Opini
Plastik Biodegradable Bukan Solusi Tepat Kurangi Pencemaran di Lautan
Plastik adalah salah satu makromolekul yang proses pembentukannya melalui tahap polimerisasi.
TRIBUNKALTIM.CO - Plastik adalah salah satu makromolekul yang proses pembentukannya melalui tahap polimerisasi.
Polimerisasi adalah suatu proses penggabungan dari beberapa molekul sederhana atau monomer menjadi molekul besar yang disebut Makromolekul atau Polimer melalui suatu proses kimia.
Penelitian mengenai polimer baru dimulai pada tahun 1960-an, tetapi perkembangannya sangat pesat sehingga produksi dalam skala industri meningkat tajam. Abad ke-21 ini dapat dikatakan sebagai Abad Polimer.
Saat ini penggunaan polimer semakin meluas. Peralatan sederhana di dapur sampai peralatan berat dengan teknologi tinggi, banyak menggunakan alat dan bahan yang terbuat dari polimer; Polietena digunakan untuk tas plastik, botol plastik, film plastik (pembungkus makanan);
Polipropena digunakan untuk karpet, wadah plastik, tali, tangki air; PoliVinil Klorida (PVC) untuk barang antiair, kabel, tas plastik, pipa air; Polifenil Etena untuk pegangan gunting, cangkir, mangkuk, mainan; Politetrafluoro etilena untuk wajan antilengket;
Poliamida untuk serat sintesis untuk tali, kaos kaki, kaos, tenda plastik, dan parasut; Poliester/ Terilena untuk parasut, layar perahu, kain; Fenol Metanal untuk sakelar, perlengkapan radio, telepon, kamera, piring dan gelas.
Baca juga: Bupati Kukar Imbau Warga Bagikan Daging Kurban Tanpa Kantong Plastik
Plastik adalah bahan yang sangat mudah terbakar, sehingga dapat meningkatkan peluang terjadinya kebakaran. Belum lagi asap yang dihasilkan dari pembakaran plastik mengandung gas beracun seperti Hidrogen Sianida (HCN) dan Karbon Monoksida (CO) yang berbahaya bagi tubuh.
Dampaknya bagi lingkungan adalah menyebabkan pencemaran udara. Membuang plastik ke alam bebas juga tidak dianjurkan karena sulit terurai oleh mikroorganisme dan mengakibatkan penurunan populasi fauna di tanah.
Dampak buruk yang dihasilkan adalah menurunnya persediaan mineral organik dan anorganik dan juga menghalangi ruang udara, sehingga jasad renik kekurangan oksigen di dalam tanah.
Beberapa upaya dapat dilakukan untuk mengurangi dampak negatif penggunaan plastik (Polimer) yaitu mengurangi pemakaian polimer plastik, tidak membuang plastik di sembarang tempat, mengumpulkan plastik-plastik bekas untuk didaur ulang, memisahkan sampah organik dan anorganik, dan yang sekarang sedang trending topik adalah mencari alternatif pemakaian bahan-bahan yang lebih mudah didegradasi.
Adapun alternatif pengganti kantong plastik atau yang disebut Plastik Biodegradable itu terbuat dari bahan-bahan yang lebih mudah didegradasi dan yang ramah lingkungan antara lain adalah Cassava bag, tas karung goni dan kantong kertas (Paperbag).
Baca juga: PKT Olah 650 Kilogram Limbah Plastik Jadi Bahan Aspal Jalan
Cassava bag adalah kantong yang terbuat dari singkong dengan tekstur lebih lemas dan lembut. Cassava bag terbuat dari resin alami yang terdiri dari 98 persen pati tapioka, 1 persen minyak nabati dan 1 persen biopolimer alami yang dapat terurai dan dikonsumsi oleh mikroorganisme dalam tanah.
Tas karung goni dikenal dengan nama jute bag sepenuhnya dapat terdegradasi secara biologis. Selain itu seratnya juga dapat didaur ulang tidak hanya pemakaiannya saja yang ramah lingkungan.
Proses budidaya rami atau goni juga ramah lingkungan karena tanaman rami dapat ditanam tanpa perlu pestisida atau pupuk.
Sedangkan Kantong Kertas atau Paperbag adalah kantong yang terbuat dari kertas. Akan tetapi untuk memilih paperbag yang digunakan untuk membungkus makanan diusahakan jangan memilih dari kantong yang berbahan daur ulang dari koran, majalah, tabloid dan sejenisnya karena tinta yang terdapat pada kertas sangat berbahaya apabila luntur dan bercampur dengan makanan.
Karena tinta pada koran bisa menyebabkan kanker, bahaya lain yang ditimbulkan akibat kertas koran adalah gangguan pencernaaan karena mengandung Diisobutyl phthalate, juga dapat menyebabkan gangguan reproduksi wanita karena adanya zat Benzophenones dan juga minyak mineral.
Baca juga: Hongkong Terancam Tumpukan Sampah Plastik, Pemerintahnya Desak untuk Daur Ulang
Tapi apakah plastik biodegradable merupakan solusi yang tepat?
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Imogen Napper dan Richard Thompson di University of Plymouth Inggris, plastik biodegradable tidak terurai setelah tiga tahun dibiarkan di alam bahkan masih utuh seperti sedia kala.
Adapula laporan yang berjudul “Biodegradable Plastics and Marine Litter. Misconceptions, Concerns and Impacts on Marine Environment” yang dirilis oleh UN Environment yang menyimpulkan bahwa plastic biodegradable bukanlah jawaban yang tepat dalam mengurangi pencemaran di lautan.
Plastik jenis ini hanya bisa hancur secara sempurna dalam kondisi lingkungan yang seringkali hanya ditemukan pada industrial composer (seperti pada suhu di atas 50 derajat Celcius) dan bukan di alam bebas.
(Wigati Ritma Murti, S.Pd)
Tentang Penulis:
Wigati Ritma Murti, S.Pd adalah Pengajar Kimia di SMA Negeri 1 Nunukan, Kalimantan Utara. Kegiatannya saat ini selain mengajar juga menulis, di mana sudah menghasilkan Tiga Buku Solo Kumpulan Cerpen dan Kumpulan Puisi, juga Buku Antologi bersama penulis lainnya. No WA. 082157613214
Join Grup Telegram Tribun Kaltim untuk mendapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari. Caranya klik link https://t.me/tribunkaltimcoupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/wigati-ritma-murti-s-pd-pengajar.jpg)