Selasa, 9 Juni 2026

Berita Ekbis Terkini

Simpanan Rupiah Menyusut, Likuiditas Perbankan Mulai Tertekan

Likuiditas industri perbankan mulai menghadapi tekanan seiring menyusutnya simpanan dalam mata uang rupiah.

Tayang:
Tribunnews.com/Jeprima
SIMPANAN RUPIAH - Ilustrasi pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026). Likuiditas industri perbankan mulai menghadapi tekanan seiring menyusutnya simpanan dalam mata uang rupiah. 

Menurut Rizal, dampak terhadap fungsi intermediasi perbankan dapat melebar jika tren penurunan simpanan rupiah berlangsung dalam jangka panjang.

“Kenaikan CoF akan menekan margin bunga bersih (NIM), sehingga ruang bank untuk menyalurkan kredit dengan bunga yang kompetitif menjadi semakin terbatas. Akibatnya, pertumbuhan kredit berpotensi melambat dan profitabilitas bank ikut tertekan,” katanya.

Baca juga: Purbaya Sebut Pelemahan Rupiah Dipicu Sentimen Negatif, Bukan Krisis Ekonomi

Rizal menilai bank perlu mengubah strategi untuk menjaga pertumbuhan dana murah.

Bank tidak cukup hanya bersaing pada tingkat bunga.

Bank juga perlu memperkuat ekosistem layanan transaksi yang memberi nilai tambah bagi nasabah.

“Penguatan digital banking, integrasi layanan pembayaran, payroll, cash management, transaksi UMKM, hingga program loyalitas menjadi kunci untuk mempertahankan dana mengendap di rekening,” jelasnya.

Chief Economist BTN Myrdal Gunarto juga melihat adanya pergeseran dana masyarakat dari DPK tradisional ke instrumen moneter dan pasar modal yang menawarkan yield lebih tinggi.

Menurut Myrdal, penerbitan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia atau SRBI dan SBN ritel ikut menyedot likuiditas rupiah dari sistem perbankan.

Selain itu, sebagian dana masyarakat juga dikonversi ke valas.

Konversi itu dilakukan untuk kebutuhan hedging kewajiban luar negeri korporasi, pembayaran dividen investor asing, maupun antisipasi volatilitas nilai tukar.

Myrdal menilai penurunan DPK rupiah secara langsung mulai memberi tekanan terhadap likuiditas dan cost of fund perbankan.

Ketika DPK menyusut, loan to deposit ratio atau LDR perbankan otomatis meningkat.

Akibatnya, ruang likuiditas menjadi lebih sempit.

“Bank-bank, terutama di kelompok menengah ke bawah, akan cenderung merilis special rate deposito demi menahan deposan besar atau institusi. Peralihan dari dana murah ke dana mahal ini akan langsung mendongkrak cost of fund,” ujar Myrdal.

Baca juga: Biasanya Murah Senyum, Purbaya Kini Serius di DPR Saat Rupiah Tembus Rp18.000

Menurut Myrdal, bank akan lebih selektif menyalurkan kredit baru jika tren outflow rupiah terus berlangsung tanpa pelonggaran likuiditas.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved