Berita Samarinda Terkini

Habiskan Anggaran Rp 1,8 Miliar, Ini Konsep Tugu Pesut di Jembatan Mahakam IV Samarinda

Pengerjaan Tugu Pesut yang berada di ujung Jembatan Mahakam IV Samarinda kini telah menyentuh tahap akhir

Penulis: Rita Lavenia | Editor: Samir Paturusi
TRIBUNKALTIM.CO/RITA LAVENIA
Potret Tugu Pesut di ujung Jembatan Mahakam IV sisi Samarinda Seberang yang kini siap diresmikan pada Rabu (8/1/2025) mendatang.TRIBUNKALTIM.CO/RITA LAVENIA 

TRIBUNKALTIM.CO,SAMARINDA - Pengerjaan Tugu Pesut yang berada di ujung Jembatan Mahakam IV Samarinda kini telah menyentuh tahap akhir.

Sentuhan akhir berupa lukisan sejuta makna oleh Penjabat Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim), Akmal Malik bersama sang seniman pembuat tugu John Martono menjadi pemanis akhir monumen dengan makna The Journey of Happiness atau Perjalanan Kebahagiaan tersebut, Senin (6/1/2025).

Berdiri megah, di antara Jalan Ahmad Yani dan Jalan Cipto Mangunkusumo Samarinda, tugu karya seniman asal Bandung tersebut dibangun menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (Kaltim) dengan nilai Rp 1,8 miliar.

Dikerjakan oleh 18 orang Tugu Pesut tersebut dibuat menggunakan plat galvanis dengan ketebalan 1,5 milimeter.

"Jadi tugunya tidak akan berkarat," jelas John Martono yang akrab dengan sapaan Capt. John tersebut.

Baca juga: Polemik Bentuk Tugu Pesut Mahakam Samarinda, Dosen Ilmu Budaya dari Unmul Beri Pandangan

Baca juga: Makna Tugu Pesut di Dekat Jembatan Mahakam IV Samarinda, Karya Seniman Bandung

17 kombinasi warna menjadi pemanis Tugu Pesut dengan panjang 36 meter dan lebar 7 meter tersebut.

Untuk mempercantik, seluruh sisi plat akan dililiti lampu LED putih sepanjang 300 meter.

Ada juga belasan lampu sorot yang akan mempercantik tampilannya pada petang hingga malam hari.

Capt. John menjelaskan, konsep yang ingin dicapai melalui tugu ini adalah bagaimana masyarakat bisa mencintai lingkungan. 

"Saya yakin selama Pesut itu ada, berarti lingkungan itu baik. Sama seperti kalau di lingkungan kita masih ada kupu-kupu, artinya udara masih bagus," jelasnya.

Sementara pada bagian bawahnya, jelasnya, orang bisa mengartikan sebagai Sungai Mahakam.

Namun lanjutnya, yang ingin ditampilkan bahwa sesuatu yang mengalir itu mengandung nilai-nilai fleksibilitas.

"Fleksibilitas artinya siapapun yg hidup di Kaltim harus secara situasional dan progresif menghadapi berbagai macam zaman," jelasnya.

Ia menjelaskan, ide membuat monumen tersebut tercetus dari Pj Akmal Malik sejak Desember 2023. 

Setelah dirancang, akhirnya awal September 2024 pengerjaan dimulai.

Tugu Pesut ini menghabiskan 8 ton besi plat yang dipesan dari Samarinda namun diukir di Bandung.

Melalui karyanya ini, Capt. John dan tim mengajak masyarakat untuk mencintai lingkungan.

"Kalau kita sudah mencintai lingkungan, artinya kita mencintai wilayah kita. Karena harus kita yang mencintai dan membangun daerah kita," pungkasnya.

Capt. John berpesan Tugu Pesut harus dirawat.

Pemeliharaannya dengan menghindari gesekan benda keras dan bisa dibersihkan saat kotor.

Sementara itu, Pj Akmal Malik mengatakan tugu ini merupakan hadiah untuk masyarakat pada HUT ke 68 Kaltim.

Ia menjelaskan, sengaja menonjolkan Pesut sebab Lumba-Lumba air tawar tersebut perlu dilestarikan.

 "Pesut kita jumlahnya semakin terbatas. Info terakhir tinggal 62 ekor," bebernya.

Baca juga: Akademisi Nilai Tugu Pesut Samarinda Futuristik, Dahri: Yang Punya Pengetahuan Cukup Pasti Tak Ribut

Melalui monumen ini juga ia ingin mengajak masyarakat Kaltim untuk menjaga dan mengingat Pesut Sungai Mahakam yang menjadi hewan endemik yang hanya ada di Benua Etam.

"Kita mengingatkan betapa pentingnya kita menjaga kekayanan dan kebanggaan Kaltim, yaitu Pesut. Dia engga ada di daerah lain," tegasnya.

"Selain itu, hadirnya tugu ini juga sesuai tugas pemerintah membuat masyarakat bahagia. Minimalnya ketika ke arah kota, orang-orang senang lihatnya," imbuhnya. (*)

 

 

Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved