Opini
Pengaruh Sosial Media terhadap Perilaku Masyarakat
Belakangan ini saya amati maupun melihat dengan tidak sengaja, muncul di beranda akun sosial media, baik TikTok, Instagram, Facebook, dan Youtube.
Sedangkan di dunia maya, di Instagram, saya pernah melihat seseorang membuat sebuah konten yang agak aneh.
Tidak lazim. Karena ingin kontennya bisa viral, maka konten yang ia buat sebenarnya melanggar norma etika dan norma kepatutan.
Bayangkan ada seorang wanita yang sedang memasak air memakai kayu bakar.
Tiba-tiba seorang wanita yang sedang memasak air, sambil mengomel yang tidak jelas dan mimik yang serius, sebagai tanda orang marah menyiramkan air dalam panci yang sedang di atas tungku api tersebut ke seorang wanita tua yang diduga berperan sebagai ibu dari seorang wanita yang sedang memasak tersebut.
Panci air panas tersebut kemudian dilempar ke lantai.
Wanita tua tersebut menyeringai kesakitan sambil teriak-teriak “air panas…, air panas…, panas…, panas…. karena kepanasan, sambil duduk dan menggulingkan badan, kakinya digerak-gerakkan dan kedua tangannya mengusap-usap kedua kaki yang kepanasan.
Di ujung adegan, wanita tua tersebut sambil tertawa mengatakan, “tapi bohong”.
Si anak yang memasak tersebut juga mendekati ibu tua tersebut sambil tertawa.
Jelas ini hanya sebuah adegan pembuatan konten, agar kontennya viral, dibuat seakan-akan beneran.
Baca juga: 10 Provinsi dengan Perilaku Merokok Terendah di Indonesia, Kaltim Masuk 3 Besar
Memang latar belakang pembuatan konten sangat mendukung. Suasana dapur ala pedesaan, dan properti yang sudah tua, karena dimakan usia.
Celakanya video tersebut dipotong oleh beberapa akun lain dan diberi narasi “anak durhaka menyiram air panas ke ibunya yang sudah renta”, dan berbagai narasi lain, yang sudah jauh menyimpang dari konten awal.
Pada konten awal, penayangan video dimaksudkan buat konten “ngeprank” atau bohong-bohongan.
Sedangkan pada konten yang ditayangkan pada akun-akun yang lain, seolah kejadian tersebut benar-benar terjadi.
Banyak komentar netizen yang menyayangkan penayangan konten tersebut. Baik konten yang asli maupun konten yang sudah dipotong-potong.
Bahkan, para netizen meminta agar pembuat konten tersebut diusut. Berarti netizen merasa resah dengan munculnya konten tersebut.
| Pertamax Naik, Pukulan Telak Bagi Masyarakat Kelas Menengah |
|
|---|
| Memahami Modus Operandi Begal via Teori Pilihan Rasional dan Aktivitas Rutin |
|
|---|
| Membaca Pikiran Anderiy Syachrum: Kejutan Gerbong Baru, Kabinet Ramping, dan Formula Menuju PON 2028 |
|
|---|
| Benalu di Balik Jubah Suci |
|
|---|
| Koperasi Merah Putih: Jangan Terjebak pada Gedung, Bangunlah Ekosistemnya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Jauhar-Effendi-terbaru-y.jpg)