Senin, 27 April 2026

Opini

Refleksi Hari Buku Sedunia: Minat Baca Masih Sangat Rendah

Mengapa buku itu penting? Sampai-sampai UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia dan sejak kapan Hari Buku Sedunia diperingati?

Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/IST/DOK PRIBADI
PENULIS: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps., Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim. 

Ketika menulis artikel ini, saya jadi teringat ketika buku novel “Laskar Pelangi”, yang ditulis oleh Andrea Hirata diterbitkan pertama kali pada Tahun 2005 oleh Penerbit Bentang Pustaka, Yogjakarta yang hampir 300 halaman. Dalam 3  hari selesai saya baca.

Bahkan, buku lanjutannya sebagai bagian dari Tetralogi Laskar Pelangi, yaitu “Sang Pemimpi”, “Edensor”, dan Maryamah Karpov semua saya beli.

Namun sayangnya buku-buku tersebut saat ini tidak satupun saya temukan, entah di mana.  

Sangking banyaknya kawan yang pinjam, sampai saya sendiri sebagai pemilik buku lupa, siapa yang meminjam terakhir kali.

Buku Laskar Pelangi secara singkat menggambarkan kisah nyata tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di Sekolah Muhammadiyah Belitung yang penuh keterbatasan.

Mereka, termasuk Andrea Hirata sekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP. Mereka, menamakan dirinya sebagai Laskar Pelangi.

Kalau melihat realita sehari-hari, nampaknya minat membaca buku di Indonesia masih relatif rendah.

Baca juga: Minat Baca Kalimantan Timur: Peringkat 19 Nasional, Mahakam Ulu Terendah

Ini terbukti jika dibandingkan dengan negara-negara di dunia, Indonesia masih tergolong rendah.

Kepala Perpustakaan Nasional, Aminuddin Azis, menyampaikan data bahwa rata-rata waktu yang dihabiskan masyarakat Indonesia untuk membaca buku per tahun hanya 129 jam (periskop.id/nasional. Diakses tanggal 26 April 2026, pukul 10.57 Wita).  

Lebih lanjut, ia menilai budaya baca warga di Tanah Air masih sangat rendah.

Bayangkan Indonesia dengan India saja sudah kalah jauh.

Budaya baca warga India per tahun 352 jam. India meraih peringkat kedua dunia, setelah Amerika Serikat yang 357 jam.

Di Negara Tetangga, misalnya Singapura menghabiskan waktu 155 jam untuk baca buku per tahun.

Dengan Thailand saja kita kalah. Thailand menghabiskan waktu untuk membaca 149 jam per tahun (data diambil dari CEOWROLD Megazine 2024, berdasarkan survey pada 102 negara).

Maka pantaslah dalam beberapa hal kemajuan Indonesia kalah dengan Thailand, misalnya di bidang pertanian.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved