Opini
Pengaruh Sosial Media terhadap Perilaku Masyarakat
Belakangan ini saya amati maupun melihat dengan tidak sengaja, muncul di beranda akun sosial media, baik TikTok, Instagram, Facebook, dan Youtube.
Saya pernah melihat dan menyaksikan sendiri, seorang anak yang belum sekolah, memiliki kecanduan yang sangat tinggi terhadap perangkat gawai.
Anak tersebut adalah anak seorang pemilik rumah makan. Ini hanya kasuistis. Tidak berarti semua anak pemilik rumah makan berperilaku seperti itu.
Seorang anak yang memiliki ketergantungan terhadap perangkat gawai tentu saja sangat mengganggu perkembangan mental si anak.
Terjadi gangguan konsentrasi. Sulit untuk belajar. Mata juga bisa rusak. Karena penasaran, saya tanyakan kepada ibu dari si anak. Jawabnya membuat bulu kuduk saya berdiri.
Miris. “Anak saya itu hanya berhenti main hand phone, ketika mandi atau tidur”.
Jawaban ibu kandung yang spontan tersebut, saya coba kembangkan.
Artinya, waktu makan pun masih bisa main HP.
Bisa dibayangkan hampir semua waktu ketika bangun tidur sampai tidur kembali hanya dihabiskan untuk main gawai, hand phone atau telepon genggam.
Baca juga: Diskominfo Kaltim Ingatkan Internet Gratis Jangan Dipakai untuk Judol atau Sosmed Berlebihan
Di dunia nyata, perilaku anak yang seperti itu, kalau dia tumbuh menjadi orang dewasa bisa menjadi a-sosial.
Tidak sosial atau kurang bersosialisasi atau tidak membaur. Artinya sikap atau perilaku seseorang yang cenderung menarik diri dari interaksi sosial.
Tidak suka bergaul. Tidak peduli dengan norma dan kegiatan bersama di masyarakat.
Ciri orang a-sosial antara lain menghindari keramian. Lebih nyaman menyendiri.
Minim interaksi. Gak aktif nongkrong, ngobrol, atau gabung komunitas. Ciri lainnya, cuek urusan sosial.
Gak terlalu peduli acara warga, misalnya gotong royong, kerja bakti, dan kegiatan sosial lainnya.
Orang yang a-sosial bukan berarti jahat. Dia memang gak butuh banyak kontak sosial. Orang a-sosial, bukan berarti anti sosial.
| In Memoriam Sukri, Ketua JMSI Kaltim: Selamat Tinggal Sahabatku! |
|
|---|
| Menjaga Denyut Ekonomi Perbatasan: Refleksi Peredaraan Rupiah di Kalimantan Utara |
|
|---|
| Pengabdian Panjang di Titik Terakhir: Mundur dari Sekretaris YJI Kaltim setelah 24 Tahun Menjabat |
|
|---|
| Rupiah Bukan Sekadar Uang, Ini Makna Kedaulatan di Setiap Transaksi |
|
|---|
| Di Balik Pengangkatan Sekda Neneng Chamelia: Penerapan Manajemen Talenta untuk Promosi Jabatan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Jauhar-Effendi-terbaru-y.jpg)