Berita Samarinda Terkini
Refleksi Waisak 2025, Kendalikan Diri dan Tebarkan Perdamaian untuk Dunia
Hari Raya Trisuci Waisak merupakan momen sakral bagi umat Buddha yang sarat makna dan refleksi.
Penulis: Nevrianto Hardi Prasetyo | Editor: Miftah Aulia Anggraini
TRIBUNKALTIM.CO, SAMARINDA – Hari Raya Trisuci Waisak merupakan momen sakral bagi umat Buddha yang sarat makna dan refleksi.
Setiap tahun, peringatan ini menjadi waktu untuk mengenang tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha: kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, dan parinibbana atau wafatnya Sang Buddha.
Ketiga momen tersebut bukan sekadar sejarah spiritual, melainkan pelajaran mendalam tentang kebijaksanaan, kasih sayang, dan pengendalian diri yang menjadi inti dari ajaran Buddha.
Ketua Pusdiklat dan Mahavihara Sejahtera Maistreya Samarinda atau Buddhist Centre Provinsi Kalimantan Timur, PDT Hendri Suwito mengatakan, tahun ini, Waisak 2569 BE mengusung tema "Tingkatkan Pengendalian Diri dan Kebijaksanaan Mewujudkan Perdamaian Dunia."
"Tema ini mengajak kita semua, tidak hanya umat Buddha, untuk menanamkan kedamaian dari dalam hati yang kemudian memancar ke keluarga, lingkungan, bahkan dunia," ungkapnya, Senin (12/5/2025).
Baca juga: Hari Waisak 2025, Brimob Polda Kaltim Perketat Pengamanan Vihara dan Wisata di Balikpapan
Dalam ajaran Buddha, pengendalian diri dikenal sebagai sīla atau moralitas.
Bukan hanya sekadar aturan, tetapi dasar dari perilaku harmonis, damai, dan penuh cinta kasih.
Sīla melatih seseorang untuk menjaga diri dari tindakan, ucapan, dan pikiran yang merugikan — menjadikannya latihan batin yang dalam demi menciptakan ketenangan dan kebahagiaan sejati.
Sang Buddha juga mengajarkan tentang anicca atau ketidakkekalan.
Dunia ini berubah setiap saat.
Baca juga: Polresta Kerahkan 50 Personel untuk Jaga Ketat 7 Vihara di Balikpapan saat Hari Raya Waisak
Semua perasaan negatif akan berlalu, dan dengan kebijaksanaan kita dapat menghadapinya tanpa terperangkap dalam penderitaan.
"Melalui kebijaksanaan (paññā), kita diajak untuk melihat hidup secara jernih," kata PDT Hendri Suwito.
Untuk memahami bahwa suka dan duka adalah bagian dari perjalanan yang sementara.
Dengan kebijaksanaan pula, kita belajar melepaskan keterikatan dan melihat segala sesuatu dalam terang pemahaman, bahwa semua makhluk terhubung dan layak mendapatkan cinta kasih.
Perdamaian sejati, seperti yang diajarkan Sang Buddha, tidak bisa dicapai tanpa kedamaian batin. Dunia luar adalah cermin dari dunia dalam kita.
Baca juga: Peringati Hari Raya Waisak, Layanan SIM di Polresta Balikpapan Tutup selama Dua Hari
Hari Waisak 2025
Budhist Centre
Budhist Center Mahavihara Sejahtera Maitreya
Perdamaian
Pengendalian Diri
Kalimantan Timur
TribunKaltim.co
Penumpang dan Pengelola Bus Anggap Terminal Bayangan Samarinda Mudahkan Akses, Harga Tiket Sama |
![]() |
---|
Sistem Tilang ETLE di Samarinda Belum Berfungsi, Ribuan Pengendara Masih Melanggar Lalulintas |
![]() |
---|
Alasan Penumpang Pilih Terminal Bayangan Samarinda: Langsung Berangkat, Lebih Cepat |
![]() |
---|
PUPR Samarinda Hanya Fokus Bangun Insinerator dan Pengelolaan Diserahkan ke DLH |
![]() |
---|
Terminal Bayangan Samarinda tak Langgar Lalulintas Malah Mudahkan Akses Penumpang |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.