OPINI
Mari Berikan Kesempatan
Panggung percakapan publik di Kalimantan Timur belakangan ini menyerupai sebuah teater yang penuh ketegangan
Mari kita membedah melalui variabel psikologi pimpinan sebagai pengusaha sukses di usia 44 tahun sebagai fase puncak produktivitas dan ego kognitif. Kita menemukan data bahwa adanya dominasi logika korporasi (corporate logic) yang mengakar sebagai konsekuensi logis sekian lama berkecimpung di dunia bisnis.
Usia produktif ini sering kali dibarengi dengan keyakinan intelektual yang tinggi. Gaya bahasa instruktif, efisien, dan pragmatis dunia bisnis sering kali dipaksakan masuk ke dalam kanal birokrasi yang bersifat simbolis, protokoler, dan penuh etika kepantasan. Logika korporasi mementingkan hasil, namun logika publik mementingkan rasa dan empati.
Melalui analisis struktur wacana, tidak ditemukan adanya mens rea (niat jahat) untuk melakukan penghinaan terhadap tokoh tertentu atau merendahkan rakyat. Yang terjadi adalah sebuah actus reus (perbuatan) yang lahir dari ketidakpekaan bahasa (linguistic insensitivity).
Ini merupakan akibat dari transisi habitus (kebiasaan) yang belum tuntas dari dunia bisnis yang ekspresif ke karakter pejabat publik yang seharusnya penuh kehati-hatian (prudence).
Ruang Pendewasaan bagi Pemimpin
Tanpa bermaksud mendegradasi semangat publik mengoreksi kinerja pimpinan, kita perlu memberikan kesempatan bagi pimpinan daerah untuk belajar dan berbenah.
Selama tidak berurusan dengan aspek hukum, rasanya kita perlu memberi ruang pemaafan. Kita harus menyadari bahwa kepemimpinan publik merupakan sebuah proses pendewasaan diri yang terus-menerus dan penuh dengan ujian dialektika.
Rentetan blunder linguistik ini janganlah dipandang semata sebagai kegagalan permanen. Ini merupakan fase inisiasi yang menyakitkan dalam transisi menjadi negarawan sejati. Kedewasaan kepemimpinan tidak lahir secara instan di atas kursi kekuasaan.
Kedewasaan ditempa melalui kritik pedas, refleksi mendalam, dan kesediaan untuk mendengarkan frekuensi kebatinan rakyat.
Masyarakat yang bijak tentu akan memberikan ruang bagi pemimpinnya terus belajar dari kesalahan. Inilah saatnya pimpinan menunjukkan bahwa permohonan maaf yang disampaikan bukan sekadar basa-basi politik. Silakan tunjukkan komitmen untuk menundukkan ego kognitif demi kepentingan besar rakyat Benua Etam.
Baca juga: Apa Itu Hak Angket yang Disepakati 7 Fraksi DPRD Kaltim untuk Gubernur Rudy Masud? Ini Penjelasannya
Titik Klimaks: Belajar dari Momentum Aksi 214
Kita sebenarnya telah melihat titik terang dari sebuah ‘pemutarbalikan alur’ pada momentum Aksi 21 April 2026 yang lalu. Aksi yang semula diprediksi akan menjadi gelombang destruktif bagi stabilitas daerah, justru berakhir dengan sangat lancar, aman, dan terkendali.
Mengapa hal itu bisa terjadi? Secara linguistik, kesuksesan itu terjadi karena adanya transisi komunikasi yang lebih tertata pada detik-detik akhir. Keberhasilan mengelola Aksi 214 menjadi bukti nyata bahwa ‘kekuatan kata’ yang terukur mampu menata ‘kekuatan massa’.
Momentum ini harus menjadi standar baru (blue print) dalam navigasi komunikasi publik Kaltim ke depan. Aksi 214 membuktikan bahwa pimpinan mampu menjadi protagonis jika mau menggunakan frekuensi yang sama dengan suara rakyat. Ini menjadi bukti bahwa stabilitas daerah bergantung pada seberapa jernih narasi yang diproduksi oleh pimpinan daerah.
Oleh karena itu, perlu disadari bersama bahwa Kaltim kini menjelma radar baru seiring perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN). Setiap pernyataan pejabat di sini meresonansi hingga ke pusat kekuasaan di Jakarta, bahkan dipantau oleh radar internasional.
| Refleksi Hari Buku Sedunia: Minat Baca Masih Sangat Rendah |
|
|---|
| Navigasi BI di Tengah Badai Geopolitik: Mengapa 4,75 Persen adalah Angka Aman? |
|
|---|
| BBM Naik, Harga Mengguncang: Belajar dari Iran, Membangun Kemandirian Kalimantan |
|
|---|
| Kegagalan Konduktor: Kemenangan Mahasiswa dan Rakyat Kaltim |
|
|---|
| Kartini Masa Kini: Ketika Perempuan Memilih Berdiri di Atas Kakinya Sendiri |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kaltim/foto/bank/originals/Ali-Kusno-Ahli-Bahasa-Kaltim.jpg)