Opini
Pariwisata dan Ruang Publik: Mengenang Pemikiran Habermas
Pariwisata telah berevolusi dari sekadar aktivitas rekreasi sekunder menjadi salah satu sektor ekonomi paling dinamis dan mendominasi di dunia
Dalam konteks pariwisata, ruang publik dapat muncul dalam berbagai bentuk. Diskusi publik mengenai rencana pembangunan destinasi, forum konsultasi antara pemerintah dan masyarakat, serta perdebatan di media mengenai dampak pariwisata merupakan contoh bagaimana ruang publik berfungsi.
Keberadaan ruang publik yang sehat sangat penting bagi demokratisasi kebijakan pariwisata. Melalui ruang publik, masyarakat memiliki kesempatan untuk mengkritisi kebijakan yang dianggap merugikan, sekaligus mengusulkan alternatif kebijakan yang lebih berkelanjutan.
Ruang publik dalam masyarakat modern sering mengalami distorsi. Dominasi kekuatan ekonomi dan politik dapat menghambat proses diskursus yang rasional. Seperti media massa, kehadiran para pendengung (buzzer) dapat dipengaruhi oleh kepentingan bisnis atau politik sehingga tidak sepenuhnya mencerminkan kepentingan masyarakat.
Dalam sektor pariwisata, distorsi ruang publik dapat terjadi ketika kepentingan investor besar lebih dominan dibanding suara masyarakat lokal. Situasi seperti ini, keputusan pembangunan sering kali diambil tanpa proses dialog yang memadai.
Salah satu kritik utama Habermas terhadap masyarakat modern adalah fenomena yang ia sebut sebagai kolonisasi dunia kehidupan.
Dunia kehidupan merujuk pada ruang sosial di mana nilai-nilai budaya, tradisi, dan identitas komunitas berkembang. Tertekan oleh logika sistem yakni logika pasar dan birokrasi. Menempatkan efisiensi dan keuntungan ekonomi sebagai nilai utama.
Kolonisasi dunia kehidupan dapat terlihat dalam berbagai bentuk. Banyak tradisi budaya yang awalnya memiliki makna spiritual atau sosial kemudian berubah menjadi pertunjukan wisata yang dikemas untuk konsumsi turis. Ritual adat, festival tradisional, bahkan pola kehidupan masyarakat dapat mengalami transformasi akibat tekanan industri pariwisata.
Proses ini sering disebut sebagai komodifikasi budaya (Mosco,2009). Budaya tidak lagi dipandang sebagai ekspresi identitas komunitas, tetapi sebagai produk ekonomi yang dapat dijual kepada wisatawan.
Di satu sisi, pariwisata memang dapat membantu melestarikan budaya lokal dengan memberikan nilai ekonomi pada tradisi tersebut. Pada sisi lain, komersialisasi yang berlebihan dapat mengubah makna budaya itu sendiri.
Habermas mengingatkan bahwa ketika logika ekonomi terlalu dominan, dunia kehidupan masyarakat dapat kehilangan otonominya. Oleh karena itu, perlu ada mekanisme demokratis yang memungkinkan masyarakat mempertahankan nilai-nilai budaya mereka dalam menghadapi tekanan pasar.
Baca juga: Berau Incar Wisatawan Pulau Jawa, Promosi Pariwisata Segera Hadir di KAI
Di Indonesia, tantangan pembangunan pariwisata tidak hanya terjadi di destinasi besar seperti Bali atau Yogyakarta. Banyak daerah yang sedang mengembangkan sektor pariwisata juga menghadapi dilema serupa.
Sebagian besar wilayah di Kalimantan Timur, memiliki potensi wisata alam yang besar, mulai dari ekowisata pesisir hingga keanekaragaman hayati hutan tropis. Namun pengembangan potensi tersebut perlu dilakukan secara hati hati agar tidak merusak ekosistem yang menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Pendekatan Habermas menawarkan perspektif bahwa pengembangan pariwisata di daerah daerah sebaiknya dilakukan melalui proses dialog yang melibatkan pemerintah daerah, masyarakat lokal, akademisi, serta pelaku industri pariwisata.
Dengan cara ini, pembangunan destinasi dapat mempertimbangkan berbagai dimensi secara lebih seimbang. Pada akhirnya, pariwisata bukan sekadar industri. Ia adalah fenomena sosial yang melibatkan interaksi antara manusia, budaya, dan lingkungan. Kebijakan pariwisata tidak dapat semata-mata ditentukan oleh logika pasar atau kepentingan ekonomi jangka pendek.
Pembangunan berkelanjutan memerlukan ruang dialog terbuka dan rasional. Di tengah semakin kompleksnya tantangan pembangunan pariwisata, pendekatan ini menjadi semakin penting. Pariwisata yang demokratis lahir dari dialog antara berbagai kepentingan.
| Menjaga Denyut Ekonomi Perbatasan: Refleksi Peredaraan Rupiah di Kalimantan Utara |
|
|---|
| Pengabdian Panjang di Titik Terakhir: Mundur dari Sekretaris YJI Kaltim setelah 24 Tahun Menjabat |
|
|---|
| Rupiah Bukan Sekadar Uang, Ini Makna Kedaulatan di Setiap Transaksi |
|
|---|
| Di Balik Pengangkatan Sekda Neneng Chamelia: Penerapan Manajemen Talenta untuk Promosi Jabatan |
|
|---|
| Catatan 40 Tahun Berkarir sebagai PNS: Merintis Camat Babulu hingga Dua Jabatan Kepala Dinas Baru |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/20250724_Pengamat-Pariwisata-Kaltim-Syahrul-Karim-MSc.jpg)