Opini
Keniscayaan Toleransi dalam Kemajemukan Bangsa
Artikel tentang toleransi yang ditulis oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman, Hairunnisa Husain.
Sejumlah riwayat hadis melaporkan bahwa bagaimana Nabi mempersilakan tamu beliau rombongan kaum Nasrani untuk melakukan kebaktian di masjid Nabawi.
Salah satu sabda beliau yang sangat terkenal adalah “aḫabudddin ila-Allah al-ḫanifiyyah al-samḫah” (Pemahaman agama yang paling dicintai Allah adalah sikap terbuka dan toleran).
Para sarjana Muslim memaknai al-ḫanifiyyah al-samḫah sebagai sikap yang terbuka dan toleran (tasamuh).
Nurcholish Madjid menerjemahkan al-hanifiyyah al-samhah dengan keterbukaan dan kelapangan dada terhadap keragaman pandangan dan persepsi (Nurcholish Madjid, 2019).
Madjid menjelaskan bahwa atas dasar prinsip itulah dasar-dasar masyarakat Madinah yang dibangun Nabi, yaitu masyarakat yang berkeadaban (civility, madanîyah) yang tinggi.
Apa yang disebut dengan Piagam Madinah adalah peneguhan paham kemajemukan atau pluralisme.
Paham kemajemukan itu tidak dibenarkan untuk dipersepsi hanya sebagai sesuatu yang bersifat prosedural semata, sehingga dilaksanakan hanya jika menguntungkan dan ditinggalkan jika merugikan.
Paham kemajemukan itu merupakan akibat alamiah adanya kehendak Allah bahwa manusia memang berbeda-beda, dan harus diterima secara prinsipil dan konsekuen. (Nurcholish Madjid, 2004).
Dengan demikian, sikap toleransi merupakan nilai yang juga dijunjung tinggi oleh agama.
Karena itu, sikap-sikap intoleransi yang ditunjukkan oleh sebagian kelompok umat beragama (terutama umat Islam) bertentangan dengan prinsip ajaran Islam itu sendiri.
Walhasil, sikap toleransi masih harus ditanamkan, disosialisasikan dan dikembangkan pada masyarakat Indonesia.
Kita mesti melakukan program edukasi yang berkelanjutan untuk menumbuhkembangkan nilai dan sikap toleransi pada berbagai kalangan msyarakat dan komponen bangsa.
Sebagaimana dijelaskan Tholkhah, peranan pemerintah untuk mewujudkan kualitas kehidupan masyarakat seutuhnya ini paling strategis, terutama karena pemerintah memiliki kekuasaan dan tanggung jawab yang besar terhadap kesejahteraan masyarakat secara umum.
Meskipun demikian ketika kebijaksanaan tersebut hendak diimplementasikan maka diperlukan dukungan dari pelbagai lapisan masyarakat seperti organisasi sosial dan politik, para tokoh masyarakat dan kaum intelektual yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan kehidupan masyarakat. (Tolkhah, 2001).
Edukasi literasi toleransi seyogianya menjadi sebuah agenda nasional yang mendesak untuk disebarluaskan ke seluruh tanah air agar kemajemukan bangsa kita menjadi sumber berkah, bukan petaka. (*)
IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Hairunnisa-Husain-Dos.jpg)