Horizzon
Pesan Krusial dari Babulu
Kasus pembunuhan di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara tak boleh dianggap sekadar pembunuhan sadis.
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim
KASUS pembunuhan di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara pada Selasa (6/2 /2024) dini hari tak boleh dianggap sekadar pembunuhan sadis.
Kasus pembunuhan terhadap lima orang dalam satu keluarga yang dilakukan oleh Jefri (bukan nama sebenarnya), siswa SMK kelas 12 berusia 17 tahun ini harus menjadi atensi semua pihak, utamanya pemerintah.
Kita semua memang melihat bagaimana kearifan lokal telah mengambil peran pascatragedi tersebut.
Untuk menghilangkan trauma di masyarakat, warga dengan kesepakatan keluarga korban dan juga pelaku memutuskan untuk merobohkan rumah keluarga pelaku sekaligus rumah korban yang menjadi TKP pembunuhan ini.
Sekilas kita memahami langkah tersebut bertujuan untuk mengantisipasi munculnya trauma berkepanjangan di warga sekitar.
Jika tidak salah, keluarga pelaku juga sepakat untuk meninggalkan Babulu Laut demi tujuan yang sama plus mengantisipasi hal-hal yang berpeluang menjadi ikutan dari kasus tersebut.
Baca juga: Waktu Balas Dendam
Sebagai tindakan pasca kejadian, kearifan lokal tersebut tentu sangat bisa kita maklumi. Termasuk jika mungkin muncul tuntutan dari publik agar pelaku dihukum berat, itu juga sesuatu yang wajar.
Namun demikian, untuk perspektif yang lebih dalam, proses hukum dan juga kearifan lokal yang sudah berjalan, rasanya belum cukup untuk menuntaskan kasus ini.
Kita butuh pemahaman yang utuh atas kasus ini sehingga memperoleh pelajaran sekaligus melakukan mitigasi agar kasus-kasus serupa tidak terulang.
Mari sejenak kita merenung tentang apa yang terjadi Selasa (6/2/2024) dini hari di Babulu Laut.
Di masing -masing kita tentu bertanya, apa yang ada di kepala Jefri, siswa kelas 12 SMK malam itu.
Baca juga: Mimpi 100 Tahun Balikpapan Ditumpahkan Rahmad Mas’ud di Meja Makan
Entah dendam, amarah atau apalagi yang menggerakkan kaki Jefri melangkah dari rumahnya menenteng parang menuju ke rumah keluarga gadis pujaan hatinya yang hanya bersebelahan itu.
Apa yang ada di kepala Jefri kala itu yang dengan taktis mematikan listrik rumah gadis pujaan hatinya dan kemudian melangkah masuk dan menghantam ayah gadis pujaan hatinya dengan golok hingga sekarat.
Kita juga masih butuh mengernyitkan dahi lantaran usai menghabisi nyawa Waluyo, Jefri masih melangkah ke kamar utama dan lagi-lagi menebaskan goloknya ke istri Waluyo dan dua anak Waluyo.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ibnu-taufik-juwariyanto-pemimpin-redaksi-tribun-kaltim.jpg)