Horizzon
Pesan Krusial dari Babulu
Kasus pembunuhan di Desa Babulu Laut, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara tak boleh dianggap sekadar pembunuhan sadis.
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
Dari keterangan polisi yang dikuatkan dengan hasil otopsi, luka pada korban cukup parah. Artinya, saat itu Jefri memang dalam posisi gelap mata menghabisi korban-korbannya.
Baca juga: Raung Sirene Demokrasi dari Bulaksumur
Belum selesai sampai di situ, parang di tangan Jefri masih meminta satu korban lagi dengan menghabisi anak sulung Waluyo, yang tak lain adalah gadis yang menjadi pujaan hati Jefri.
Bisa diduga, atau kita tunggu detail dari penyelidikan pihak kepolisian, lima nyawa yang dihabisi Jefri tentu dieksekusi dengan singkat. Sebab semua korban berada di dalam rumah yang sama, sehingga bisa dipastikan proses eksekusinya sangat cepat.
Ada puzzle yang juga perlu menjadi perhatian, dimana kuat diduga Jefri juga melampiaskan syahwat birahinya kepada korban terakhir.
Aksi terakhir Jefri ini tentu melenngkapi narasi sadis atas pembunuhan yang telah dilakukannya. Apalagi, konon istri Waluyo juga diduga mendapat perlakuan sama oleh Jefri.
Terakhir, usai melampiaskan birahinya, Jefri ternyata juga kembali menggunakan parangnya untuk membunuh Waluyo yang dilihatnya masih bergerak saat ia akan keluar meninggalkan rumah korban.
Baca juga: Ironi Demokrasi Basa-basi
Kalimat sederhananya, barangkali tak berlebihan jika kita mengajukan satu pertanyaan, “Syaitan mana yang merasuki Jefri kala itu?”
Ketika akal sehat kita tak sanggup memahami latar belakang yang membuat Jefri senekat itu, tiba-tiba kita juga mendapat puzzle lain dari kasus ini, yaitu Jefri juga merupakan orang yang berniat mengungkap kasus ini dengan memberitahukan kepada orang lain.
Seolah tak tahu apa yang terjadi, ia melaporkan adanya pembunuhan tersebut, yang barangkali ini adalah upaya ia untuk beralibi.
Apa pun itu, ini penting untuk dicatat, berapa jeda waktu dari Jefri mengeksekusi Waluyo untuk yang kedua kalinya dengan ia melaporkan kasus tersebut kepada orang lain.
Apa yang dilakukan Jefri di waktu antara dia membunuh Waluyo dengan dia menyampaikan apa yang ia ketahui (baca: lakukan) kepada orang lain juga akan menjawab banyak misteri.
Baca juga: Netralitas yang Sudah Berubah Makna
Sekali lagi, tragedi pilu di Babulu Laut Selasa (6/2/2024) tak cukup hanya dilihat dari perspektif hukum semata. Artinya, hukuman terhadap pelaku tak akan banyak memberi pelajaran kepada kita.
Kita butuh pemahaman yang utuh atas kasus ini dan kita perlu membuat mitigasi agar ‘kejanggalan’ sadis ini tak perlu terulang di kemudian hari.
Kita perlu paham bagaimana dunia anak-anak kita seusia Jefri dan sebayanya siswa SMK. Seberapa tertekankah mereka dan seberapa ‘picik’ kah pemahaman mereka hingga memilih escape atau jalan keluar yang jauh di luar nalar sehat kita kebanyakan?
Apakah benar anak-anak kita sudah benar-benar memiliki tekanan luar biasa antara kenyataan hidup keseharian dengan luasnya mimpi di sosial media yang saat ini kita abai tak lagi membatasinya?
Kita berharap, pemerintah memiliki kepekaan sosial dengan kasus Babulu Laut ini.
Waluyo dan keluarganya tak bisa diselamatkan dan kita tentu berdoa mereka diberi tempat terbaik di sisiNya, namun Jefri-Jefri kita yang lain harus diselamatkan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ibnu-taufik-juwariyanto-pemimpin-redaksi-tribun-kaltim.jpg)