Senin, 27 April 2026

Opini

Refleksi Hari Buku Sedunia: Minat Baca Masih Sangat Rendah

Mengapa buku itu penting? Sampai-sampai UNESCO menetapkan tanggal 23 April sebagai Hari Buku Sedunia dan sejak kapan Hari Buku Sedunia diperingati?

Editor: Sumarsono
TRIBUNKALTIM.CO/IST/DOK PRIBADI
PENULIS: Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps., Widyaiswara Ahli Utama BPSDM Kaltim. 

Tema Peringatan Hari Buku Sedunia Tahun 2026 adalah “Read Your Way”.

Tema ini sangat menarik, karena memberikan kebebasan kepada setiap individu untuk menikmati bacaan sesuai selera masing-masing.

Tema ini memberikan pesan penting kepada kita semua bahwa membaca buku itu tidak harus kaku atau formal.

Minat Baca Jauh Dibandingkan Buka Medsos

Membaca buku tidak harus menghadirkan secara fisik sebuah buku. Apalagi di tengah perkembangan teknologi komunikasi dan informasi.

Minat membaca buku di Indonesia sangat berbeda jauh dibandingkan dengan minat membuka media sosial (medsos).

Dalam satu hari warga masyarakat Indonesia rata-rata hanya menghabiskan waktu baca buku selama 21 menit.

Sementara waktu yang dihabiskan untuk melihat medsos per hari 3 jam 14 menit atau 194 menit.

Berarti dalam waktu satu tahun masyarkat Indonesia menghabiskan waktu di medsos sebanyak 1.181 jam atau setara dengan 43 hari non-stop.

Indonesia berada pada peringkat ketiga dunia dalam hal menghabiskan waktu untuk bersosial media.

Baca juga: 5 Daerah di Kalimantan Timur dengan Minat Baca Terendah versi BPS

Jadi tantangan kita terbesar adalah bagaimana Pemerintah dalam semua tingkatan lebih mendorong meningkatkan literasi baca buku, karena data menunjukkan di negara-negara maju, budaya membaca buku sangat tinggi dibandingan dengan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Selain itu, tingkat korupsi di negara-negara yang tinggi minat bacanya jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara yang minat bacanya rendah.

Idealnya kalau kita misalnya sebagai seorang sarjana ekonomi, maka harus memiliki buku-buku tentang ekonomi sampai ratusan buku.

Kalau sarjana pemerintahan, di rumah harus memiliki buku-buku tentang pemerintahan ratusan judul buku.

Jika sarjana sastra harus memiliki buku-buku tentang kesusastraan ratusan judul buku. Demikian seterusnya.

Tentu saja ini belum cukup. Berdasarkan pengalaman, untuk menumbuhkan minat baca buku pada masa anak-anak harus dibelikan buku sesuai dengan usianya.

Anak seusia 6-7 tahun tidak mungkin tertarik, misalnya membaca buku “budidaya ikan lele” atau “analisis hasil usaha tani pepaya”.

Biarkan mereka berkembang dengan imajinasinya. Belikan buku yang banyak gambarnya, dibandingkan teksnya.

Tetapi tentu saja kalau sudah remaja atau bahkan dewasa, tidak cocok lagi membaca buku komik yang lebih banyak gambarnya daripada narasinya. (*)

*) PENULIS adalah: Mantan Kepala Biro Humas dan Kepala Diskominfo, serta mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan mantan Pjs. Bupati Kutai Timur.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved