Sabtu, 25 April 2026

Opini

Menjaga Denyut Ekonomi Perbatasan: Refleksi Peredaraan Rupiah di Kalimantan Utara

Akhir tahun selalu menjadi periode yang unik bagi lanskap ekonomi Indonesia, tidak terkecuali di Kalimantan Utara ( Kaltara ).

Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/IST/DOK PRIBADI
PENULIS: Dr. Ana Sriekaningsih,SE,STh,MM, Direktur Politeknik Bisnis Kaltara/ Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan BI 

Dengan masyarakat yang semakin paham, ketergantungan atau penggunaan mata uang asing di wilayah perbatasan (seperti Nunukan dan Sebatik) dapat diminimalisir, sehingga stabilitas ekonomi daerah tetap terjaga di bawah naungan mata uang tunggal, Rupiah. 

Meskipun penggunaan sistem nontunai terus didorong, ketergantungan pada uang tunai di akhir tahun tetap tinggi, yang menunjukkan bahwa ekonomi riil di pasar-pasar tradisional Kaltara masih sangat berdenyut kencang. 

Baca juga: Bank Indonesia Balikpapan Bakal Hadirkan Edukasi Cinta Rupiah di Mata Pelajaran PAUD hingga SMP

Dampak ekonomi dari sinergi antara ketersediaan likuiditas dan edukasi ini sangat terasa di Kaltara

Pertama, terjaganya kelancaran sistem pembayaran memastikan tidak ada hambatan dalam rantai pasok barang dan jasa. 

Kedua, masyarakat semakin terlindungi dari risiko peredaran uang palsu berkat meningkatnya pemahaman terhadap ciri-ciri keaslian uang. 

Ke depan, tantangan ekonomi wilayah ini akan semakin kompleks. Namun, dengan fondasi sistem pembayaran yang terjaga dan masyarakat yang semakin paham akan nilai Rupiah, kita boleh optimis bahwa stabilitas ekonomi Kaltara akan tetap kokoh di tengah transisi menuju ekonomi digital yang lebih inklusif. (*)

*) Direktur Politeknik Bisnis Kaltara/ Anggota Forum Komunikasi Akademisi Penulis Populer Kebijakan BI

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved