Ibu Kota Negara

IKN Nusantara Akomodir Kehidupan Seniman dan Budayawan di Kukar

Keberadaan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur memiliki keuntungan bagi pegiat seni dan budaya

Penulis: Miftah Aulia Anggraini | Editor: Budi Susilo
TRIBUNKALTIM.CO/MIFTAH AULIA
Wakil Ketua Lembaga Budaya Adat Kutai (LBAK), Misra Budiarto AX, menyatakan, songsong IKN Nusantara, Kabupaten Kutai Kartanegara bisa memiliki banyak festival kebudayaan layaknya Bali. Sehingga, banyak wisatawan maupun turis asing yang banyak bertandang, Rabu (22/3/2023). 

TRIBUNKALTIM.CO, TENGGARONG - Keberadaan pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur memiliki keuntungan bagi pegiat seni dan budaya.

Kepada TribunKaltim.co, Wakil Ketua Lembaga Budaya Adat Kutai (LBAK), Misra Budiarto AX mengungkapkan sejumlah keuntungan tersebut.

Pertama, pembangunan IKN Nusantara dipercaya mampu mengangkat kearifan lokal budaya kutai.

Apalagi Kutai Kartanegara sebagai lokasi pembangunan IKN punya narasi sejarah yang kuat dengan kerajaan tertua di Nusantara.

Baca juga: Mitigasi Banjir di Sepaku Kawasan IKN Nusantara, 7 Titik jadi Langganan Genangan Air

Kedua, budaya kutai juga bisa mendunia dengan kehadiran IKN. Hal ini karena, Badan Otorita bisa memperkenalkan budaya Kutai melalui jamuan kenegaraan.

Menurut Misra, kebudayaan Kutai pun harus lebih terbuka untuk bisa dipelajari semua orang yang akan datang ke Benua Etam.

"Setidaknya dalam jamuan kenegaraan nanti 60 persen bisa menggunakan budaya kutai dan budaya lain bisa dikembangkan bersama," ujarnya kepada TribunKaltim.co, Rabu (22/3/2023).

Ketiga, komunitas seni dan budaya kutai bisa mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat, khususnya Kemetrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.

Kami Sangat Mendukung

Oleh sebab itu, lanjut Misra, para seniman Kutai bisa merapatkan barisan untuk mengangkat seni dan budaya kutai di Kalimantan Timur.

"Kami sangat mendukung, dengan adanya IKN di Kalimantan Timur kehidupan para seniman dan budayawan bisa sangat terbantu," kata Misra.

Ketua Komunitas Seraong itu pun berharap, pemerintah bisa kembali membangkitkan Lembaga Pembinaan Kebudayaan Kutai (LPKK).

Lembaga yang vakum sejak 2008 lalu ini dinilai mampu mengkordinir para seniman yang tergabung dalam kelompok, geruk, paguyuban, dan sanggar untuk berkarya bersama.

Baca juga: Banjir di IKN Nusantara, Forest Watch Indonesia Nilai Tingginya Perubahan Tutupan Hutan

Bila dihitung ada ribuan seniman yang pernah tergabung dalam LPKK, dimulai dari penyanyi, pemusik, penari, teater, tarsul, dan sastrawan.

"Lembaga ini dulu menjadi pilot project. Jika ada orang yang hendak belajar kebudayaan Kutai, maka direkomendasikan untuk datang ke lembaga ini," jelasnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved