Horizzon
Terima Kasih Pak Jokowi
Jokowi telah memberi standar bagaimana sukses melanggengkan kekuasaan adalah dengan tidak melibatkan rasa malu dan bahkan menabrak etik.
Penulis: Ibnu Taufik Jr | Editor: Syaiful Syafar
Oleh: Ibnu Taufik Juwariyanto, Pemimpin Redaksi Tribun Kaltim
TERIMA KASIH Pak Jokowi! Kalimat tersebut rasanya pantas untuk melepas Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo yang 20 Oktober 2024 resmi mengakhiri satu dekade pengabdiannya.
Sejumlah kontroversi memang mewarnai kepemimpinan mantan Wali Kota Solo ini selama dua periode menjabat sebagai Presiden RI.
Awal mula moncernya Jokowi bahkan juga dari kontroversi yang sampai sekarang tak pernah terjawab.
Ingat Jokowi pasti ingat dengan mobil ESEMKA, sebuah mobil yang diklaim sebagai karya anak bangsa yang sudah dipesan sekira 6 ribu unit yang sampai sekarang tak jelas juntrungannya.
Meski kontroversi, namun kisah ESEMKA yang mengantar Jokowi ke istana ini haruslah tetap dijadikan pelajaran.
Baca juga: Ingat, IKN Masih di Kaltim!
Setidaknya pelajaran agar kita tak gampang percaya pada citra wong cilik yang barangkali justru dari tampang wong ndeso itulah keluar kebijakan-kebijakan kapitalis dan pro kepada pengusaha bin lupa pada wong cilik.
Setelah pelajaran tentang tampang, Jokowi juga memberikan pelajaran paling fundamental dalam berpolitik, yaitu etik yang didalamnya terkandung rasa malu.
Dari sini, Jokowi dengan sempurna memberikan kita petuah bagaimana rasa malu menjadi self control bagi setiap penguasa yang secara manusiawi selalu ingin mempertahankan kekuasaannya.
Tidak bisa dipungkiri, kekuasaan adalah candu yang memabukkan, sehingga siapapun ingin mempertahankannya saat kekuasaan itu sudah diraih.
Sebut saja SBY yang rela memaksa AHY pensiun dari tentara demi untuk peruntungan mewarisi kekuasannya.
Sayang, kala itu SBY masih memiliki rasa malu, sehingga dalam merencanakan masa depan AHY masih melalui proses panjang dan harus terganjal di fase pertama, yaitu kontestasi di Pilgub DKI Jakarta.
Baca juga: Belajar dari Paus Fransiskus
SBY adalah contoh bagaimana secara manusiawi, kekuasaan adalah candu yang layak dilanggengkan.
Di luar negeri sebut saja Marcos, Aquino atau di negeri Paman Sam, ada Bush dan Bush Jr juga menunjukkan bahwa kekuasaan itu candu dan layak diturunkan.
Yang berbeda, Jokowi memberi pelajaran bahwa saat candu kekuasaan itu tak perlu melibatkan rasa malu dan bahkan boleh menabrak etik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/ibnu-taufik-juwariyanto-pemimpin-redaksi-tribun-kaltim.jpg)