Opini
Keniscayaan Toleransi dalam Kemajemukan Bangsa
Artikel tentang toleransi yang ditulis oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman, Hairunnisa Husain.
Wahai manusia, sesungguhnya kami telah menciptakan kamu dari seorang lelaki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.
(QS. al-Hujurat: 13)
Kenapa Allah menciptakan manusia beraneka ragam? Bukankah Allah mampu menjadikan semuanya sama? Bukankah Allah Maha Kuasa menjadikan manusia satu bangsa? Pertanyaan ini dijawab oleh Allah dalam firman-Nya di bawah ini:
Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap kurnia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba lombalah berbuat kebajikan.
(QS. al-Ma’idah: 48)
Dari ayat di atas jelaslah hikmah dari kemajemukan adalah sebagai ujian dari Allah bagi manusia.
Memang dunia adalah tempat ujian, semua sisi kehidupan ini adalah ujian.
Allah ingin menguji manusia siapa yang terbaik amalnya.
Toleransi sebagai Keniscayaan Berbangsa
Di atas telah dinyatakan bahwa kemajemukan adalah suatu kodrat ilahi yang disebut sunnatullah.
Oleh karena itu, merupakan hal yang bertentangan dengan sunnatullah dan prinsip perikemanusiaan untuk menafikan dan menghapuskan kemajemukan.
Pada saat yang sama, kemajemukan merupakan suatu potensi sekaligus ancaman.
Dikatakan potensi, karena ia adalah suatu kekayaan, dimana di antara masyarakat yang berbeda bisa saling mengisi dan bekerjasama dalam mewujudkan kemaslahatan bersama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Hairunnisa-Husain-Dos.jpg)