumbu, Bahas Soal Covid-19, Inflasi dan WTP
Baca juga: Jalan Rusak Bisa Jadi Pemicu Inflasi, Wabup Berharap Pusat dan Pemprov Perbaiki Ruas Kubar-Samarinda
Inflasi juga dipicu oleh naiknya harga komoditas bahan bangunan seperti seng, batu bata dan cat tembok.
Hal tersebut disampaikan Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Mahdi Abdillah melalui siaran persnya.
"Inflasi juga terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki dengan andil 0,86% (mtm)," ujarnya, Selasa (2/11/2021).
Inflasi tersebut didorong oleh kenaikan beberapa komoditas pakaian seperti celana panjang jeans pria, celana panjang katun pria, dan baju kaos berkerah pria.
Selain itu, inflasi juga dialami oleh kelompok penyediaan makanan dan minuman dengan andil 0,04%.
Baca juga: Covid-19 Melandai, Ekonomi Kaltim Mengalami Inflasi, Berikut Ini Pemicunya
Yang didorong oleh naiknya harga jasa penyediaan makanan dan minuman di tengah adanya pelonggaran aktivitas sosial.
Di sisi lain, terjadi deflasi di kelompok transportasi dengan andil 0,11% (mtm), didorong oleh menurunnya tarif angkutan udara.
Faktor itu memberikan andil 0.07% (mtm) serta komoditas mobil yang memberikan andil 0,04% (mtm).
Mahdi menyebutkan beberapa faktor yang diperkirakan akan memberikan tekanan inflasi ke depanannya.
Diantaranya adalah naiknya tarif angkutan udara di tengah pelonggaran aktivitas sosial, naiknya harga sayuran hijau di tengah curah hujan yang masih tinggi.
Baca juga: Pemkot Samarinda Raih Penghargaan Terbaik Se-Kalimantan Pengendalian Inflasi