Selasa, 9 Juni 2026

Berita Ekbis Terkini

Simpanan Rupiah Menyusut, Likuiditas Perbankan Mulai Tertekan

Likuiditas industri perbankan mulai menghadapi tekanan seiring menyusutnya simpanan dalam mata uang rupiah.

Tayang:
Tribunnews.com/Jeprima
SIMPANAN RUPIAH - Ilustrasi pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan, Selasa (27/1/2026). Likuiditas industri perbankan mulai menghadapi tekanan seiring menyusutnya simpanan dalam mata uang rupiah. 

Ringkasan Berita:
  • Simpanan rupiah menyusut Rp172,9 triliun pada April 2026, menekan likuiditas perbankan.
  • Tekanan likuiditas terutama terjadi jika dana murah (CASA) menurun, karena bank harus menaikkan suku bunga deposito sehingga meningkatkan Cost of Fund.
  • Bank besar seperti Mandiri dan CIMB Niaga menilai likuiditas masih terjaga, namun tren pergeseran dana ke instrumen investasi tetap menjadi tantangan.

TRIBUNKALTIM.CO -  Industri perbankan nasional mulai menghadapi tekanan likuiditas akibat penurunan simpanan dalam mata uang rupiah.

Likuiditas adalah kemampuan bank memenuhi kewajiban jangka pendeknya, termasuk penarikan dana nasabah.

Data Bank Indonesia (BI) mencatat dana pihak ketiga (DPK) rupiah pada April 2026 sebesar Rp8.100,4 triliun, tumbuh 9,6 persen secara tahunan (year on year).

Namun, angka itu turun dibanding Maret 2026 yang mencapai Rp8.208,2 triliun dengan pertumbuhan 11,1 persen.

Baca juga: Proyeksi Nilai Tukar Rupiah terhadap Dollar AS Senin 8 Juni 2026, Ada Faktor Global dan Domestik

Artinya, simpanan rupiah menyusut Rp172,9 triliun secara bulanan.

Sementara itu, DPK valuta asing (valas) tercatat Rp1.467,3 triliun, tumbuh 8,6 persen secara tahunan dan relatif stagnan dibanding bulan sebelumnya Rp1.450,6 triliun.

Kepala Pusat Makroekonomi Indef, M Rizal Taufikurahman, menilai penurunan simpanan rupiah menunjukkan adanya portofolio rebalancing—fenomena pergeseran dana ke instrumen investasi lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, seperti Surat Berharga Negara (SBN), deposito berjangka, reksa dana pasar uang, dan emas.

“Sebagian dana juga kemungkinan terserap untuk kebutuhan modal kerja perusahaan dan konsumsi rumah tangga,” ujar Rizal, Minggu (7/6/2026). Ia menegaskan perpindahan dana ke valas bukan faktor dominan.

Kenaikan simpanan valas yang hanya sekitar Rp 29,7 triliun menunjukkan perpindahan dana ke valuta asing bukan faktor dominan.

Karena itu, Rizal menilai kondisi saat ini lebih tepat dipahami sebagai fenomena portofolio rebalancing dibandingkan aksi dolarisasi.

Baca juga: Rupiah Melemah ke Rp 18.095, Pemerintah dan DPR Bahas Langkah Stabilisasi

Dana Murah Ikut Tertekan

Rizal mengatakan, penurunan simpanan rupiah mulai memberi tekanan terhadap likuiditas perbankan.

Tekanan akan lebih terasa jika dana murah atau current account saving account, CASA, ikut menurun.

Ketika bank kehilangan sumber dana berbiaya rendah, bank cenderung menaikkan suku bunga deposito untuk mempertahankan likuiditas.

Kondisi tersebut pada akhirnya mendorong kenaikan cost of fund atau CoF.

Namun, tekanan itu masih dapat dikelola selama penurunan simpanan bersifat sementara dan rasio likuiditas industri tetap memadai.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved