Senin, 11 Mei 2026

Opini

Hari Palang Merah Dunia: Terjadi Degradasi Nilai Kemanusiaan?

Setiap tanggal 8 Mei, masyarakat dunia memperingati Hari Palang Merah Internasional. Tema peringatan pada Tahun 2026 ini adalah “United in Humanity”.

Tayang:
HO/PRIBADI
Dr. Drs. Moh. Jauhar Efendi, M.Si., CH.Ps, Koordinator Widyaiswara BPSDM Kaltim. Mantan Camat Babulu dan Penajam, mantan Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Prov Kaltim, dan mantan Pjs. Bupati Kutai Timur. (HO/PRIBADI) 

Misalnya menjenguk tawanan perang. Mencari orang hilang. Negosiasi akses kemanusiaan.

Mengingatkan pihak yang bertikai, soal hukum perang. Sifatnya netral, imparsial, independen. Karena itu, bisa masuk ke daerah perang, yang pihak lain tidak bisa masuk.

Jadi kalau ada bencana alam, seperti gempa bumi, banjir, tanah longsor, sunami, wabah covid-19, yang turun membantu adalah Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah.

Anggotanya ada 191 Palang Merah Nasional, termasuk Palang Merah Indonesia (PMI). Sedangkan kalau ada peperangan, maka yang maju memberikan bantuan adalah ICRC atau Komite Internasional Palang Merah.

Misalnya konflik perang di Gaza, Ukraina atau Sudan.

Saat ini perang antar negara sudah menggunakan persenjataan yang canggih. Sasaran serangan bukan hanya manusia, tetapi instalasi-instalasi penting yang strategis, yang dimiliki oleh sebuah negara.

Pengeboman juga bisa menggunakan fasilitas drone yang juga memiliki kemampuan canggih untuk menetapkan sasaran yang tepat.

Kerugiannya juga sangat besar. Bayangkan saja kalau fasilitas produksi kilang minyak dibombardir, tentu menyebabkan kebakaran yang hebat dan berhari-hari api gak bisa dipadamkan, serta kerugian materiil yang sangat besar.  

Pada era global ini nilai-nilai kemanusiaan sudah mulai luntur. Mengalami degradasi alias penurunan. Termasuk di Indonesia.

Ada masalah-masalah kecil yang harus segera diselesaikan, malah melebar kemana-mana, sehingga masalah tersebut menjadi besar dan sulit untuk diatasi atau diselesaikan.

Kemampuan menahan diri secara individual juga mengalami penurunan.

Nampak di permukaan,  baik dilihat dari perilaku penguasa maupun warga masyarakat malah mulai terbawa budaya hedon.

Mengejar kesenangan dan kenikmatan duniawi yang hanya bersifat sementara atau sesaat. Hutan dibabat secara besar-besaran dengan dalih mengejar target pengembangan perkebunan kelapa sawit.

Itu  terjadi dimana-mana. Penggalian tambang batu bara mengabaikan  ekosistem. Keseimbangan alam diabaikan.

Akibatnya banjir dan tanah longsor terjadi dimana-mana. Semua itu akibat perilaku serakah dan tamak yang menguasai nafsu manusia.

Rasa empati terhadap orang yang mendapatkan musibah dan penderitaan mengalami penurunan yang luar biasa.

Begitu juga budaya permisif terhadap perilaku atau tindakan menyimpang terus ditoleransi atau dibiarkan.

Dampaknya dalam jangka panjang akan terjadi penyimpangan secara besar-besaran.

Contoh konkrit perilaku koruptif dalam berbagai sektor kehidupan, yang seakan tiada habisnya.

Penangkapan pelaku tindak pidana korupsi yang begitu masih tidak dijadikan bahan renungan agar tidak melakukan tindakan serupa.

Begitu juga penangkapan pengguna atau pemakai, agen atau distributor dan pembuat narkotika nampaknya juga tidak membuat jera orang agar tidak melakukan hal serupa.

Saatnya Pemerintah melakukan pendekatan lain dalam menangani sebuah perkara. Pendekatan kemanusian juga perlu dikedepankan terutama terkait kasus penyalahgunaan narkotika.

Terakhir perlu campur tangan Pemerintah  untuk mendukung kerja-kerja kemanusiaan dari Palang Merah Indonesia.

Tugas relawan PMI dari hari ke hari semakin berat.

Peristiwa bencana alam maupun bencana yang bukan disebabkan oleh alam semakin hari semakin meningkat, seperti kasus kebakaran, yang hampir terjadi di mana-mana di sentero Indonesia.

Sumber: Tribun Kaltim
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved